KabarKito
Konsumsi Bensin Melonjak Saat Mudik, Berapa Emisi Karbonnya?
JAKARTA, WongKito.co - Konsumsi bensin (gasoline) di Indonesia diperkirakan melonjak signifikan selama periode mudik Lebaran 2026. Pemerintah memproyeksikan penggunaan bensin nasional meningkat sekitar 12% dibandingkan kondisi normal, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat yang pulang ke kampung halaman.
Lonjakan konsumsi bahan bakar, menjadi fenomena tahunan yang selalu terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Meskipun demikian, hingga saat ini belum tersedia data resmi yang secara khusus menghitung total emisi karbon dari konsumsi bensin selama periode mudik. Emisi biasanya dihitung secara agregat dari konsumsi bahan bakar nasional, tanpa pemisahan khusus untuk periode mudik.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pertamina Patra Niaga memantau pergerakan konsumsi energi selama periode mudik. Secara nasional, konsumsi bensin diperkirakan naik sekitar 12% dibandingkan hari normal.
Namun, tingkat kenaikan konsumsi berbeda-beda di setiap wilayah. Di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara misalnya, konsumsi bensin diproyeksikan meningkat sekitar 11,9% dari kondisi normal 18.430 kiloliter per hari. Sementara itu, wilayah Maluku dan Papua diperkirakan mengalami kenaikan yang lebih moderat, yakni sekitar 3,8% dibandingkan kondisi normal.
Sebagai perbandingan, pada arus mudik Lebaran 2023 lalu konsumsi bensin tercatat naik sekitar 6,4% dibandingkan rata-rata konsumsi bulan sebelumnya. Data historis ini menunjukkan tren peningkatan konsumsi bahan bakar yang terus berulang setiap musim mudik.
Potensi Lonjakan Emisi Karbon
Meskipun belum ada angka resmi mengenai total emisi karbon selama mudik, peningkatan konsumsi bahan bakar hampir pasti diikuti oleh kenaikan emisi gas rumah kaca.
Jutaan kendaraan bermotor, mulai dari mobil pribadi hingga sepeda motor, beroperasi secara bersamaan di berbagai jalur mudik. Kondisi lalu lintas yang padat bahkan macet di sejumlah titik juga berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar.
Dalam situasi kemacetan panjang, kendaraan cenderung mengalami pola stop-and-go atau berhenti dan berjalan secara berulang. Pola ini membuat mesin kendaraan membakar lebih banyak bahan bakar dibandingkan saat melaju stabil di jalan yang lancar.
Selain itu, kendaraan yang digunakan untuk mudik biasanya membawa lebih banyak penumpang serta barang bawaan, sehingga bobot kendaraan meningkat. Kondisi ini juga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon.
Dikutip dari berbagai sumber, Senin, 16 Maret 2026, secara umum, setiap 1 liter bensin menghasilkan sekitar 2,31 kilogram CO₂ ketika dibakar di mesin kendaraan.
Jika konsumsi bensin nasional rata-rata mencapai sekitar 90 juta liter per hari, maka kenaikan konsumsi sebesar 12% selama mudik berarti ada tambahan penggunaan sekitar 10,8 juta liter bensin per hari.
Dengan menggunakan faktor emisi tersebut, tambahan konsumsi ini diperkirakan menghasilkan sekitar 24.900 ton emisi CO₂ setiap hari. Jika lonjakan konsumsi berlangsung sekitar tujuh hari selama masa arus mudik dan balik, maka total tambahan emisi karbon dapat mencapai sekitar 175 ribu ton CO₂.
Sebagai gambaran, emisi sebesar 175 ribu ton CO₂ kira-kira setara dengan emisi tahunan lebih dari 38 ribu mobil berbahan bakar bensin, atau setara dengan pembakaran sekitar 75 juta liter bensin.
Jumlah ini menunjukkan jika peningkatan mobilitas masyarakat selama musim mudik tidak hanya berdampak pada konsumsi energi, tetapi juga memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi karbon dalam waktu yang relatif singkat.
Langkah Kurangi Emisi Akibat Mudik
Seiring meningkatnya kesadaran terhadap isu perubahan iklim, masyarakat juga mulai didorong untuk menerapkan kebiasaan mudik yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu cara paling efektif adalah menggunakan transportasi umum seperti kereta api atau bus. Selain lebih efisien dari sisi emisi, moda transportasi ini juga dapat membantu mengurangi kemacetan di jalur mudik.
Bagi pemudik yang tetap menggunakan kendaraan pribadi, penerapan eco-driving dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar. Mengemudi dengan kecepatan stabil, menghindari akselerasi mendadak, serta menjaga tekanan ban sesuai standar dapat menghemat bahan bakar hingga sekitar 10%.
- Begini Cara Jual Emas di Butik Antam dan Pegadaian
- PIM Midnight Shopping, Menangkan Speaker Bose & Air Fryer!
- Kronologi Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras
Selain itu, pemudik juga disarankan mengurangi beban kendaraan dengan membawa barang secukupnya serta memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat.
Secara keseluruhan, meskipun tidak ada data resmi mengenai total emisi karbon selama periode mudik, proyeksi kenaikan konsumsi bensin hingga 12% menunjukkan potensi peningkatan emisi karbon yang signifikan selama masa perjalanan Lebaran.
Dengan jutaan kendaraan yang bergerak secara bersamaan di seluruh Indonesia, periode mudik tetap menjadi salah satu momen dengan lonjakan konsumsi energi terbesar sepanjang tahun.
Tulisan ini telah di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 17 Maret 2026.

