Bisa Hemat Rp20 Triliun, Ini Fakta Skema Baru MBG

MBG di Balikpapan Dipastikan Tak Bebani APBD (ist)

JAKARTA - Pemerintah melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi anggaran sekaligus menjaga keberlanjutan program di tengah dinamika ekonomi global.

Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada penghematan, tetapi juga optimalisasi distribusi dan kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat. Penyesuaian tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada April 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam meningkatkan efektivitas program sosial.

“Pemerintah mendorong optimalisasi program MBG dengan penyesuaian bagi daerah dengan tingkat stunting tinggi dengan potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp20 triliun.” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip Minggu, 5 April 2026.

Baca juga:

Pernyataan tersebut menegaskan penyesuaian MBG tidak hanya berorientasi pada efisiensi anggaran, tetapi juga pada dampak jangka panjang terhadap perbaikan gizi masyarakat.

Fakta Skema Baru MBG

  • Berlaku mulai April 2026
  • Hari sekolah: 5 hari untuk anak sekolah (Senin–Jumat)
  • Ibu hamil, menyusui, dan balita tetap 6 hari
  • Daerah tertentu mendapat penyesuaian distribusi

Pemerintah menyesuaikan frekuensi distribusi makanan untuk anak sekolah menjadi lima hari dalam seminggu. Sementara itu, kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap mendapatkan layanan enam hari. Distribusi juga akan disesuaikan untuk daerah khusus, termasuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan daerah dengan tingkat stunting tinggi.

Perbedaan Skema Penyajian Berdasarkan Wilayah

  • Daerah 3T: makanan kering (susu, biskuit, dll)
  • Non-3T: makanan segar (fresh food)

Penyesuaian dilakukan untuk mengatasi tantangan logistik dan menjaga kualitas makanan. Di wilayah 3T, makanan kering dinilai lebih efektif karena daya tahan lebih lama. Sebaliknya, di wilayah non-3T, distribusi makanan segar tetap dipertahankan guna memastikan asupan gizi optimal bagi penerima manfaat.

Potensi Penghematan Capai Rp20 Triliun

  • Estimasi penghematan: Rp20 triliun per tahun
  • Bersumber dari efisiensi distribusi dan operasional
  • Tetap menjaga kualitas gizi program

Berdasarkan data pemerintah, penyesuaian ini berpotensi menghemat hingga Rp20 triliun setiap tahunnya. Angka ini berasal dari optimalisasi rantai distribusi dan efisiensi biaya operasional.

Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa efisiensi tidak akan mengorbankan kualitas gizi yang menjadi tujuan utama program MBG.

Upaya Peningkatan Kualitas Jadi Prioritas

  • Penghematan operasional mitra
  • Penguatan data gizi dan wilayah
  • Standarisasi kualitas makanan

Selain efisiensi, pemerintah juga memperkuat kualitas program melalui peningkatan standar gizi nasional dan penggunaan data yang lebih akurat untuk distribusi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran.

Kebijakan penyesuaian program MBG menunjukkan arah baru pemerintah dalam mengelola anggaran secara lebih adaptif. Dengan pendekatan berbasis data dan kondisi wilayah, program ini diharapkan tetap efektif dalam meningkatkan gizi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal negara.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 05 Apr 2026 

Bagikan

Related Stories