BucuKito
Aksi Hari Bumi, Banjir Palembang jadi Alarm Krisis Iklim
PALEMBANG, WongKito.co — Momentum Hari Bumi dimanfaatkan puluhan aliansi anak muda di Palembang untuk menyuarakan krisis iklim yang dinilai kian nyata dirasakan masyarakat, terutama setelah banjir besar melanda kota selama dua hari terakhir.
Sebanyak 19 organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil turun ke jalan, memulai aksi dari Bundaran Air Mancur hingga berakhir di depan Monumen Ampera. Mereka membawa poster, melakukan pawai, serta aksi simbolik dengan membagikan tanaman kepada pengguna jalan.
Koordinator aksi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Galang, menegaskan bahwa kondisi lingkungan di Palembang tidak lagi bisa dianggap normal.
“Kami ingin menyampaikan kepada pemerintah daerah hingga dunia internasional bahwa kondisi Palembang sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya, saat peringatan Hari Bumi di Kota Palembang, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga:
- BRI Dorong Ekonomi Perbatasan Lewat Peresmian Money Changer di Motaain
- Wastra Nusantara dari UMKM Diopeni Berhasil Tembus Pasar Lebih Luas Bersama BRI
- BI Sumsel bersama ISEI menginisiasi Policy Talks dalam rangka Road to 3rd SEF
Aksi ini juga menyoroti dampak langsung krisis iklim yang dirasakan warga. Hujan deras dalam dua hari terakhir menyebabkan banjir di berbagai wilayah kota, dengan ketinggian air dilaporkan mencapai sepinggang orang dewasa di sejumlah titik.
Menurut Galang, peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa krisis iklim telah memperburuk persoalan tata kelola lingkungan perkotaan, termasuk sistem drainase dan berkurangnya kawasan resapan air.
“Kota Palembang banjir. Ini bukan kejadian biasa, tapi alarm bahwa krisis iklim sudah di depan mata,” katanya.
Massa aksi kemudian bergerak ke Kantor Wali Kota Palembang untuk menyampaikan tuntutan dan melakukan audiensi dengan perwakilan pemerintah kota. Dalam pertemuan tersebut, mereka mendesak sejumlah langkah konkret, di antaranya penyediaan ruang terbuka hijau minimal 30 persen, pemulihan fungsi rawa seluas 2.136 hektare sebagai area resapan, serta pembangunan kolam retensi dan perbaikan sistem drainase.
Selain itu, mereka juga menuntut penguatan mitigasi bencana banjir, termasuk penyediaan posko siaga, sistem peringatan dini, hingga penertiban bangunan yang menutup kawasan resapan air.
Baca Juga:
- Mengenal Sosok Berprestasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi
- Riset CISDI: 10 Tahun Cukai Naik, Rokok Tetap Murah di RI
- BRILink Agen Miya Kini Layani Ribuan Transaksi Keuangan
Aksi ini turut diiringi rencana lanjutan berupa pembagian 2.026 bibit pohon ke sejumlah kampus dan kegiatan penanaman serta pembersihan sampah di ruang publik.
Pemerintah Kota Palembang menyatakan akan menampung aspirasi tersebut dan mengevaluasi kebijakan penanganan banjir serta pengelolaan lingkungan. Namun hingga kini, warga di sejumlah wilayah masih terdampak genangan, sementara hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi.
Aksi Hari Bumi ini menjadi pengingat bahwa dampak krisis iklim tidak lagi bersifat abstrak, melainkan telah dirasakan langsung oleh masyarakat Sumatera Selatan, terutama melalui bencana banjir yang kian sering terjadi, di Kota Palembang.(Magang/Siti Sundari)

