Ragam
Kerja Politik Komunitas: Isu Air Bersih Menguat dari Akar Rumput
LAHAT,WongKito.co - Perhimpunan Pengembang Media Nusantara (PPMN) dan Komunitas Yayasan Anak Padi menggelar mentoring bersama jurnalis warga (JW) di Posko Anak Padi, Sabtu (25/4/2026).
Mentoring JW kali ini menegaskan bahwa apa yang dilakukan bukan sekadar advokasi lingkungan, tetapi bagian dari kerja-kerja politik komunitas yang berangkat dari keresahan nyata masyarakat.
Narasumber dari Wongkito.co, Nila Ertina, menyampaikan bahwa pendidikan politik harus mampu membangun narasi yang kuat. Dalam konteks wilayah sekitar PLTU dan tambang di Kabupaten Lahat, narasi tersebut lahir dari dampak langsung yang dirasakan warga korban.
Baca Juga:
- Begini Tips Lolos KUR BRI 2026 dengan Mudah
- Intip Yuk Rekomendasi AI untuk Transkrip, Ubah Suara Jadi Tulisan
- Embarkasi Palembang Berangkatkan 444 Jemaah Kloter 3 Menuju Madinah
Salah satu masalah krusial yang dihadapi masyarakat adalah kesulitan mendapatkan air bersih.
Masyarakat di Desa Muara Maung, Merapi Barat kini lebih banyak menggunakan air galon untuk kebutuhan minum, yang diduga dipicu oleh keberadaan PLTU.
Sementara itu, di wilayah Merapi Timur, sebagian warga masih mengandalkan air tanah dari sumur. Perbedaan ini menjadi indikasi penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut melalui survei lapangan.
Isu air bersih kemudian mengemuka sebagai agenda kampanye utama. Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga penopang kehidupan petani.
Oleh karena itu, Nila mendorong komunitas Anak Padi melakukan survei minimal dua desa untuk memetakan sumber air yang digunakan warga, apakah masih mengonsumsi tanah atau telah beralih sepenuhnya ke air galon.
Ketua Anak Padi, Sahwan, menegaskan bahwa kerja politik komunitas bertujuan membangun kekuatan rakyat melalui narasi publik yang terstruktur.
“Kami berangkat dari keresahan. Tambang dan PLTU menjadi dua sumber utama persoalan yang kami hadapi. Jika hulu Sungai Musi terus dirusak, maka dampaknya akan semakin luas,” ujarnya.
Menurutnya, kerja politik tidak selalu identik dengan praktik kekuasaan formal, tetapi juga hadir dalam upaya membangun kesadaran kolektif, memperkuat jejaring, serta mendorong produksi informasi berbasis fakta lapangan. Dalam hal ini, jurnalis warga memiliki peran penting untuk memastikan isu-isu lokal tidak hilang, tetapi justru diperluas dampaknya melalui dokumentasi dan publikasi.
Selain itu, komunitas juga telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) keamanan sebagai bagian dari penguatan internal gerakan. Hal ini menjadi penting mengingat kerja advokasi lingkungan seringkali berhadapan dengan risiko di lapangan.
Baca Juga:
- Mimpi Layani Wong Cilik, PNM Jadi Bank Khusus UMKM
- Menyaksikan Reog Ponorogo di Car Free Night Palembang
- Pengunjung CFN Palembang Membludak, UMKM Ramai Pembeli
Diskusi ini juga menekankan pentingnya analisis berbasis data, termasuk penggunaan pendekatan 5W+1H dalam setiap produksi informasi. Dengan demikian, setiap temuan di lapangan tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari kerja politik yang terukur.
Melalui kerja-kerja ini, Anak Padi berupaya membangun blok politik rakyat, sebuah poros gerakan yang lahir dari pengalaman langsung masyarakat. Dengan jejaring yang terus diperkuat, mereka berharap keresahan yang ada tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi berubah menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil bagi lingkungan dan masyarakat.(JW/Reza Y)

