BucuKito
PKM Kemitraan Muslimat NU Dorong Pengembangan Budidaya Jamur Tiram
MUARAENIM, WongKito.co — Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kemitraan Muslimat NU, di Desa Bitis, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, turut menggali potensi budidaya jamur tiram sebagai salah satu peluang pengembangan ekonomi masyarakat. Budidaya tersebut, menjadi salah satu potensi lokal yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan limbah dan pengolahan produk turunan.
Salah satu pelaku budidaya jamur tiram di Desa Bitis, Rosita, telah menjalankan usaha tersebut sejak 2011. Ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya membudidayakan jamur tiram berawal dari melihat potensi ekonomi sekaligus memanfaatkan limbah kayu yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Selain dari memanfaatkan limbah, limbah kayu mempunyai potensi dibikin media jamur. Jadi ada dua hal, memanfaatkan limbah yang ada menjadi potensi ekonomi,” ujarnya.
Baca Juga:
- Jalan Terjal Tak Halangi Mantri BRI Dampingi Pelaku Usaha Cianjur Selatan
- JPPI Soroti Rp240 Triliun MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027
- Festival Perahu Bidar 2026 Meriahkan HUT RI di Sungai Musi
Ia menjelaskan dalam proses budidayanya, limbah kayu digunakan sebagai salah satu bahan utama media tanam atau baglog. Bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan dedak atau bekatul, tepung jagung, dan kapur.
Setelah melalui proses pencampuran dan fermentasi selama satu hari satu malam, media tanam dimasukkan ke dalam baglog untuk kemudian disterilisasi menggunakan steamer, ujar dia lagi.
Menurut Rosita, proses sterilisasi dilakukan selama sekitar 12 jam dengan suhu mencapai 100 derajat Celsius. Setelah didinginkan selama satu hari satu malam, baglog kemudian melalui proses pembibitan dan ditempatkan di ruang inkubasi selama kurang lebih satu bulan hingga siap menghasilkan jamur.
Dari proses tersebut, setiap satu baglog dapat menghasilkan sekitar 0,4 kilogram jamur. Produksi tersebut berlangsung dalam kurun waktu sekitar tiga bulan sebelum media tanam diganti dengan yang baru, tambah dia.
Selain menjual jamur dalam kondisi segar, Rosita juga mengembangkan berbagai produk turunan untuk meningkatkan nilai jual. Produk tersebut antara lain jamur krispi, stik jamur, pangsit jamur, kemplang jamur, kerupuk jamur, basreng jamur, abon jamur, serundeng jamur, dan sumpia jamur. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 16 produk turunan yang telah dikembangkan.
Produk jamur tersebut dipasarkan di pasar lokal hingga Pasar Induk Jakabaring. Sementara itu, harga jamur segar yang pada awal usaha sekitar Rp10.000, kini meningkat menjadi Rp25.000 per kilogram untuk harga agen pada 2026.
Dalam pengembangannya, budidaya jamur tiram juga menghadapi sejumlah kendala. Kebersihan lingkungan dan proses sterilisasi menjadi perhatian utama karena kondisi yang kurang steril dapat memicu munculnya hama seperti kutu kebul yang menyerang miselium pada media tanam.
“Lingkungan harus bersih, terus steamernya harus benar-benar 100 derajat. Kalau itu tidak mencapai 100 derajat dan lingkungannya kotor, itu terdampak kuman,” jelas dia.
Rosita juga menjelaskan bahwa media tanam yang telah selesai digunakan masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik, pupuk kandang, maupun bahan pembuatan briket. Hal tersebut membuat proses budidaya jamur tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga dapat memanfaatkan kembali limbah produksinya.
Selain melihat proses budidayanya, Dara, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Perbankan Syariah, UIN Raden Fatah Palembang yang mengikuti kegiatan PKM Kemitraan Muslimat NU di Desa Bitis, tertarik untuk mengangkat cerita tentang usaha jamur tiram tersebut.
Menurutnya, usaha yang sudah dijalankan sejak 2011 ini punya cerita yang menarik, mulai dari memanfaatkan limbah kayu sebagai media tanam sampai mengolah jamur menjadi berbagai produk.
“Menurut saya, ini menarik untuk diangkat karena ternyata dari limbah kayu bisa dimanfaatkan menjadi media jamur dan menghasilkan nilai jual. Apalagi jamurnya juga tidak hanya dijual segar, tapi sudah diolah menjadi berbagai macam produk,” ujar Dara.
Baca Juga:
- Asrama Putri Randik Muba di Jogja jadi Percontohan
- Simak Peta Persaingan Kedai Kopi 2026, Kopken tetap di Posisi Puncak
- Kekeringan Ancam Panen Jagung, Petani Muara Sugihan Keluhkan Sulitnya Air
Melalui kegiatan PKM Kemitraan Muslimat NU, potensi budidaya jamur tiram di Desa Bitis diharapkan dapat menjadi salah satu peluang pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya melalui keterlibatan perempuan dalam proses produksi dan pengolahan produk.
Rosita berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa peralatan modern untuk membantu meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas jamur di Desa Bitis.
“Harapan kami ke pemerintah bisa memberikan support dalam bentuk bantuan peralatan-peralatan yang modern, sehingga budidaya jamur di Desa Bitis ini bisa lebih meningkat dan mempunyai jamur yang berkualitas,” ujarnya.(Nasya Aqillah)

