Ekonomi Tongkrongan: Ketika Pertemanan Pengaruhi Keuanganmu

Studi Southern Economic Journal (2024) menunjukkan bahwa konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku teman dalam jaringan sosialnya. (ist/Pexels/Tima Miroshnichenko))

JAKARTA, WongKito.co - Pernah merasa “terpaksa” ikut makan di tempat mahal, beli outfit baru, atau ikut konser karena teman? Fenomena ini dikenal sebagai peer effect dalam ekonomi yakni pengaruh lingkungan sosial terhadap keputusan individu. 

Dalam konteks keuangan, circle pertemanan bukan sekadar relasi sosial, tetapi faktor nyata yang memengaruhi kondisi finansial seseorang.

  • Circle memengaruhi pola konsumsi
  • Tekanan sosial sering tidak disadari
  • Gaya hidup kolektif bisa bikin boros
  • Masalah keuangan sering berasal dari lingkungan

Apa Kata Riset soal Pengaruh Circle ke Dompet?

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Southern Economic Journal (2024) menunjukkan bahwa konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku teman dalam jaringan sosialnya. 

Dilansir dari laman Wiley Online Library, penelitian di 16 desa di Thailand menemukan bahwa peningkatan konsumsi “godaan” seperti alkohol, rokok, dan judi dalam kelompok berkorelasi dengan kenaikan hingga 1,5 kali lipat pada individu.

Sementara itu, riset lain dalam Journal of Consumer Behaviour menegaskan bahwa tekanan teman sebaya semakin kuat dalam kelompok dengan kedekatan emosional tinggi. Dilansir dari laman ResearchGate, semakin erat hubungan pertemanan, semakin besar pengaruhnya terhadap keputusan finansial.

Temuan penting:

  • Konsumsi teman → konsumsi individu ikut naik
  • Efek bisa mencapai 1,5 kali lipat
  • Circle dengan ikatan kuat lebih berpengaruh
  • Lingkungan sosial = faktor ekonomi nyata

FOMO

Penelitian netnografis terhadap Gen Z di Instagram dan TikTok (2024) menemukan bahwa kelompok ini cenderung impulsif dan hedonis dalam konsumsi. Dilansir dari laman ResearchGate, meskipun Gen Z punya kesadaran menabung, keputusan mereka mudah terganggu oleh influencer dan promosi digital.

Lebih lanjut, studi dalam jurnal yang dipublikasikan di ScienceDirect (2025) menunjukkan bahwa tekanan sosial bahkan lebih kuat memengaruhi keputusan finansial dibanding kontrol diri individu. Artinya, meski seseorang paham keuangan, tekanan circle tetap bisa membuatnya boros.

Ciri-cirinya:

  • Belanja karena takut ketinggalan tren (FOMO)
  • Terpengaruh influencer dan media sosial
  • Mudah tergoda promo dan diskon
  • Kontrol diri kalah oleh tekanan sosial

Circle Bisa Jadi Racun atau Vitamin Finansial

Penelitian dalam Journal of Financial Counseling and Planning (2023) oleh LeBaron-Black dkk., dilansir dari laman jurnal tersebut, menemukan bahwa belajar keuangan dari teman sebaya justru sering mendorong kebiasaan finansial yang buruk. Sebaliknya, pengaruh keluarga dan pengalaman kerja lebih membentuk kebiasaan yang sehat.

Namun, ada sisi positif. Studi dalam Econometrica (2019) oleh Chandrasekhar dari Stanford University, dilansir dari laman Stanford University, menunjukkan bahwa berbagi informasi progres tabungan dalam kelompok dapat meningkatkan tabungan hingga 36%.

Dua sisi circle:

Circle “racun”:

  • Normalisasi hidup boros
  • Tekanan ikut gaya hidup mahal
  • Minim edukasi finansial
  • Fokus konsumsi, bukan aset

Circle “vitamin”:

  • Saling dorong menabung/investasi
  • Transparansi progres keuangan
  • Diskusi finansial sehat
  • Bisa tingkatkan tabungan hingga 36%

Pilih Circle-mu Seperti Memilih Investasi

Penelitian dalam Journal of Financial Economics (2024) menyebut bahwa informasi tentang pola pengeluaran kelompok sebaya dapat menjadi alat efektif untuk mengendalikan konsumsi dan meningkatkan tabungan. Ini menunjukkan bahwa circle bukan hanya faktor sosial, tetapi juga instrumen ekonomi yang bisa dimanfaatkan.

Kesimpulan praktis:

  • Circle = variabel ekonomi penting
  • Lingkungan memengaruhi konsumsi & tabungan
  • Evaluasi pergaulan sama pentingnya dengan budget
  • Jika saldo sering tipis, cek juga circle kamu

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 17 April 2026.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories