Kekeringan Ancam Panen Jagung, Petani Muara Sugihan Keluhkan Sulitnya Air

Salah satu komoditas unggalan petani di kawasan Jalur 16 adalah jagung, tanaman jagung kini terancam gagal panen, karena kekeringan (Foto WongKito.co/Joka Misbakhul Munir)

MUARASUGIHAN, WongKito.co — Kekeringan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai membuat petani jagung di Desa Margomulyo, Jalur 16, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, resah. Kondisi tanah yang kering membuat pertumbuhan tanaman jagung tidak normal dan meningkatkan risiko penurunan hasil panen tahun ini.

Petani khawatir kekeringan tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga menyebabkan sebagian tanaman mengalami gagal panen.

Sujoko (52), petani jagung di Desa Margomulyo, mengatakan kondisi kekeringan saat ini cukup mengkhawatirkan. Menurut dia, hasil panen jagung tahun ini berpotensi turun dibandingkan sebelumnya.

“Jagung tahun ini bisa dibilang terancam ada penurunan hasil panen, bahkan ada yang terancam gagal,” ujar Sujoko, Rabu (12/8/2026).

Baca Juga:

Untuk mengatasi kekeringan, petani berupaya mengairi lahan dengan memanfaatkan air sungai. Air dialirkan ke lahan untuk menjaga kelembapan tanah dan membantu tanaman jagung tetap tumbuh.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan. Ketersediaan air sungai yang terbatas membuat proses pengairan membutuhkan waktu lama dan belum maksimal.

Sujoko mengatakan, untuk mengairi lahan seluas 2 hektare, petani membutuhkan waktu kurang lebih semalaman. Meski demikian, hasil pengairan tersebut belum cukup untuk mengatasi kondisi lahan yang kering.

Kondisi serupa dirasakan Damsu Setiawan (40), petani yang mengelola lahan seluas 6,5 hektare. Menurutnya, pengairan menggunakan air sungai sangat bergantung pada kondisi pasang air.

“Yang membuat lama itu adalah menunggu air sungainya pasang. Saya biasanya kalau mengairi sawah 1 hektare itu seharian penuh dan biasanya menghabiskan kurang lebih 6 liter bensin,” kata Damsu.

Kondisi tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperoleh air bagi tanaman. Di sisi lain, waktu yang dibutuhkan untuk mengairi lahan juga cukup panjang.

Petani Minta Kanal dan Sungai Dibenahi

Selain persoalan kekeringan, petani dan warga Desa Margomulyo juga menyoroti kondisi kanal atau sungai yang selama ini menjadi salah satu sumber pengairan lahan.

Mereka berharap pemerintah melakukan normalisasi, pembersihan, atau pembenahan kanal agar aliran air lebih mudah dimanfaatkan petani, terutama saat menghadapi musim kering.

Damsu menilai perbaikan kanal tidak hanya akan membantu sektor pertanian, tetapi juga memberikan manfaat bagi aktivitas masyarakat secara lebih luas.

“Bukan hanya petani, bahkan masyarakat sini kalau sungai dirombak atau dibenahi itu bisa sangat membantu. Kalau sungai dirombak atau dibersihkan, jangankan sawah, jalan yang digunakan untuk berlalu-lalang menjadi aman karena kalau hujan tidak menggenang atau banjir,” ujarnya.

Baca Juga:

Karena itu, petani berharap pembenahan kanal dan sungai menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan kekeringan secara lebih berkelanjutan. Mereka menilai infrastruktur pengairan yang lebih baik dapat membantu petani menghadapi kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Petani berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi kanal dan sungai di wilayah Margomulyo agar akses air untuk lahan pertanian lebih terjamin dan risiko penurunan hasil panen dapat ditekan.(Joka Misbakhul Munir)
 


Related Stories