KabarKito
Melawan Kabut Asap, Siswa Wajib Bermasker Saat Beraktivitas
PAGI itu, Senin (24/8/2026), salah seorang siswa SD di Kota Palembang, Nafis tetap mengenakan seragam putih merah seperti biasanya. Dasi merah tergantung di leher, tas sekolah sudah berada di punggungnya. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya.
Selembar masker menutupi sebagian wajah siswa kelas V SD Negeri 107 Palembang itu.
Di tengah kabut asap yang menyelimuti Palembang akibat kebakaran hutan dan lahan, masker kini menjadi bagian dari perlengkapan yang harus dibawa anak-anak saat berangkat ke sekolah.
Bagi Nafis, sekolah tetap berjalan. Ia tetap datang ke kelas, bertemu teman-temannya, dan mengikuti pelajaran. Tetapi suasana sekolah tidak lagi sepenuhnya sama.
Baca Juga:
- Gurita Bisnis Bank Digital di Indonesia
- Industri Pindar Perkuat Tata Kelola dan Kepercayaan di Era Digital
- Warga Palembang Padati Gala Premiere Baby Udon di XXI OPI
Lapangan yang biasanya menjadi tempat anak-anak berbaris setiap Senin pagi kini tidak seramai biasanya. Upacara bendera, yang menjadi rutinitas sebelum memulai pekan belajar, sementara ditiadakan.
Tidak ada barisan panjang siswa di bawah matahari. Tidak ada komando pemimpin upacara yang terdengar dari tengah lapangan.
Kabut asap telah mengubah kebiasaan sederhana anak-anak sekolah.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah sekolah di Palembang. Aktivitas yang mengharuskan siswa berada di luar ruangan mulai dikurangi, bahkan ditiadakan sementara. Bukan tanpa alasan. Anak-anak menjadi kelompok yang harus mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk.

Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kota Palembang telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 420/2318/DISDIK-I/2026 tentang kewaspadaan dan langkah antisipasi dampak kabut asap bagi seluruh satuan pendidikan di Kota Palembang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang, M. Affan Prapanca, meminta sekolah mengambil langkah untuk melindungi kesehatan peserta didik dan seluruh warga sekolah.
"Diperlukan langkah-langkah cepat dan terpadu untuk melindungi kesehatan serta keselamatan seluruh warga sekolah, salah satunya dengan membatasi aktivitas di ruangan,” kata dia.
Melalui kebijakan tersebut, sekolah diminta mengurangi kegiatan yang dilakukan di luar ruangan selama kondisi udara masih tidak sehat. Kegiatan seperti olahraga dan aktivitas luar kelas lainnya dapat ditunda atau ditiadakan sementara.
Penggunaan masker di lingkungan sekolah juga menjadi salah satu langkah yang dianjurkan.
Bagi Nafis dan teman-temannya, kebijakan itu mungkin terlihat sederhana. Hanya memakai masker dan tidak mengikuti upacara seperti biasanya. Namun, di balik perubahan kecil itu, ada situasi yang jauh lebih besar.
Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah telah membawa dampak hingga ke ruang kelas.
Asap dari lahan yang terbakar tidak mengenal batas. Ia bisa bergerak bersama angin, melintasi wilayah, lalu tiba di kota. Ketika sampai di Palembang, anak-anak seperti Nafis ikut merasakan dampaknya.
Mereka tidak memegang selang untuk memadamkan api. Mereka juga tidak berada di lokasi kebakaran.
Tetapi mereka harus memakai masker ketika udara yang mereka hirup tidak lagi sebersih biasanya.
Pemerintah Kota Palembang juga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap. Imbauan tersebut terutama menjadi perhatian bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak.
Di sekolah, pelajaran masih berlangsung.
Nafis tetap duduk di kelas bersama teman-temannya. Buku tetap dibuka dan guru tetap mengajar. Namun, ada kebiasaan yang untuk sementara harus ditinggalkan.
Dan masker, yang sebelumnya mungkin hanya digunakan ketika sedang sakit, kini ikut menjadi bagian dari pagi Nafis sebelum berangkat ke sekolah.
Kabut asap telah mengubah banyak hal.
Bagi orang dewasa, karhutla mungkin berbicara tentang jumlah hektare lahan yang terbakar, titik panas, atau upaya pemadaman.
Baca Juga:
- Festival Perahu Bidar 2026 Meriahkan HUT RI di Sungai Musi
- JPPI Soroti Rp240 Triliun MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027
- Jalan Terjal Tak Halangi Mantri BRI Dampingi Pelaku Usaha Cianjur Selatan
Namun, bagi seorang anak seperti Nafis, dampaknya terasa lebih sederhana.
Ia hanya ingin pergi ke sekolah, belajar bersama teman-temannya, dan berdiri di lapangan saat upacara bendera.
Tetapi pagi ini, ia harus melakukannya dengan cara yang berbeda. dengan masker menutupi wajahnya.
Dan dengan langit Palembang yang tidak lagi terlihat secerah biasanya.(Senia Aprinia Sari)

