Nyepi 2026 Momentum Penyucian Diri dan Penguatan Harmoni dengan Alam

Pura Agung Sriwijaya Palembang tampak sepi dan tertutup, Kamis (19/3/2026). (wongkito.co/yulia savitri)

PALEMBANG, WongKito.co  – Sekitar 32.000 kepala keluarga (KK) umat Hindu di Provinsi Sumatera Selatan melaksanakan rangkaian Hari Suci Nyepi Tilem Kesanga Tahun 2026 sebagai momentum penyucian diri, introspeksi spiritual, serta penguatan harmoni antara manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Pembina Perkumpulan Adat Bali Sumatera Selatan (PABSS), IGB Surya Negara menyampaikan, pelaksanaan Nyepi tahun ini dilakukan secara khidmat di berbagai tempat mulai dari rumah tangga, lingkungan keluarga, desa, hingga pura-pura yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. 

"Secara simbolik, kegiatan tingkat provinsi dipusatkan di Pura Agung Sriwijaya, Kota Palembang," ungkapnya, Jumat (13/3/2026).

Rangkaian perayaan Nyepi telah diawali dengan Upacara Melasti pada 14 Maret 2026 yang dilaksanakan di Desa Mulyasari, Kecamatan Tanjunglaga, Kabupaten Banyuasin. Upacara Melasti merupakan prosesi sakral dalam tradisi Hindu yang bertujuan menyucikan diri, alam semesta, serta sarana upacara dengan memohon tirta suci dari sumber air kehidupan.

Sementara itu, kegiatan persembahyangan Nyepi bagi umat Hindu di Palembang dan sekitarnya dipusatkan di Pura Agung Sriwijaya pada tanggal 18–19 Maret 2026.

Tokoh Hindu Dresta Bali, Ida Pedanda Gede Made Gunung menyampaikan, Nyepi merupakan momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri serta memperkuat kesadaran spiritual.

“Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dunia, memasuki keheningan batin, dan menata kembali keseimbangan hidup dengan Tuhan, alam, serta sesama manusia.”

Dalam tradisi Hindu, Hari Suci Nyepi dijalankan melalui Catur Brata Penyepian, yaitu empat bentuk pengendalian diri yakni tidak menyalakan api atau cahaya secara berlebihan (amati gni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungon), serta tidak menikmati hiburan atau kesenangan duniawi (amati lelangon); dijalankan dengan puasa 24 jam.

Selain sebagai momentum spiritual, perayaan Nyepi juga diharapkan semakin memperkuat nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Sumatera Selatan. Dalam semangat kebersamaan tersebut, umat Hindu menyampaikan Selamat menjalankan ibadah puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri kepada umat Muslim, serta Selamat Tahun Baru Imlek kepada umat Konghucu dan masyarakat yang merayakannya.

Pada hakikatnya rangkaian perayaan Nyepi juga merupakan wujud implementasi dari ajaran Tri Hita Karana, memelihara hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitarnya; yaitu antara lain dengan melaksanakan Melasti, Mecaru Taur Kesanga, dan Catur Berata Penyepian.

"Melalui perayaan Hari Suci Nyepi Tilem Kesanga Tahun 2026 ini, umat Hindu berharap nilai keheningan, kedamaian, introspeksi diri, dan keseimbangan hidup dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman bangsa Indonesia," ucapnya. (*)

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories