Ekonomi dan UMKM
Cuan Saham MDKA Bantai Emas Fisik Awal 2026
JAKARTA - Harga emas dunia dan domestik mencetak reli luar biasa sejak awal tahun 2026. Tren penguatan ini memicu satu pertanyaan menarik bagi para pelaku pasar: jika mengalokasikan modal Rp20 juta pada 1 Januari lalu, manakah yang lebih menguntungkan antara instrumen emas fisik atau saham emiten tambang emas?
Berdasarkan data perdagangan hingga Selasa, 24 Februari 2026, instrumen emas fisik terbukti memberikan imbal hasil yang solid. Jika dana Rp20 juta dibelikan emas batangan Antam di harga Rp2.488.000 per gram pada awal tahun, nilai aset tersebut kini telah bertumbuh 23,3% seiring lonjakan harga yang menyentuh level Rp3.068.000 per gram.
Namun, imbal hasil instrumen fisik ternyata masih tertinggal jika dibandingkan dengan performa agresif saham emiten tambang emas. Sebagai contoh, alokasi dana Rp20 juta di saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) pada awal tahun kini telah melonjak nilainya menjadi Rp33,39 juta berkat lompatan harga 66,95% secara year to date (YTD).
Baca juga:
- Cek Rinciannya, Harga Emas Antam Melonjak Rp40.000
- Yuk Buat Kue Sagon Kelapa yang Enak
- Awal Pekan Menguat, Momentum Positif Terjaga
Simulasi Pertumbuhan Modal Rp20 Juta (1 Jan - 24 Feb 2026)

Bantalan Kinerja dan Tulang Punggung Emiten
Merujuk kinerja keuangan per kuartal III-2025, lonjakan harga saham ketiga emiten tersebut ditopang kuat oleh fundamental bisnis dan tingginya ekspektasi investor. Meski karakteristiknya berbeda, bagi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), segmen emas bertindak sebagai tulang punggung utama yang mendominasi lebih dari 65% total pendapatan perseroan.
Sementara itu bagi MDKA, segmen komoditas emas berfungsi sebagai bantalan operasional yang sangat krusial. Ketika bisnis pengolahan nikelnya mengalami koreksi, tingginya produksi emas dari Tambang Tujuh Bukit sukses menjadi motor utama penopang EBITDA sekaligus memitigasi tingkat kerugian perseroan.
Di sisi lain, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang murni berstatus sebagai perusahaan tambang emas, sukses memanfaatkan tingginya harga jual global untuk membalikkan keadaan bisnisnya. Perseroan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp1,18 triliun, sekaligus keluar dari tekanan kerugian yang sempat membekap pada tahun sebelumnya.
Prospek Harga Emas JP Morgan
Sementara itu, prospek logam mulia ke depan dinilai masih sangat cerah. Riset terbaru JP Morgan secara resmi menaikkan target harga emas dunia hingga menembus level fantastis US$6.300 per troy ons pada penutupan akhir 2026.
"Kami memperkirakan permintaan yang cukup kuat dari bank sentral dan investor akan mendorong harga emas hingga US$6.300 per ons pada akhir 2026," tegas Analis JP Morgan, Gregory Shearer, dalam riset terbarunya mengenai proyeksi komoditas pada Selasa, 24 Februari 2025
Sikap optimistis tersebut murni didorong oleh tingginya hasrat bank sentral global yang memborong emas secara struktural. Pembelian ini diprediksi akan terus berlanjut di kisaran 800 ton pada tahun 2026, menyusul rekor akumulasi 863 ton sepanjang 2025 demi diversifikasi cadangan devisa dunia.
Meski proyeksi jangka panjang sangat menjanjikan, harga emas spot sempat terkoreksi memerah sebesar 1,13% ke level US$5.168,23 per troy ons pada sesi perdagangan pagi ini. Penurunan jangka pendek tersebut dipicu oleh dua faktor utama yang membayangi psikologis pasar.
Gejolak Tarif Trump dan Koreksi Sehat
Pertama, ini merupakan fase wajar pasar untuk mencari keseimbangan baru melalui aksi ambil untung (profit taking) setelah harga melesat lebih dari 7% selama empat hari beruntun. Sebelumnya, emas spot sempat menyentuh rekor tertinggi menembus US$5.500 per troy ons pada akhir Januari lalu.
Kedua, terdapat kebingungan ekstrem menyusul rencana sepihak Presiden AS Donald Trump yang bersiap menaikkan tarif impor global menjadi 15%, tepat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan mekanisme tarif timbal balik. Manuver ini pada akhirnya menciptakan distorsi sementara di pasar komoditas.
Sebagai kesimpulan, investasi pada saham tambang emas terbukti mampu memberikan daya ungkit keuntungan yang lebih masif dibandingkan emas fisik saat siklus harga sedang menanjak. Namun, investor mutlak harus selalu mewaspadai volatilitas pasar saham yang jauh lebih tinggi akibat sentimen geopolitik dan kebijakan global.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 24 Feb 2026

