Ragam
Film Dokumenter Kearifan Suku Musi, Lestarikan Jongot
PALEMBANG, WongKito.co - Istilah Jongot memang belum tenar di Sumatera Selatan, Jongot adalah hutan adat yang dilestarikan selama puluhan hingga seratusan tahun oleh masyarakat Suku Musi yang menetap di lanskap Penukal atau Kecamatan Penukal dan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Jongot berfungsi sebagai sumber pangan, papan, obat-obatan tradisional, serta sebagai penjaga air tanah dan rumah bagi sejumlah satwa.
Seorang jurnalis yang juga pegiat budaya dan lingkungan, Nopri Ismi menarasikan dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “Jongot”. Film tersebut ia dikerjakan hampir lima bulan lamanya.
Baca Juga:
- PERMAMPU Desak Pemerintah Serius Tangani Bencana Ekologis Sumatera
- Tertarik Mencoba, 4 Makanan Orang Jepang Ini Bikin Kulit Cerah dan Sehat
- Bank Sumsel Babel distribusikan Bantuan Hewan Kurban ke Masyarakat
Film dokumenter tersebut menggambarkan di Jongot masih ditemukan sejumlah buah-buahan hutan, yang saat ini sudah sulit ditemukan, seperti dian rimbe (Durio oxleyanus), dian jerging (Durio kutejensis), tampui (Baccaurea macrocarpa), rambai (Baccaurea motleyana) dan rukam (Baccaurea dulcis).
Beranjak dari gambaran tersebut, rencananya film Jongot akan diputar perdana di sebuah perkebunan lahan basah di kawasan Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, pada Sabtu (6/6/2026) pukul 19.00 WIB.
Selain pemutaran film, proyek yang didukung Danaindonesiaraya Tahun 2025 dalam program “Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia”, juga menggelar pameran foto dan diskusi. Diharapkan kegiatan ini menjadi ruang komunikasi antara masyarakat adat, akademisi, pegiat lingkungan dan budaya, dalam menelisik Jongot.
“Film ini mengisahkan hubungan manusia dengan Jongot. Dan, ternyata Jongot itu bagian dari lanskap kehidupan masyarakat di Penukal, seperti di Tempirai. Lanskap kehidupan itu berupa ume, kebun karet dan Jongot. Ketiganya saling terhubung, dan saling melengkapi. Ume sebagai sumber pangan, seperti beras dan palawija, kebun karet sebagai sumber ekonomi, sementara Jongot sebagai sumber nutrisi, obat-obatan, dan papan,” jelas Nopri, aktif memimpin Rumah Sri Ksetra, yang mendapatkan Anugerah Kebudayaan Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI.
Film dokumenter yang berdurasi 50 menit itu, selain memotret kehidupan masyarakat adat yang masih berdiam di Jongot, juga merangkum pandangan dan pendapat dari tokoh adat, tokoh masyarakat, akademisi, pegiat budaya, dan pelaksana pemerintahan dari bidang kebudayaan.
Baca Juga:
- Riset Forbes: ini 9 Pekerjaan dengan Tekanan Terbesar, ada Pekerja Hotel
- THE 1O1 Palembang: Promo Spesial Sepanjang Mei 2026
- HUT Sumsel ke-80, Bank Sumsel Babel Perluas Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis
Film ini juga menyinggung ancaman terhadap Jongot. Dengan alasan ekonomi, sejumlah Jongot dijual para pewarisnya atau berubah fungsi menjadi kebun sawit atau karet.
“Harapan saya, film dan foto yang saya kerjakan ini dapat mendorong upaya perlindungan atau pelestarian Jongot, seperti menjadi hutan budaya. Di tengah krisis iklim yang kita rasakan saat ini, jongot adalah sebuah harapan,” kata Nopri.
Jongot yang luasannya sekitar setengah hektar per titik, pada saat ini jumlahnya sekitar seratusan titik yang tersebar di lanskap Penukal. Lanskap Penukal luasnya sekitar 68.000 hektar, berupa pemukiman, perkebunan sawit, perkebunan karet, ume, dan Jongot.(ril)

