FES: Inisiatif Perempuan Kembalikan Pangan Lokal

Talkshow dengan tema FES Sebagai Ruang Juang untuk Membangun Kemandirian Ekonomi Melalui Feminis Ekonomi Solidaritas, di Palembang (Foto WongKito.co/Nila Ertina, FM)

PALEMBANG, WongKito.co  - Organisasi Solidaritas Perempuan (SP) bersama perempuan akar rumput dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur berkumpul di Kota Palembang mengikuti beragam pelatihan dalam program Feminis Ekonomi Solidaritas (FES), diantaranya membahas pentingnya menjaga pangan lokal sebagai sumber utama kehidupan.

Ketua Badan Eksekutif Nasional SP, Armayanti Sanusi mengungkapkan FES merupakan ruang bagi perempuan untk berjuang membangun kemandirian ekonomi.

"Budaya patriarki dan ekonomi yang kapitalistik selama ini telah merusak tatanan kehidupan bangsa, yang berdampak sangat buruk bagi perempuan Indonesia, termasuk terpinggirkannya pangan lokal, akibat reduksi industri," kata dia, ketika menyampaikan sambutan, pada Talkshow dengan tema FES Sebagai Ruang Juang untuk Membangun Kemandirian Ekonomi Melalui Feminis Ekonomi Solidaritas, di Palembang, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan FES menjadi ekonomi alternatif yang harus terus disebarluaskan.

Baca Juga:

Dengan FES pembangunan ekonomi dilakukan berbasis komunitas, hingga menjadi alternatif pembangunan ekonomi perempuan akar rumput yang selama ini tidak dijadikan parameter oleh pemerintah, ujar dia.

Dia menjelaskan gerakan kolektif perempuan pembangunan ekonomi tidak hanya sekedar bagaimana dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tetapi juga mengadvokasi dan solidaritas bagi sesama perempuan serta kelompok marginal.

"FES berasal dari beragam latar belakang perempuan, mulai dari perempuan petani, nelayan, perempuan adat dan juga perempuan miskin kota," kata dia lagi.

Arma mengatakan dengan latar belakang pekerjaan dan kondisi yang beragam, tetapi merupakan bagian dari perempuan termiskinkan secara struktural.

Kemiskinan terjadi karena adanya pembangunan industri ekstraktif dan perempuan yang kehilangan ruang hidup akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan kelompok marginal, tambah dia.

Ina dari Makassar mengungkapkan akibat pembangunan ekstraktif yaitu pelabuhan yang berskala besar di Makassar dirinya bersama perempuan nelayan lainnya kini terpinggirkan, karena tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan cukup.

Sebagai nelayan, sebelum adanya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah mereka, Ia bercerita mampu menghasilkan uang hingga Rp200 ribu per hari dari mencari kerang.

Namun, sejak laut direklamasi, kini mendapatkan uang Rp20 ribu saja sulit, kata dia.

Kondisi tersebut, sangat berat. "Kami tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan pokok hidup," kata dia lagi.

Sedangkan Sulastri dari Desa Sribandung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan mengungkapkan hingga kini perjuangan merebut tanah yang dikuasai PTPN atau perusahaan perkebunan milik negara belum berhasil.

"Kami beberapa kali melakukan kolektif berkebun, namun tidak bisa mendukung kebutuhan hidup karena banjir bahkan karena tanaman dimakan sapi," kata dia.

Atas kondisi tersebut, dia bercerita bersama anggota komunitas perempuan akar rumput yang didamping SP Palembang terus mengumpulkan ide-ide kreatif untuk membangun perekonomian perempuan desa.

Melawan dengan Ekonomi Alternatif

Sumi dari Desa Kuku, Poso, Sulawesi Tengah mengungkapkan harus diketahui sebenarnya pangan lokal, seperti buah-buahan dan komoditas lainnya itu pasti lebih unggul dari produk impor.

Ia menceritakan durian di Desa Kuku memiliki kualitas terbaik dan rasanya lebih enak dibandingkan durian Montong yang terkenal itu.

Namun, hingga kini masyarakat perkotaan masih lebih mengenal durian atau buah impor lainnya. Karena memang, Durian Kuku masih hanya dinikmati masyarakat sekitar saja, tidak bisa di bawa ke daerah lain.

Hal senada diungkapkan Rintem dari Lampung, benih lokal memiliki keunggulan yang jauh lebih bagus dari produk pabrikan apalagi dari luar negeri.

Dia mencontohkan, sebagai produsen kerupuk pisang yang kini memasok ke berbagai toko oleh-oleh di Kota Bandarlampung dirinya bersama anggota kelompok akar rumput, telah berulang kali mengalami kegagalan dalam menanam pisang.

Setelah mendapatkan pelatihan dari SP Sebay Lampung, kini pihaknya mengandalkan bibit pisang lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kerupuk pisang.

"Menggunakan pangan lokal sangat membantu produksi kami, bahkan adaptasi dengan kondisi iklim, selain tentunya tidak memerlukan pupuk kimia," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama pendiri Koperasi KOBETA Dewi Hutabarat, menegaskan kalau kualitas pangan lokal Nusantara jauh di atas rata-rata produk pangan impor.

Ia sepekat dengan Sumi dari Desa Kuku yang menyebutkan rasa pangan lokal pasti lebih enak, begitu juga dengan Durian Kuku.

"Saya percaya Durian Kuku lebih enak dari durian yang diimpor," kata dia.

Dia mencontohkan durian dari salah satu daerah di Aceh juga memiliki rasa dan kualitas jauh lebih bagus.

"Kata orang Jakarta, gak keotakan saking enaknya," kata dia.

FES ini, tambah Armayanti menjadi alat perlawanan perempuan.

"Ajang untuk menguatkan dan melihat perkembangan serta penetrasi pola pangan yang sangat industri, sehingga perempuan coba membangun, mereduksi lagi, berbasis pangan lokal, kolektif dan nilai-nilai solidaritas yang kuat," kata dia.

Menurutnya  mempertahankan pangan lokal, dengan ragam inisiatif adalah pembuktian.

Karena sesungguhnya, kebutuhan perempuan dan inisiatif perlawanan tidak tunggal, tetapi disesuaikan dengan sumber daya alam mereka, FES tidak melahirkan konsep tunggal tetapi bertumbuh, tambah dia.(Nila Ertina FM)


Related Stories