BucuKito
Bukit Batu Putri, Wisata Alam Memesona di Tengah Pusaran Tambang Batu Bara
UDARA dini hari terasa menusuk kulit ketika para pendaki mulai berdatangan ke pos registrasi Bukit Batu Putri, di Desa Padang, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Suasana masih gelap. Hanya lampu kendaraan dan cahaya senter yang sesekali memecah pekatnya malam. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 WIB ketika proses registrasi dimulai. Satu per satu pendaki bersiap memulai perjalanan menuju puncak Bukit Batu Putri atau biasa juga disebut Beteri.
Setiap pendaki wajib membayar tarif registrasi sebesar Rp10.000 per orang.
Sekitar pukul 04.30 WIB, Aku dan rombongan yang totalnya mencapai 15 orang, berjalan menuju pintu rimba. Dengan bantuan cahaya senter dari telepon genggam, kami melangkah perlahan menyusuri jalur setapak yang mulai menanjak. Udara dingin bercampur kabut tipis menyelimuti perjalanan menuju puncak.
Bukit Batu Putri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam favorit di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Bukit dengan ketinggian sekitar 505 meter di atas permukaan laut (mdpl), bak fatamorgana di tengah eksploitasi besar-besaran batu bara di kawasan Merapi. Ada wisata alam nan memesona, yang setiap akhir pekan atau tanggal merah dipadati pendaki.
Baca Juga:
- Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Gelar Edukasi Gizi bagi Ibu dan Balita
- IHSG pada 13 Mei 2026 Ditutup Turun Hampir 2 Persen
- Ekspansi 5G Terus Diperluas, Pendapatan XLSMART Tumbuh 38 Persen
Hamparan perbukitan hijau, kabut tipis yang menyelimuti lembah, hingga pemandangan matahari terbit menjadi alasan banyak orang rela mendaki sejak dini hari demi mencapai puncaknya.
Bukit Batu Putri berdekatan dengan berapa bukit, seperti Bukit Batu Putri dan Bukit Selero yang merupakan gugusan dari Bukit Barisan Sumatera yang membentang dari Aceh hingga Lampung.
Nama Bukit Putri sendiri dipercaya berasal dari cerita masyarakat sekitar tentang seorang putri yang dahulu sering datang ke kawasan tersebut. Kisah itu terus hidup sebagai cerita turun-temurun warga setempat dan menjadi bagian dari daya tarik. Selain keindahan alamnya, bukit ini juga dikenal memiliki jalur pendakian yang cukup menantang, terutama ketika musim hujan tiba.
Jalurnya Ekstrem
Jalur pendakian Bukit Batu Putri dikenal ekstrem, meskipun ketinggiannya tergolong sedang-sedang saja, tetapi untuk mendaki dan turun dari puncak bukit pendaki perlu usaha ekstra, harus kuat dan konsentrasi karena memang jalurnya menanjak dan curam, karenanya tak heran pengelola kawasan wisata alam itu memasang tali-tali di jalur ekstrem untuk membantu pendaki.
"Aku gak menyangka, kalau jalurnya seekstrem ini," kata seorang pendaki.
Bulan April intensitas hujan masih sangat tinggi, membuat jalur pendakian menjadi licin dan berlumpur. Tanah basah serta bebatuan yang licin memaksa para pendaki untuk ekstra berhati-hati dengan konsentrasi penuh saat melangkah.
Tali-tali yang terpasang di jalur pendakian menjadi alat bantu penting, terutama ketika kondisi tanah masih basah setelah hujan. Banyak pendaki harus menarik tubuh mereka perlahan sambil menggenggam tali dengan kuat agar tidak terpeleset jatuh ke bawah.
Namun, perjuangan sekitar 2 jam menuju puncak Bukit Batu Putri terbayar lunas, saat pendaki berada di puncaknya, hamparan hijau bukit barisan dan udara yang semilir dingin menciptakan rasa nyaman, usai melalui berbagai rintangan saat mendaki.
Umumnya, pendaki berkemah atau banyak juga yang pulang pergi pada hari yang sama atau biasa disebut "tektokan", dengan sebelumnya terlebih dahulu merenung dan mengabdikan lukisan alam karya yang maha kuasa tersaji di depannya.
Jajan Es di Puncak
Bagiku saat berkunjung ke kawasan Merapi, Lahat kesan pertamanya adalah udara yang panas dan berdebu. Iya, karena memang desa-desa yang sebelumnya kekunjungi berada di lingkar tambang batu bara. Tak jauh dari Bukit Batu Putri.
Namun, ketika berada di puncak bukit, pikiranku berubah, ternyata masih ada tempat sebagus ini, dan mudah-mudahan masih dipertahankan jangan sampai menjadi tambang batu bara.
Di puncak bukit, ternyata seperti tempat wisata alam lainnya, juga ditemukan penjual makanan dan minuman. Bahkan, beberapa kawanku membeli es cekek di puncak bukit, ada yang jual es ternyata ya.
Setelah sekitar 2 jam berada di puncak, kami pun mulai bersiap turun dan meninggalkan destinasi alam yang sungguh memesona meskipun lumayan "effort" untuk tiba di sana.
Saat turun, ternyata jalur terasa cukup berat, tetapi suasana hangat justru terasa sepanjang perjalanan. Solidaritas antarpendaki tampak begitu kuat. Ketika ada yang kesulitan melewati jalur licin atau mulai kelelahan, pendaki lain tanpa ragu memberikan bantuan.
“Pegang tangan kakak sini, pelan-pelan aja,” ujar seorang pendaki sambil membantu rekannya melewati tanjakan curam.
Pemandangan seperti itu menjadi hal biasa di Bukit Batu Putri.
Banyak pendaki yang sebelumnya tidak saling mengenal berubah menjadi teman seperjalanan karena sama-sama berjuang mencapai puncak, dan kembali turun dengan selamat.
Di tengah perjalanan turun banyak pendaki yang sengaja beristirahat sembari men-recharge tenaga dengan minum dan menikmati cemilan. Di shelter 2 saat turun, ternyata ada pedagang yang sudah siap melayani pendaki yang kehausan dan kelaparan.
Dialah Yati bersama suami dan anaknya berjualan di shelter 2, ia menjual minuman, mulai dari kopi, es sirup dan juga makana, seperti pempek dan mi instan.
Yati bercerita biasanya hanya berjualan pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional. Berjualan di jalur pendakian dan di tengah kebun kopi, omzet penjualan mereka bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari.
Harga makanan dan minuman tergolong masih terjangkau, satu sachet kopi baik hangat atau dingin dengan tambahan es batu dijual seharga Rp10 ribu.
Rute dari Palembang
Bagi aku dan kawan-kawan yang kebetulan sedang melaksanakan tugas kuliah di Desa Muara Maung, Merapi Barat, dan bermukim beberapa malam, tentunya tinggal diantar ke desa pintu masuk Bukit Batu Putri bisa langsung bersiap mendaki.
Sedangkan, bagi yang ingin datang langsung dari Kota Palembang, sebenarnya ada sejumlah jasa memfasilitasi pendakian ke Bukit Batu Putri yang bisa jadi pilihan, open trip biasanya di diumumkan oleh penyelenggara melalui media sosial.
Lalu, bagaimana kalau ingin menggunakan angkutan umum?. Dari Palembang bisa menggunakan jasa travel atau angkutan umum minibus dengan trayek ke Lahat, bisa turun di Patung Gajah Desa Peranggai. Selanjut, dapat menggunakan jasa ojek untuk sampai ke lokasi Desa Padang.
Sebagian pendaki juga banyak menggunakan kereta api ekonomi, dari Stasiun Kertapati dan turun di Stasiun Muara Enim atau di Stasiun Lahat untuk kemudian menyambung angkutan sewa mobil atau ojek motor.(Magang/Luthfiah Revalina/ert)

