Kebersamaan Ramadan: Berbuka Puasa di Masjid Agung

Suasana berbuka puasa di Masjid Agung Palembang (Fotyo WongKito.co/Magang/Azzahri Fahlepi Putra)

LANGIT mulai berpendar jingga ketika jarum jam mendekati pukul enam sore. Angin berembus lembut menyapu pelataran Masjid Agung Palembang, tempat dimana ratusan orang mulai mengambil posisi.

Ada yang datang membawa sajadah, membawa mukena, ada juga yang membawa kantong plastik berisi takjil. Di sudut halaman, kendaraan beroda dua maupun mobil terparkir dengan rapi dan tertib.

Sore itu, jemaah dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda nampak memenuhi area pelataran. Mulai dari remaja, mahasiswa, keluarga kecil, beberapa pekerja kantoran, pekerja pengumpul barang bekas dan tidak sedikit pula musafir yang singgah, memanfaatkan waktu berbuka di Masjid kebanggaan warga Palembang tersebut.

Baca Juga:

Di antara kerumunan itu, panitia tampak sibuk menyiapkan ratusan kotak makanan dan air mineral di ruang kaca untuk para jemaah. Takjil tersebut dibagikan dengan rata, hasil dari sumbangan para donatur dan Jemaah tentunya.

“Setiap hari selama Ramadan kami siapkan ratusan porsi. Siapa saja boleh berbuka di sini,” ujar Ketua Ikatan Remaja Masjid Agung Palembang, Muhammad Rifki (22), dibincangi Jumat (20/2/2026).

Bagi sebagian pengunjung, berbuka di masjid menghadirkan suasana yang berbeda. Hastiana (33), seorang ibu rumah tangga yang datang bersama anak-anaknya dan keponakan, mengaku baru pertama kali ikut buka puasa bersama di Masjid Agung Palembang.

“Seru sekali, ramai dan banyak orang. Kami datang bukan karena tidak mampu, kami juga membawa makanan sendiri. Tapi, suasana kebersamaannya itu yang berbeda. Saya berharap acara ini bisa terus berjalan lancar dan semakin sukses setiap tahunnya,” ujarnya sambil tersenyum hangat.

Menjelang azan, suasana perlahan berubah menjadi tenang. Percakapan yang tadinya riuh mendadak mengecil. Beberapa orang memandangi jam di layar ponsel, sebagian yang lainnya menengadahkan tangan, bersiap untuk memanjatkan doa. Anak-anak yang berlarian kini duduk tenang di samping orang tua mereka.

Ketika azan Maghrib akhirnya menggema dari pengeras suara masjid, keheningan berubah menjadi perasaan yang penuh syukur. Tangan-tangan terangkat, doa-doa dipanjatkan dengan lirih. Tegukan pertama air dan manisnya kurma menjadikannya sebagai penawar dahaga setelah seharian berpuasa.

Di pelataran itu, tidak ada sekat antara perbedaan status atau latar belakang. Mereka semua duduk sejajar, saling berbagi ruang dengan rasa syukur yang sama sekaligus mengharapkan keberkahan dari Allah SWT.

Suasana berbuka bersama di Masjid Agung Palembang. Foto WongKito.co/Magang/Ani Mustika Wati)

Menurut Rifki, kegiatan ini juga merupakan bagian dari visi Yayasan Masjid Agung Palembang untuk menjadikan masjid sebagai percontohan di kota ini.

“Yayasan Masjid Agung Palembang ingin menjadikan masjid ini sebagai percontohan yang dapat ditiru dan diteladani oleh masjid-masjid lain di Palembang," kata dia lagi.

Karena itu, yayasan bersama seluruh pengurus mengadakan kegiatan buka bersama sejak awal Ramadan. Dampak positifnya juga sangat terasa di masyarakat, terlihat dari semakin ramainya jemaah yang datang untuk berbuka puasa maupun menunaikan salat Tarawih di Masjid Agung Palembang.

"Kami sebagai Irma tentu akan terus mendukung setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh yayasan,” kata dia lagi.

Usai berbuka, jemaah bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan salat Maghrib berjemaah. Saf-saf terisi rapat di dalam ruang utama masjid, begitu pula di ruang khusus untuk jemaah perempuan.

Setelahnya, panitia mengarahkan para jemaah untuk memasuki ruang kaca yang telah disediakan makanan dan air mineral. Mereka masuk sesuai dengan arahan dan tentunya dengan tertib. Barisan-barisan mulai dipenuhi dan saling berhadapan, di antara mereka ada sekotak makanan dan segelas air meniral.

Di sisi lain ruang kaca yang tanpa sekat, barisan para jemaah perempuan pun tak kalah rapinya. Panitia mulai membagikan makanan serta air mineral secara menyeluruh. Dan para jemaah mulai menyantap makannya dengan tenang.

Senyum bahagia yang penuh syukur menghiasi setiap wajah panitia ketika menyaksikan makanan yang mereka siapkan dari donatur diterima dan dimakan lahap oleh mereka.

“Yang paling mengharukan bagi kami ialah melihat jemaah menikmati makanan yang kami siapkan. Bahkan ada yang mendoakan kami, Ikatan Remaja Masjid Agung Palembang, agar tetap beristikomah dan terus menebar kebaikan,” ujarnya.

Baca Juga::

 

Sebagian jemaah mulai meninggalkan tempat ketika makanan telah habis, tetapi ada juga yang membawa makanannya keluar ruang kaca dan memakannya di area pelataran masjid. Di antara mereka, ada yang langsung pulang, melanjutkan perjalanan bagi musafir atau berbincang ringan dengan jama’ah lainnya. Tapi, tak sedikit pula yang tetap tinggal menunggu Isya dan Tarawih.

Lampu-lampu masjid menyala terang, menerangi halaman yang perlahan kembali tertib. Di bawah kubah megah Masjid Agung Palembang, Ramadan tidak hanya sekedar dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Tetapi, ia hadir sebagai ruang pertemuan, tempat dimana kebersamaan dirajut, rasa peduli dibagikan, dan silaturahmi dikuatkan.

Di antara langit senja yang berganti malam, pelataran itu menjadi saksi bahwa kebersamaan sederhana menjelang Maghrib mampu menghadirkan kehangatan yang tidak tergantikan.(Magang/Ani Mustika Wati)

Editor: Nila Ertina

Related Stories