Musim Hujan, Produksi Ikan Asin Turun

Pekerja menjemur ikan asin, produksi ikan asin menurun saat musim hujan (Foto WongKito.co/Fathul Salbani Ihsan)

BAGI Ahyar Mudin (65), pelaku usaha kecil pembuatan ikan asin, musim hujan adalah saat terpaksa mengurangi produksi.

Ahyar bercerita biasanya pada akhir tahun hingga memasuki bulan kedua tahun baru, produksi ikan asin miliknya berkurang signifikan. Karena, cuaca tidak mendukung dan musim angin barat juga menjadi penyebab pasokan ikan terbatas.

"Kami tidak bisa menjemur ikan karena hujan terus, padahal saat musim kemarau bisa memroduksi hingga 400 kilogram per hari," kata dia dibincangi reporter WongKito.co, Sabtu (10/1/2026).

Kondisi saat ini, menurut dia kadang hanya bisa menghasilkan 70 kilogram saja ikan asin, dalam tiga hari.

Baca Juga:

Akibatnya, Ahyar mengaku terpaksa mengurangi beban produksi termasuk hanya mempekerjakan paling banyak lima orang saja.

Ahyar Mudin (65), pelaku usaha kecil pembuatan ikan asin

Hal itu, tentu bertolak belakang ketika musim kemarau ia mampu mempekerjakan setidaknya 10 orang yang merupakan tetangga di Kampung Siabang, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan tersebut.

Andalkan Matahari

Hingga kini, diakui Ahyar dalam memroduksi ikan asin hanya mengandalkan panas matahari sebagai pengering ikan.

Ikan yang diproduksi menjadi ikan asin tersebut sebagian besar adalah hasil tangkapan nelayan dari laut di daerah Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan. Adapun beragam  jenis ikan, yang diolah menjadi ikan asin, seperti ikan kepala batu dan ikan pari.

Namun, ikan tangkapan dari perairan air tawar juga menjadi variasi dari ikan asin yang diproduksi dengan pekerjanya mayoritas ibu rumah tangga tersebut.

Ahyar mengatakan kalau beberapa pekan lalu mendapat alat pengering dari ketua RT setempat, hanya saja hingga kini belum digunakan.

"Kami belum bisa menggunakan alat pengering bantuan tersebut, karena kapasitasnya juga belum sesuai dengan kebutuhan," kata dia.

Penggunaan panas matahari kata dia hingga kini belum bisa tergantikan.

Apalagi, ketika musim kemarau biasanya pengeringan ikan sebanyak 300 kilogram bisa selesai dalam waktu setengah hari saja, tambah dia.

Pekerja membersihkan ikan sebelum dijemur

Modal usaha

Sebagai pelaku usaha mikro, Ahyar mengakui hingga kini masih terkendala modal.

Ia merinci untuk membeli 100 kilogram ikan dari nelayan saja membutuhkan Rp800 ribu modal yang harus dikeluarkan.

Biaya tersebut belum termasuk dengan upah pekerja dan memenuhi kebutuhan biaya produksi lainnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah atau stakeholder lainnya berperan dalam mendukung usaha yang digelutinya tersebut.

"Usaha kami ini kecil, tetapi hingga kini berkelanjutan dan berdampak pada mempekerjakan warga sekitar, sehingga sangat penting untuk mendapatkan dukungan permodalan," kata dia pria yang telah membuka usahanya sejak belasan tahun lalu ini.

Apalagi, tambah dia ikan asin yang diproduksi tidak lagi perlu mencari pasar, karena biasanya langsung dipasok ke pengepul ikan asin di Pasar 10 Ulu.

"Setiap hasil produksi ikan asin, sudah ada yang membeli," kata dia menyakinkan.(Miftahur Rizki, Fathul Salbani Ihsan/ert)

Editor: Nila Ertina

Related Stories