Mahasiswa KKN Ajarkan Anak-Anak Berani Bersuara

(null)

PAGI itu, suasana disalah satu ruang kelas SMP Negeri 37 Palembang terasa sedikit berbeda, cahaya matahari yang masuk melalui jendela, menerpa wajah–wajah yang tampak  tegang.

Saat diminta berdiri dan memperkenalkan diri, beberapa siswa bangkit dengan ragu. Ada yang malu tersenyum ada yang menunduk,bahkan ada yang berbisik pelan sebelum kembali duduk.

“Takut salah kak,” ucap mereka hampir bersamaan, Selasa (10/2/2026). Kalimat sederhana itu menjadi jawaban yang paling sering terdengar sebuah pengakuan jujur tentang rasa cemas yang membuat suara mereka nyaris tak sampai kebarisan depan kelas.

Dari situlah mahasiswa KKN Rekognisi Kelompok 393 UIN Raden Fatah Palembang memulai langkah kecil mereka mendampingi para siswa memahami bahwa berbicara bukanlah soal menjadi sempurna,melainkan tentang keberanian untuk mencoba.

Baca  Juga:

Selama dua hari, Selasa dan Rabu 11 – 10 Februari 2026, mahasiswa KKN menghadirkan program edukasi public speaking di SMPN 37 Palembang. Bukan sekedar menyampaikan teori,tetapi membangun ruang aman bagi siswa belajar percaya diri sendiri.

Pada hari pertama, mahasiswa membuka kegiatan dengan pertanyaan sederhana,"siapa yang ingin menjadi pemimpin?siapa yang ingin sukses?,” hampir semua tangan terangkat, bergerak cepat dan tanpa ragu.

Namun ketika pertanyaan meluncur, “siapa yang berani berbicara didepan kelas?,” suasana tiba – tiba berubah. 
Tangan – tangan yang tadi terangkat tinggi perlahan turun, dan hanya segelintir siswa yang tetap bertahan dengan keberaniannya. Disitulah terlihat jelas mimpi besar mereka, namun keberanian untuk memulainya masih perlu ditumbuhkan.

Kontras itu menjadi refleksi penting. Mimpi untuk menjadi pemimpin dan meraih kesuksesan ternyata tidak selalu sejalan dengan keberanian untuk bersuara.

Mahasiswa kemudian menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukanlah bakat semata, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Mereka memaparkan teknik dasar secara sederhana mulai dari mengatur napas, menjaga kontak mata, menyusun secara runtut, hingga cara mengendalikan rasa gugup yang sering datang tanpa diundang.

Namun yang paling menyentuh bukanlah materi itu sendiri, melainkan cerita-cerita yang beredar. Para siswa berbagi pengalaman pribadi tentang rasa takut saat pertama kali berbicara di depan umum tentang tangan yang gemetar, suara yang bergetar, dan keinginan untuk menyerah sebelum benar-benar mencoba. Kisah-kisah itu membuat suasana mencair. Siswa mulai menyadari bahwa rasa takut bukanlah tanda ketidakmungkinan, melainkan bagian wajar dari proses belajar.

Memasuki hari kedua, suasana mulai menunjukan perubahan . jika sebelumnya keraguan lebih dominan, kini ada keberanian yang perlahan tumbuh. Satu persatu siswa diminta maju untuk berbicara. Awalnya, ruangan terasa sunyi, seolah semua menahan napas. Seorang siswa sendiri, memperkenalkan dirinya dengan suara pelan namun mantap. Teman – temannya menyimak tanpa tawa, tanpa rindu. Ketika ia selesai, tepuk tangan pun terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat senyum kecil diwajahnya.

Sederhana namun bermakna, seswa lain mulai mengikuti satu demi satu melangkah kedepan kelas melambangkan cita – cita, mereka ingin menjadi guru,dokter, bahkan polisi. Meski kalimat yang disampaikan masih singkat dan sesekali terhenti, keberanian untuk berdiri dan berbicara sendiri sudah menjadi pencapaian yang tak kecil.

Guru pendamping, Maleluan, Spd, menyampaikan bahwa selama ini masih ada siswa yang cenderung pasif dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, program ini menjadi penyemangat baru mendorong siswa untuk lebih berani dan aktif menyampaikan pendapat di kelas.

Baca Juga:

Koordinator kelompok 393 Alvin Asyraf Pratama, berdiri di sudut kelas sambil memperhatikan siswa – siswa yang mulai bernai maju. Baginya, kegiatan ini bukan semata – semata tentang teknik berbicara atau bagaiamana menyusun kalimat yang baik. Ada tujuan yang lebih dalam dari itu.

“Kami ingin mereka tahu bahwa suara mereka penting, mereka punya hak untuk didengar,” ujarnya pelan, namun tegas.

Dua hari mungkin terasa singkat. Namun, dari ruang kelas sederhana di SMP Negeri 37 Palembang itu tumbuh sesuatu yang lebih besar dari sekedar materi yaitu keberanian untuk berdiri ,berbicara,dan percaya pada diri sendiri.

Sebab, perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar, melainkan dari satu langkah kecil didepan kelas, ketika suara yang semula perlahan akhirnya menemukan keyakinannya dan perlahan menguat.(*)

Editor: Nila Ertina
Bagikan

Related Stories