Di Balik Doa yang Dipanjatkan, Ada Harapan untuk 5 Jurnalis Kembali

Suasana doa bersama di Monpera Palembang untuk lima jurnalis yang hilang kontak saat liputan erupsi GAK (Foto WongKito.co Vyrania Kartika)

Di tengah langit Palembang yang mulai menguning menjelang petang, di halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), Selasa (15/9/2026) berkumpul puluhan jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Sumatera Selatan. Tak terdengar riuh percakapan, bunyi kamera yang saling bersahutan, ataupun kesibukan jurnalis mengejar narasumber. Terdengar lantunan doa yang dipimpin seorang rekan jurnalis. Satu per satu kepala tertunduk, tangan terangkat, sementara puluhan insan pers membentuk lingkaran dengan wajah penuh harap.

Di sisi lain, beberapa jurnalis membentangkan sebuah spanduk berwarna putih. Lima wajah terpampang di atasnya, wajah-wajah yang sudah akrab bagi banyak orang di lingkaran itu. Tepat di bawah foto-foto tersebut tertulis, "Forum Jurnalis Sumsel Doa Bersama untuk Teman Sejawat", disertai tagar #CepatPulangKawan. Tak ada tepuk tangan ataupun sorak-sorai. Hanya keheningan yang sesekali dipatahkan isak pelan dan suara doa yang terus dipanjatkan.

Hingga sore itu, tak satu pun dari 5 jurnalis dan tiga orang awak kapal cepat belum kembali.

Bagi sebagian orang, delapan hanyalah angka. Namun bagi mereka yang berkumpul di Monpera, angka itu memiliki wajah, nama, dan cerita. Ada rekan kerja yang biasa berbagi liputan, ada sahabat yang kerap bercanda di ruang redaksi, ada orang-orang yang berpamitan untuk bekerja, tetapi hingga kini belum pulang.

Baca Juga:

Forum Jurnalis Sumatera Selatan, merupakan gabungan dari perwakilan   AJI Palembang, AMSI Sumsel, Pewarta Foto Indonesia, hingga Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Sumsel. Hari itu, mereka membawa harapan yang sama, kembalinya kawan-kawan yang hilang kontak tersebut dengan selamat.

Bagi para jurnalis, doa bersama bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan itu menjadi ruang untuk saling menguatkan sekaligus menunjukkan bahwa profesi ini tidak hanya diikat oleh pekerjaan, tetapi juga rasa persaudaraan. Di tengah ketidakpastian proses pencarian, setiap doa yang dipanjatkan menjadi harapan agar lima jurnalis bersama tiga awak kapal dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul dengan keluarga. Momen itu juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita yang sampai kepada masyarakat, ada risiko besar yang harus dihadapi para pewarta.

Perwakilan jurnalis, Oktaf Riyadi, mengatakan doa bersama merupakan inisiatif rekan-rekan jurnalis sebagai bentuk keprihatinan dan solidaritas terhadap lima jurnalis serta tiga awak kapal yang hingga kini belum kembali. Ia berharap seluruh korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

"Kita hari ini menggelar doa bersama. Kita prihatin kepada lima rekan kita yang belum pulang beserta tiga orang awak kapal. Kita berharap rekan kita segera kembali," ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua AJI Palembang, M. Resha, menuturkan bahwa kehadiran para jurnalis dalam doa bersama merupakan bentuk dukungan moral bagi rekan-rekan yang masih dalam pencarian.

"Sebagai bentuk solidaritas, kami ikut dalam acara doa bersama ini untuk mendoakan keselamatan rekan-rekan kita yang saat ini masih dalam pencarian," katanya.

Delapan nama terus disebut dalam setiap doa yang dipanjatkan sore itu. Tiga di antaranya adalah kru speedboat, yakni Warta (55), Surakman (60), dan Heriyanto (49). Sementara lima lainnya merupakan jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan, yaitu M. Bagus Khoirunnas (28) dari Antara, Ari Basuki (52) dari Merdeka, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, serta Donal (51), jurnalis lepas. Bagi rekan-rekan seprofesi, mereka bukan sekadar daftar nama, melainkan sahabat yang hingga kini masih dinantikan kepulangannya.

Di tengah doa yang dipanjatkan, terselip rasa kehilangan yang dirasakan seluruh insan pers. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, R.M. Resha A. Usman, menilai kegiatan doa bersama merupakan wujud solidaritas terhadap lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas peliputan. Bagi para jurnalis, kabar tersebut bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga bagi rekan-rekan seprofesi yang memahami risiko di balik setiap liputan, terutama saat melaporkan peristiwa bencana.

“Kami hadir sebagai bentuk solidaritas dan siap mendoakan agar mereka bisa kembali dalam keadaan selamat,” katanya.

Resha berharap lima jurnalis bersama tiga kru kapal dapat segera ditemukan dan kembali dalam keadaan selamat. Ia juga mengingatkan pentingnya budaya saling menjaga di kalangan jurnalis. Menurutnya, setiap wartawan yang bertugas ke lokasi bencana atau wilayah berisiko tinggi perlu menginformasikan keberadaannya kepada perusahaan media maupun rekan sesama jurnalis. Langkah sederhana itu dinilai dapat mempercepat upaya pertolongan apabila terjadi keadaan darurat.

“Pesan kami, saling jaga. Kalau kita berangkat ke tempat bencana, berangkat ke mana yang berpotensi berbahaya, kita harus memberitahu rekan-rekan kita,” katanya.

Baca Juga:

Senada dengan itu, Ketua AMSI Sumatera Selatan sekaligus inisiator doa bersama, Ardhy Fitriansyah, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kepedulian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini masih dalam proses pencarian. 

“Sampai sekarang teman-teman kita, lima jurnalis bersama tiga kru kapal cepat, belum kembali. Kami berharap teman-teman kami kembali, apa pun keadaannya,” ujar Ardhy.

Baginya, keselamatan harus selalu ditempatkan di atas tuntutan mendapatkan berita terbaik. Ia menegaskan, peristiwa di Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat sekaligus evaluasi bagi perusahaan media untuk memperkuat penerapan standar keselamatan bagi jurnalis yang bertugas di lapangan.

“Berita memang penting, tetapi keselamatan tetap nomor satu. Sebelum berangkat ke lokasi yang berbahaya, kita harus mempertimbangkan risikonya,” katanya.(*Nur Izza Kharisma)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang, angkatan 2024


Related Stories