BucuKito
Komdigi: Kemajuan Teknologi harus Direspons dengan Cara ini
PALEMBANG, WongKito.co – Insight talks bersama Komdigi dan Media Indonesia Vol.3 berlangsung pada Selasa (14/4/2026) diikuti peserta lebih dari 100 orang, dari jurnalis, akademisi dan mahasiswa serta pelaku ekonomi kreatif.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pengguna yang cerdas dan kritis di era kecerdasan buatan (AI).
Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus direspons dengan kesiapan moral dan pemahaman yang kuat. Ia menyampaikan bahwa perkembangan AI membawa perubahan signifikan dalam cara inovasi diproduksi dan didistribusikan. Teknologi ini telah digunakan di berbagai bidang kehidupan, termasuk komunikasi dan industri media.
“AI sangat membantu dalam penyusunan kalimat yang lebih baik dan memudahkan pekerjaan. Proses pembuatan desain, posting, hingga video kini tidak lagi membutuhkan tahapan panjang atau tim besar. Bahkan, dengan bantuan perintah sederhana, konten bisa dihasilkan dengan cepat dan terlihat sangat halus,” ujarnya.
Baca Juga:
- Aplikasi AI dalam Produk Jurnalistik Harus Beretika
- Lebih Tipis & Kencang, Samsung Galaxy A57 5G Bawa Fitur AI Terbaru
- IHSG pada 14 April 2026 Ditutup Naik ke 7.675,95
Namun demikian, Farida mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat sepenuhnya diserahkan kepada teknologi. Ia menekankan pentingnya etika literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, terutama bagi jurnalis yang setiap hari memproduksi dan menyebarkan informasi.
“Di era digital, yang terpenting bukan hanya seberapa jauh kita menggunakan AI, tetapi seberapa besar kepedulian kita terhadap nilai kemanusiaan dan etika. Manusia tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas komunikasi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan global terkait kecepatan perkembangan teknologi yang kerap melampaui kesiapan regulasi. Meski demikian, pemerintah terus melakukan mitigasi terhadap risiko seperti misinformasi, disinformasi, serta ancaman keamanan siber. Saat ini, Indonesia tengah menyiapkan peraturan presiden terkait tata kelola Artificial Intelligence sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan nasional sekaligus mendorong inovasi yang bertanggung jawab.
Narasumber pertama, Rosarita Niken Widiastuti, turut menjelaskan bahwa AI bukan sekadar tren sementara, melainkan sistem yang akan digunakan dalam jangka panjang. Ia mencontohkan bagaimana teknologi harus disesuaikan dengan sistem yang berlaku di suatu negara, sebagaimana perangkat komunikasi yang tidak bisa digunakan tanpa penyesuaian frekuensi.
“AI sudah masuk ke hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatan dan teknologi bangunan. Dalam dunia medis, AI membantu proses operasi menjadi lebih presisi.
Di bidang arsitektur, desain tidak lagi hanya berupa gambar, tetapi langsung dapat diproyeksikan menjadi kebutuhan material,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan AI harus dipahami sebagai bagian dari transformasi digital yang menyeluruh.
Sementara itu, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Abdul Kohar, menyampaikan apresiasinya terhadap para jurnalis senior yang tetap mengikuti perkembangan teknologi. Ia menekankan bahwa di tengah perubahan pesat, integritas dan kejujuran tetap menjadi prinsip utama dalam jurnalisme.
Baca Juga:
- Mentengnya Palembang, Ada di Kambang Iwak
- Koalisi Media Alternatif : Kecam Keras Komdigi dan Dukung Magdalene
- Ramai Kritikan, SK Penanganan Disinformasi Dinilai Cacat Hukum
Ia mengisahkan bagaimana Media Indonesia pernah menampilkan karya berbasis AI sebagai sampul media dan secara terbuka menyatakan bahwa karya tersebut merupakan hasil adaptasi teknologi, bukan sepenuhnya karya fotografi konvensional. “Kejujuran adalah kunci. Jika itu produk AI, harus disampaikan sebagai produk AI. Integritas tidak boleh hilang,” ujarnya.
Melalui Insight Talks Vol.3 ini, para peserta diharapkan mampu memahami peluang dan tantangan AI secara seimbang. Kegiatan ditutup dengan sesi workshop interaktif yang dipandu oleh trainer berpengalaman, memberikan panduan praktis tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem digital yang sehat, inovatif, dan tetap menjunjung tinggi nilai etika serta kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang.(Magang/Luthfiah Revalina)

