Gen Z Sadar Lingkungan tapi Jadi Konsumen Aktif Fast Fashion

fast fashion, fashion, belanja, baju, mall, pakaian (freepik.com/standret)

JAKARTA, WongKito.co - Industri fast fashion kian mempercepat siklus konsumsi pakaian global. Model bisnis berbasis kecepatan produksi, harga murah, dan pergantian tren ekstrem dinilai menjadi pendorong utama overconsumption atau konsumsi berlebihan. 

Ironisnya, Generasi Z, yang dikenal paling sadar isu lingkungan justru berada di garis depan fenomena ini. Sejumlah studi menunjukkan adanya paradoks, Gen Z memiliki tingkat kesadaran lingkungan tertinggi dibanding generasi lain, namun juga menjadi kelompok konsumen paling aktif dalam pembelian fast fashion.

Fenomena ini semakin terlihat sejak munculnya ultra-fast fashion seperti Shein dan Temu. Keduanya mengandalkan algoritma tren, produksi cepat dalam skala kecil, serta harga sangat rendah untuk mendorong pembelian impulsif.

Studi badan lingkungan Prancis, Ademe (2025), menemukan bahwa konsumen ultra-fast fashion memiliki lemari pakaian 52% lebih besar dibanding konsumen fesyen biasa. Mereka juga dua kali lebih sering memperbarui isi lemari.

Fenomena ini memicu pola “beli, lupa, dan sesali”. Sebanyak 45% konsumen ultra-fast fashion mengaku pernah membeli pakaian yang tidak pernah dipakai sama sekali. Dalam skala nasional, diperkirakan terdapat 120 juta item pakaian di Prancis yang tidak pernah digunakan meski sudah dibeli lebih dari tiga bulan.

Dampak Lingkungan yang Serius

Industri fashion menyumbang sekitar 10% emisi karbon global, menjadikannya salah satu sektor dengan dampak iklim terbesar. Selain itu, produksi satu kaos katun membutuhkan sekitar 2.700 liter air, setara kebutuhan minum seseorang selama dua setengah tahun.

Audit lembaga Ademe di Prancis menunjukkan rata-rata kepemilikan mencapai 175 item per orang, meski pembelian tahunan “resmi” hanya sekitar 13 item. Di Australia, rata-rata pembelian bahkan mencapai 56 item baru per orang per tahun. Data tersebut memperlihatkan kesenjangan antara kebutuhan riil dan pola konsumsi aktual.

Gen Z menunjukkan apa yang disebut peneliti sebagai intention–action gap, kesenjangan antara niat dan tindakan. Sebuah studi 2024 mencatat 96% Gen Z sadar akan dampak negatif fast fashion terhadap lingkungan. Di kawasan Asia-Pasifik, 88% mengaku memprioritaskan produk berkelanjutan.

Namun, survei RSM United Kingdom dan Retail Economics menemukan 59% Gen Z mengakui generasi mereka “lebih banyak berbicara tentang keberlanjutan daripada mempraktikkannya”.

Faktor ekonomi menjadi alasan dominan. Sebanyak 55% responden menyebut harga sebagai pertimbangan utama. Sekitar 43% memiliki “niat aspirasional” peduli pada isu lingkungan, tetapi bersedia berkompromi demi biaya dan kenyamanan. Bahkan 24% Gen Z dilaporkan menerima kiriman pakaian setiap minggu.

Media sosial turut memperkuat siklus ini. Konten “fashion” di TikTok dan Instagram menormalisasi pembelian dalam jumlah besar sebagai bentuk hiburan.

Sekitar 40% Gen Z mengaku membeli item yang hanya dipakai sekali. Sementara 25% konsumen muda membuat keputusan belanja berdasarkan rekomendasi influencer. Tekanan mengikuti tren memiliki bobot signifikan terhadap sikap pembelian fast fashion.

Kecepatan tren digital memperpendek umur relevansi pakaian. Pakaian tidak lagi dibeli untuk bertahan lama, melainkan untuk tampil pada momen tertentu—baik untuk konten maupun acara spesifik.

Mengapa Overconsumption Terjadi?

Para analis menilai kombinasi harga sangat murah, kemudahan belanja online, diskon agresif, serta fleksibilitas retur menciptakan ilusi risiko rendah. Konsumen merasa tidak rugi jika salah beli karena harga terlalu murah untuk dipikirkan ulang.

Selain itu, algoritma e-commerce mempercepat paparan tren baru setiap hari, memicu dorongan pembelian impulsif yang berulang. Model bisnis fast fashion pada akhirnya membentuk pola “sekali pakai”pakaian diperlakukan sebagai barang sementara, bukan investasi jangka panjang.

Berbagai data diatas menunjukkan fast fashion menjadi pendorong utama overconsumption global. Gen Z berada di tengah paradoks, generasi paling sadar lingkungan, tetapi juga paling terdorong oleh harga murah, kecepatan tren, dan pengaruh media sosial.

Tanpa perubahan pola produksi dan konsumsi, siklus ini berpotensi terus berulang. Tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan kesadaran, tetapi menjembatani kesenjangan antara niat keberlanjutan dan perilaku konsumsi nyata.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 18 Februari 2026.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories