Dari Ruang ke Ruang Dirampas Asap Karhutla

Rumah-rumah dan gedung diselimuti kabut asap pemandangan dari LRT stasiun Garuda Dempo - Demang Lebar daun Senin (20/10/26). (Foto WongKito.co/Miftahur Rizki)

Oleh Miftahur Rizki*

KABUT asap menjadi fenomena at the top pemberitaan sejak beberapa bulan ini, karena kejadian luar biasa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi disebagian besar Pulau Kalimantan dan sejumlah provinsi di Sumatera, yang berdampak tak hanya kerusakan alam dan lingkungan, tetapi asap memapar jutaan manusia dan juga hewan.

Tahun ini, Karhutla pun telah bergeser meluas, tak hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatera atau area pengunungan di Pulau Jawa yang langganan terbakar. Tetapi Papua dan Sulawesi juga menjadi daerah yang tahun ini terjadi Karhutla.

Meminjam istilah seorang kawan "KabutAsap=KarhutlaDipelihara", akhir-akhir ini sepertinya mulai ada relevansinya. Di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahat, carut marut keluar dari lisan para pejabat. Salah satunya, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi sebut sebagian besar titik api ini ditemui di perbatasan area izin konversi, yang mengindikasi kuat soal dugaan pembukaan atau perluasan lahan secara sengaja.  

Pembakaran disengaja berarti bukan kebakaran lagi.

Akibat pembakaran lahan konsesi tersebut, ruang publik, ruang tamu bahkan kamar di rumah yang menjadi tempat paling nyaman bagi penghuninya pun telah dirampas. Kenyamanan kini sulit dinikmati para rakyat jelata, karena hanya pejabat yang bisa menikmati kabut asap yang memapar hingga ke relung terdalam dalam tubuh manusia, PM2.5 telah jauh melampaui ambang batas yang normalnya diserap tubuh manusia hanya  55 µg/m³ hingga 65 µg/m³ per hari untuk standar Indonesia, sedangkan WHO justru menyebutkan toleransi PM2.5 hanya 15 µg/m³ per hari.

Baca Juga:

Di Kota Palembang saja pada Kamis (22/10/2026) pukul 08.00 WIB data IQair menunjukan paparan PM2.5 mencapai 705 µg/m³, jauh melampaui ambang batas maksimum paparan konsentrasi partikulat tersebut.

Aktivitas di pasar tradisional di Palembang, di tengah kabut asap pekat. Foto WongKito.co/Nila Ertina

Sesak Napas dan Mata Perih

Naila (19) seorang mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Kota Palembang sempat mengeluhkan sesak nafas yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat paparan asap setelah jam perkuliahan selesai. 

"Dada terasa sesak dan hidung itu perih kalo lama-lama di luar ruangan," kata dia baru-baru ini.

Melansir kumparan.com, tercatat 277.075 hingga 314.124 kasus ISPA hingga pekan ketiga Oktober 2026 di tujuh provinsi terdampak Karhutla. Tentunya termasuk di Sumatera Selatan, di Palembang Dinkes setempat merilis 8.204 kasus ISPA sepanjang bulan Oktober 2026.

Tak sebatas di Sumatera Selatan, percakapan online dengan  Yerry (16) seorang siswa kelas 11 SMKN 1 Palangkaraya, Kalimantan Tengah di Kecamatan Pahundut menceritakan kondisi lingkungannya yang saat ini terdampak parah akibat kabut asap. Menurutnya kualitas udara di lingkungannya sangatlah mengganggu aktivitas. 

"Mata perih dan aktivitas di luar rumah terganggu, beberapa kali olahraga lari jadi ga memungkinkan gitu," kata dia, Kamis (22/10/2026).

Ia mengeluhkan mata perih setiap keluar rumah, di Palangkaraya kondisi siang hari yang tampak seperti sore menjelang malam akibat konsentrasi tumpukan asap di udara. Ia menuntut pemerintah dan presiden harus bertanggung jawab dalam menangani kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap yang terjadi.

Menariknya dalam sepekan terakhir kebakaran hutan dan lahan di indonesia mengalami eskalasi serius di beberapa provinsi terutama di pulau Kalimantan dan Sumatera. Berdasarkan pantauan satelit SiPongi Kementerian Kehutanan Per 20-21 Oktober 2026 terdapat lebih dari 8.412 hotspot yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera.

Hal demikian juga terus terjadi di beberapa wilayah di luar Kalimantan dan Sumatera seperti Sulawesi, Papua, Kepulauan Maluku, Bali, Nusa tenggara, dan Jawa. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa daerah ini sangat berdampak ke aktivitas dalam 3 bulan terakhir. 

Kebakaran wilayah Pusat Konservasi Gajah di Padang Sugihan, Banyuasin. Sabtu (19/09). Foto WongKito.co/ Fathul Salbani.


Misteri Lahan Gambut yang Dibiarkan Kering

Tidak sedikit orang tahu bahwa sebagian besar wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut, dan tim pemadam kebakaran hutan kesulitan untuk memadamkan bara di lahan gambut.

Pakar Kebakaran dan Lahan, Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, S.Hut.,M.Sc., mengungkapkan penyebab karhutla sulit untuk di tangani karena diperparah dengan periode Elnino yang cukup panjang, sehingga membuat kondisi lahan gambut yang menjadi bahan bakar api sangat mudah tersulut. 

Curah hujan yang minim juga menyebabkan lahan gambut kering sehingga kerentanannya meningkat. Meski demikian, ia menegaskan baahwa kekeringan tidak secara langsung menjadi satu-satunyaa penyebab kebakaran.

"Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas," katanya mengutip portal resmi ugm, Rabu (14/10/2026).

Dalam hal ini lahan gambut, api dapat membakar permukaan sekaligus lapisan bawah di dalam tanah. Karkteristik inilah yang membuat proses identifikasi dan penanganan kebakaran lahan gambut menjadi lebih kompleks karena sumber bara tidak selalu terlihat secara langsung dan sulit di padamkan.

Di Sumatera Selatan luas lahan gambut mencapai 2,09 juta hektar atau 24,07% dari luas wilayah provinsi. Dengan mengetahui data luas lahan gambut, memperkirakan besaran bahan bakar api apabila terjadi kemarau panjang, karhutla seharusnya menjadi ancaman yang harus cepat dideteksi dan ditangani terkait mitigasinya.

Sejauh ini, campur tangan manusia menjadi penyebab kekeringan lahan gambut. Pembuatan kanal-kanal raksasa untuk mengeringkan lahan demi keperluan pembukaan perkebunan komersial turut menjadi penyebab mengeringnya lahan gambut. 

Mengutip buku berjudul: Lahan Gambut Indonesia, Pembentukan, Karakteristik, dan Potensi Mendukung Ketahanan Pangan yang diterbitkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, ekosistem spesifik seperti gambut yang senantiasa tergenang air dan sisa-sisa vegetasi yang tercampur dalam rentang waktu yang sangat lama sehingga membentuk tanah basah.

Yang menjadi permasalahannya disini, lahan gambut ini hanya akan kering jika terjadi alih fungsi lahan yang membuat air di dalamnya hilang atau diserap, salah satunya melalui pembuatan kanal-kanal yang mengabikan aspek hidrologi gambut. Hal ini menjadi penyebab rusaknya karakteristik lahan gambut sehingga menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.



Ironi Modifikasi Cuaca di Tengah Krisis Ekologis

Operasi Modifikaasi Cuaca yang dilakukan Badan Nasional Penanganan Bencana dengan menyebarkan 3,2 ton dry ice di Udara, memang diklaim berhasil mengurangi kabut asap, namun hal itu bukanlah penyelesaian dari akar masalah yang terjadi.

Dry ice menjadi upaya untuk menghilangkan kabut asap yang dilakukan oleh BNPB di Sumatera Selatan dengan biaya Rp150 juta hingga Rp300 juta per sortie 800 kg, dry ice menggunakan pesawat Cassa C-212 pada 15 Oktober lalu dengan 1 sortie penerbangan, dan dilanjutkan peningkatan sortie di hari kedua.

Ironinya penanganan kabut asap ini lebih terlihat terlihat seperti pertunjukan sulap yang tidak bertahan lama dan akan terus dilakukan apabila akar masalah tidak segera diselesaikan. 

Berdasarkan data harian BPBD Sumsel dengan puncaknya yang mencapai 2.791 titik api lalu turun signifikan menjadi 2.559 - 1.122 - 1.560 titik api, pada Minggu (18/10/2026) kemudian turun ke titik terendah mingguan di 753 titik api, kemudian meningkat 947 titik api di Senin (19/10/2026) lalu, mengalami lonjakan lagi, pada Rabu (21/10/2026) 1.277 titik api.

Kabut asap tetap kembali dan menimbulkan pertanyaan. Mengapa pemerintah terkesan hanya menambal gejala namun abai dalam mengobati luka utama? Sehingga saat angin yang tidak memiliki pasport ini membawa asap ke negara tetangga, penanganan karhutla ini dianggap sederhana dengan percaya diri menggunakan kalimat "Kita Masih Sanggup".

Kepada publik, Menko Polkam Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pemerintah masih sanggup menangani masalah karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan. 

"Masalah penerapan bencana nasional, ya. Ya, sementara kita masih sanggup, ya, negara kita masih sanggup. Negara kita masih sanggup," kata Dudung usai rapat gabungan lintas kementerian di kantor Kemenko Polkam, Senin (19/10).

Baca Juga:

Implikasinya, tawaran bantuan dari sejumlah negara justru tidak diterima. Padahal, sejumlah bukti kalau perusahaan-perusahaan yang memiliki lahan konsensi di Sumatera dan Kalimantan yang menjadi penyumbang titik api terbanyak juga berkaitan erat dengan dua negara tersebut. Sudah sepatutnya, Malaysia dan Singapura juga bertanggung jawab atas pembakaran hutan dan lahan.

Siklus darurat tahunan yang tak berkesudahan ini tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi perlahan memicu kelelahan ekologis (eco-fatigue) di tengah masyarakat yang mulai apatis dijejali rentetan berita krisis lingkungan tanpa adanya jalan keluar definitif. Publik sudah tidak butuh sekadar ilusi udara segar sesaat atau aksi pemadam kebakaran dadakan di puncak kemarau.

Untuk memutus ruang yang dirampas asap, negara harus menghadirkan komitmen penegakan hukum tanpa kompromi terhadap korporasi maupun aktor-aktor di balik pengeringan dan pembakaran lahan, dibarengi dengan perlindungan ekologis jangka panjang untuk merestorasi hidrologi gambut. 

Tanpa adanya intervensi pencegahan yang serius jauh sebelum api pertama menyala, darurat karhutla hanya akan terus menjadi tragedi berulang yang menumbalkan napas dan nyawa warga setiap tahunnya. 

*Reporter WongKito.co

Editor: Nila Ertina
‌‌
‌‌

Related Stories