Ekonomi dan UMKM
Pertamina Produksi 50 Ribu Ton Biji Plastik Polytam 2025
PALEMBANG, WongKito.co - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju sepanjang tahun 2025 telah memproduksi sebanyak 50.050 ton produk biji plastik dengan merk Polytam dari unit Polypropylene. Jumlah produksi itu melampaui 114% dari target RKA 2025.
Angka ini relatif sama dengan produksi Polytam sepanjang 2024 yang diproduksi sebesar 50 ribu ton. Rata-rata, produksi Polytam di Kilang Pertamina Plaju sebesar 4,1 ribu ton per bulan selama 2025.
Pencapaian ini semakin menguatkan kontribusi Kilang Pertamina Plaju dalam industri petrokimia guna pemenuhan bahan baku plastik dan mengurangi ketergantungan impor.
Baca juga:
- Momen HBKN dan Tahun Baru Inflasi Sumsel Tetap Terkendali
- Pertamina Pastikan Kelancaran Posko ESDM Nataru 2025–2026
- Salah: Link Cek Status Penerima BSU 2026 Via Kemnaker
Polytam, dengan formula kimia (C₃H₆)ₙ, menjadi salah satu produk andalan yang tidak hanya unggul dalam kualitas, tetapi juga terjamin keamanannya untuk konsumen. Sejak lebih dari lima dekade, Polytam telah mendukung industri kemasan, otomotif, dan rumah tangga melalui pasokan bahan baku plastik yang stabil dan berkualitas tinggi.
Produk Polytam digunakan secara luas sebagai bahan baku industri plastik, antara lain plastic film (Film Grade) untuk kemasan makanan, cap botol dan general houseware (Injection Grade), serta woven bag (Yarn Grade).
Polytam memiliki tiga keunggulan utama, yaitu Good Processability, Good Openability, dan Good Optical Properties, yang menjadikannya mudah diproses, tidak mudah menempel antar lapisan film, serta memiliki kejernihan dan warna putih yang menarik. Kualitas ini membuat Polytam menjadi pilihan utama bagi industri yang menuntut bahan plastik dengan standar tinggi, tahan panas, dan aman untuk kemasan makanan.
Keunggulan Polytam tidak hanya terletak pada performa produknya, tetapi juga pada sumber bahan bakunya yang sepenuhnya berasal dari lokal. Bahan baku utama Polytam dihasilkan dari unit Fluid Catalytic Cracking (FCC) di Kilang Pertamina Plaju, yang kemudian dimurnikan menjadi Propylene dengan tingkat kemurnian minimal 99,6% sebelum diproses lebih lanjut menjadi polypropylene.
Langkah ini menjadikan Kilang Pertamina Plaju sebagai contoh nyata kemandirian industri petrokimia nasional, dengan rantai pasok yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri.
Komitmen Kilang Pertamina Plaju untuk memenuhi permintaan pasar terus diwujudkan melalui peningkatan kapasitas dan teknologi produksi. Berdiri dengan kapasitas awal sebesar 20.000 ton per tahun, pada tahun 1993 dilakukan revamping unit Purifikasi serta pembangunan unit Polimerisasi baru
Area Manager Communication, Relations & CSR RU III Plaju, Siti Fauzia di Palembang , Selasa mengatakan, dalam proses produksinya, Kilang Pertamina Plaju didukung oleh 54 perwira di bagian Produksi dan 2 orang Process Engineer yang berkompeten, memastikan setiap tahap operasional berjalan sesuai dengan standar mutu dan keselamatan kerja yang tinggi. Polytam juga telah mendapatkan berbagai sertifikasi yang menjamin keamanan dan kehalalannya, di antaranya Sertifikat Halal (No. LPPOM-00170076840516) dan Sertifikat Food Grade (Nomor Hasil Uji 0603/KMP/2024).
Kilang Pertamina Plaju secara rutin menjalani audit halal setiap dua tahun sekali, disertai dengan pelatihan penyelia halal bagi seluruh bagian internal yang terlibat dalam proses produksi, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan kepatuhan terhadap standar nasional maupun internasional.
Distribusi Polytam mencakup enam unit pemasaran utama di wilayah Sumatera dan Jawa, yakni Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Produk ini terutama menyasar industri kemasan makanan dan minuman, karena Polytam memiliki ketahanan panas dan oksidasi yang baik, warna putih bersih, serta karakteristik food grade yang aman bagi kesehatan. Jangkauan distribusi yang luas memastikan Polytam dapat menjangkau berbagai sektor industri dan memperkuat rantai pasok bahan baku nasional secara efisien.
Perusahaan senantiasa mendorong budaya inovatif guna memastikan kebaruan dan agar dapat terus menyesuaikan dengan permintaan pasar. Hal ini penting mengingat Petrochemical kedepannya akan menjadi bisnis masa depan Pertamina, katanya.

