Dry Ice Dinilai Sebabkan Efek Rumah Kaca? Simak Penjelasan Pakar Fisika

Potret buram udara Kota Palembang pada pukul 09.15 WIB di kawasan Simpang 5 DPRD Sumsel, Selasa (20/10/2026) (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

PALEMBANG, WongKito.co - Sejak disosialisasikan penyemaian dry ice atau es kering untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan, pekan lalu banyak pendapat yang beredar, salah satunya menyebabkan efek rumah kaca.

Penyemaian es kering tersebut, dijelaskan pemerintah mulai berlangsung pada Kamis (15/10/2026) dan akan dilaksanakan selama 10 hari.

Namun, penyemaian es kering tersebut menuai ramai pendapat netizen, termasuk yang mengungkapkan sekarang udara menjadi lebih panas sehingga bikin gerah, pendingin ruangan sudah tidak berfungsi lagi.

Baca Juga:

Merespons hal tersebut, tim WongKito.co, Selasa (20/10/2026) menghubungi Pakar Fisika dari Universitas Bengkulu, DR.Liza Lidiawati untuk menanyakan bagaimana sebenarnya klaim efek rumah kaca terhadap penerapan es kering untuk mengatasi karhutla.

"Secara langsung tidak ada kaitannya, karena metode dry ice (es kering) dalam penanganan karhutla justru bekerja dengan memanfaatkan prinsip yang berkebalikan dari mekanisme efek rumah kaca," kata Liza disampaikan melalui sambungan aplikasi percakapan online.

Dia menjelaskan perbedaan cara kerja efek rumah kaca dan es kering justru merupakan fenomena terbalik.

Menurut dia efek rumah kaca, terjadi ketika gas-gas di atmosfer, seperti karbon dioksida hasil kebakaran memerangkap panas matahari di dekat permukaan bumi, sehingga suhu bumi menjadi lebih hangat.

Sedangkan metode dry ice dalam karhutla yang saat ini sedang diuji coba oleh pemerintah, justru bertujuan untuk membongkar lapisan inversi atau efek "tutup panci" yang memerangkap kabut asap pekat di lapisan bawah atmosfer, ujar dia.

Liza menjelaskan dry ice bersuhu ekstrem yang mencapai minus 78,5°C, disemai untuk memberikan pendinginan lokal secara instan.

Dimana efek dingin ini mengganggu stabilitas udara, melabilkan atmosfer, sehingga asap yang tadinya terperangkap di bawah bisa bergerak naik dan menyebar bebas ke atmosfer atas, jelas dia.

Baca Juga:

Lalu kaitannya dengan metode efek rumah kaca, dia menjelaskan karena ada bahan kimia berupa karbon dioksida. Senyawa inilah satu-satunya kaitan materiil adalah bahan dry ice yang dipadatkan.

"Kita tahu bahwa karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang memicu pemanasan global. Namun, volume dry ice yang disemai dalam operasi modifikasi cuaca ini jumlahnya sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan triliunan ton gas rumah kaca di atmosfer bumi, atau bahkan jika dibandingkan dengan volume gas karbon dioksida yang dilepaskan oleh kebakaran hutan itu sendiri," kata Liza.

Dengan demikian ia mengatakan metode dry ice ditujukan untuk rekayasa cuaca jangka pendek agar kabut asap beracun di permukaan tanah segera terurai, meningkatkan jarak pandang, dan membuka jalan bagi masuknya sinar matahari guna memicu pembentukan awan hujan.

"Metode ini tidak dirancang untuk memengaruhi atau memperburuk efek rumah kaca global," kata Liza.(ert)

Editor: Nila Ertina
‌‌
‌‌

Related Stories