Akankah Perpecahan YouTube dan Billboard Rugikan K-Pop?

Boy group K-pop Stray Kids. (x.com/Stray_Kids)

JAKARTA, WongKito.co – Seiring YouTube bersiap untuk berhenti menyediakan data streaming ke tangga lagu Billboard mulai 16 Januari 2026, kekhawatiran mulai muncul di industri K-pop terkait dampak perubahan ini dapat memengaruhi kinerja tangga lagu genre tersebut, terutama di Amerika Serikat.

YouTube mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi memberikan data streaming, termasuk jumlah penayangan dari aplikasi YouTube Music, kepada Billboard. Langkah ini diambil di tengah perselisihan mengenai semakin besarnya penekanan Billboard pada streaming berlangganan berbayar.

Meski tangga lagu Billboard mempertimbangkan berbagai metrik, termasuk penjualan album, pemutaran di radio, dan streaming di berbagai platform, para pelaku industri sepakat bahwa K-pop adalah genre yang paling rentan terhadap hilangnya data dari YouTube.

Sejak “Gangnam Style” milik Psy pada 2013, jumlah penonton di YouTube menjadi faktor penting dalam meningkatkan popularitas artis K-pop di tangga lagu Billboard.

Selama satu dekade terakhir, video musik yang kaya visual dan fandom global yang sangat aktif memungkinkan grup K-pop mengumpulkan angka streaming yang sering kali melampaui artis asal Amerika Serikat di YouTube, meskipun pengakuan mereka di dalam negeri belum sebesar itu.

Meskipun jumlah streaming YouTube tidak pernah menjadi satu-satunya penentu peringkat Billboard, jumlah tersebut memiliki bobot yang cukup untuk memengaruhi posisi tangga lagu, terutama dalam persaingan ketat.

Para pelaku industri mengatakan, jika data YouTube sepenuhnya dikecualikan dari perhitungan Billboard, penurunan peringkat tangga lagu dalam jangka pendek untuk banyak artis K-pop kemungkinan akan terjadi.

“Artis K-pop cenderung mencatatkan jumlah penayangan YouTube yang sangat tinggi, dan itu jelas berkontribusi pada performa tangga lagu mereka di Billboard,” kata kritikus musik Lim Hee-yun, dilansir dari The Korea Herald.

“Kita tidak tahu persis seberapa besar bobot data YouTube dalam perhitungan Billboard, sehingga sulit membuat prediksi yang tepat,” ujarnya.

“Tetapi bahkan di AS, memang benar bahwa beberapa artis K-pop menghasilkan angka YouTube yang lebih tinggi daripada artis lokal meskipun pengakuan nama mereka lebih rendah. Dalam hal ini, perubahan tersebut akan merugikan K-pop,” lanjutnya.

Lim Hee-yun menambahkan, agensi dapat merespons dengan memberikan penekanan lebih besar pada pemutaran radio, salah satu dari tiga metrik utama Billboard, selain penjualan dan streaming.

“Pada akhirnya, seberapa sering lagu K-pop diputar di radio Amerika Serikat bisa menjadi faktor yang lebih menentukan,” kata Lim.

“Namun hal ini hanya bisa dicapai secara realistis oleh satu atau dua agensi besar di industri K-pop. Perusahaan seperti HYBE atau JYP Entertainment, yang memiliki anak perusahaan di AS, kerja sama dengan label Amerika, atau sumber daya untuk menjalankan kampanye pemasaran lokal berskala besar akan diuntungkan.”

Ia memperingatkan bahwa perubahan ini bisa memperlebar kesenjangan antara agensi besar dan menengah.

“Dulu, bahkan agensi kecil yang tidak memiliki jaringan kuat di AS masih punya kesempatan jika kinerjanya di YouTube dari Korea bagus,” kata Lim.

“Kesempatan itu kini bisa berkurang. Idol dari agensi besar mungkin akan semakin unggul, sementara artis dari perusahaan kecil akan lebih sulit bersaing, sehingga menimbulkan polarisasi yang lebih besar dalam industry,” jelasnya.

Untuk saat ini, sebagian besar agensi K-pop mengambil pendekatan menunggu dan melihat daripada terburu-buru menyesuaikan strategi mereka. Dampak sebenarnya baru akan terlihat jelas setelah kebijakan tersebut berlaku dan hasil tangga lagu mulai mencerminkan ketiadaan data YouTube.

“Kita harus menunggu dan melihat bagaimana perubahan ini berjalan. Kita perlu melihat bagaimana hasil streaming para artis nantinya,” kata seorang eksekutif di salah satu agensi K-pop.

“Perubahan ini tidak hanya memengaruhi artis K-pop, semua artis global terdampak dengan cara yang sama, sehingga tidak berarti K-pop akan berada dalam posisi yang lebih dirugikan. Namun, hal ini tetap bisa memengaruhi kemampuan artis K-pop untuk masuk ke tangga lagu.”

Seorang pakar industri lainnya mengatakan bahwa efeknya dapat sangat bervariasi tergantung pada artisnya. “Sampai kita melihat hasil yang konkret, sulit untuk memutuskan bagaimana harus merespons,” kata seorang pejabat hiburan.

“Beberapa artis yang sudah berkinerja baik di platform seperti Spotify atau layanan streaming global lainnya mungkin tidak terlalu terpengaruh. Strategi balasan apa pun kemungkinan akan bergantung pada kekuatan artis tersebut.”

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 8 Januari 2025.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories