PT Mitra Aren Indonesia-Rabo Foundation Kolaborasi Bantu Petani Aren Jawa Barat

Pimpinan dan Karyawan PT Mitra Aren Indonesia bersama perwakilan petani menerima kunjungan Rabo Foundation wilayah Asia, di Sukabumi, Jawa Barat (Nila WongKito.co)

SUKABUMI - PT Mitra Aren Indonesia (MAI) berkolaborasi dengan Rabo Foundation mendorong kesejahteraan petani aren, pada sejumlah kawasan di Jawa Barat dan Banten sebagai langkah untuk meningkatkan taraf hidup petani.

Program Manager Asia-Rabo Foundation, Mark Koppejan mengatakan salah satu program Rabo Foundation adalah menyasar petani dengan memberikan beragam bantuan dan pendampingan bermitra dengan organisasi atau pelaku usaha lokal.

"Selama dua pekan saya berada di Indonesia untuk mengunjungi sejumlah mitra di Jawa Barat dan Sulawesi Tengah serta Jakarta tentunya," kata Mark, mewakili lembaga asal Belanda tersebut, di sela-sela kunjungannya ke pabrik gula aren milik PT MAI, di Sukabumi, Sabtu (28/5/2022).

Kali ini, Mark bersama tim secara khusus mengunjungi pabrik pengolahan aren  PT MAI di kawasan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya ingin melihat langsung proses pengolahan gula aren menjadi sejumlah produk berkualitas dari mitra kami, PT MAI," ujar dia.

Baca juga:

Ia menjelaskan hingga kini, Rabo Foundation telah berkolaborasi dengan 45 koperasi dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Sebagai bentuk komitmen memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Bantuan yang diberikan adalah berupa modal usaha dengan bunga kecil, pemberian bibit tanaman, perbaikan sarana dan pelatihan untuk mitra dalam meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

Untuk itu, Rabo Foundation juga secara khusus mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mendanai konsultan sesuai dengan kebutuhan mitra usaha.

Dengan PT MAI, Mark menambahkan pihaknya tidak hanya ingin memastikan produk yang dihasilkan pabrik tersebut berkualitas dan juga komitmen pelaku usaha dalam penggunaan bahan-bahan yang tidak mengandung pengawet sintetis alias kimia.

Secara khusus juga memastikan bagaimana Mitra Aren Indonesia menjadi relasi bisnis dengan petani tidak hanya sebagai pemasok gula aren murni.

Sejauh ini, Mark mengatakan kalau dirinya sangat mengapresiasi langkah-langkah PT MAI dalam menjaga keberlanjutan rantai pasokan gula aren dengan menjadikan petani sebagai mitra.

Hal itu, seiring dengan komitmen Rabo Foundation meningkatkan taraf hidup petani kecil yang merupakan bagian dalam rantai pasok agribisnis.

Program Manager Asia-Rabo Foundation, Mark Koppejan didampingi pemilik PT Mitra Aren  Indonesia, Iis Letty J mengecek keterangan salah satu produk berupa gula aren cair di pabrik kawasan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat

Rangkul Petani Muda

Tak hanya mendorong petani menghasilkan produk aren yang berkualitas premium, PT MAI sejak beberapa tahun ini juga telah melibatkan petani-petani muda.

Bahkan bukan hanya dari kelompok usia milenial, tetapi juga merangkul generasi Z untuk mau menjadi bagian dari proses menghadirkan produk aren berkualitas tersebut.

Salah satunya, Nogi (22), pemuda yang bermukim di kawasan Gunung Halimun, Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sejak tiga tahun ini konsen menjadi bagian dari menjaga kelestarian aren yang tumbuh dengan subur di kawasan tersebut.

"Saya merasa terpanggil sebagai pemuda untuk menjaga warisan leluhur, salah satunya tanaman aren," kata dia.

Pohon aren, tambah Nogi telah menjadi sumber penghidupan keluarganya secara turun temurun. Karena itu, kalau bukan dirinya siapa lagi mempertahankan eksistensi pohon yang setiap bagian dari batangnya memiliki beragam manfaat tersebut.

Apalagi, sejak 3 tahun ini Ia mengaku terhubung dengan PT MAI yang sangat membutuhkan gula aren berkualitas, untuk diproduksi menjadi gula semut dan gula cair.

Tak hanya sebatas menjual gula aren ke PT MAI, petani gula aren yang kini telah menjadi bagian dari komunitas  yang diinisiasi petani muda tersebut juga mendapatkan bimbingan dan pelatihan bagaimana menghasilkan produk yang diinginkan pasar.

"Ibu Letty, tak hanya meminta kami memroduksi gula aren sesuai standar yang mereka butuhkan, tetapi juga memberikan peralatan pendukung memasak gula aren secara cuma-cuma," kata dia lagi.

Sedangkan untuk wilayah Cikadu, Provinsi Banten, Surya yang merupakan simpul petani di kawasan tersebut dengan anggota sekitar 50 orang petani mengungkapkan kalau telah didatangi tim Rabo Foundation untuk melihat langsung aktivitas petani aren.

Kegiatan petani dari mulai menyiapkan penyadapan nira aren hingga memroduksi gula aren telah disaksikan secara langsung perwakilan Rabo Foundation di wilayah tersebut, sekitar 6 bulan lalu.

"Tahapan pengolahan nira aren menjadi gula aren menjadi salah satu bagian penting dalam rantai produksi sehingga memang benar-benar harus dijaga sesuai standar dan kualitas yang telah ditetapkan PT MAI," kata Surya.

Ia mengungkapkan setiap petani aren di wilayah tersebut mampu menghasilkan sekitar 70 kilogram  gula aren berkualitas setiap pekannya.

"Ada 50 petani yang telah rutin menghasilkan gula aren berkualitas yang secara rutin memasok ke pabrik," ujar dia.

Sejauh ini, ia mengakui kalau petani sangat diuntungkan bukan hanya dengan harga beli yang stabil dari pabrik tetapi hal penting lainnya, PT MAI juga tidak hanya membeli produk tetapi juga memperhatikan kondisi petani.

Keberlangsungan hidup petani aren di wilayah Cikadu, tentunya sangat bergantung pada produksi gula aren. Hal itu, menjadi komitmen bagi dirinya untuk tetap menjaga agar aren tetap menjadi sumber kehidupan masyarakat desa.

Pemilik PT Mitra Aren Indonesia, Iis Letty J mengungkapkan prinsipnya sebagai pelaku usaha dirinya tidak hanya ingin mendapatkan keuntungan sepihak, tetapi bagaimana usaha yang dijalankannya tersebut bermanfaat juga untuk masyarakat  banyak, diantaranya adalah petani.

Selain itu, perempuan yang telah jatuh bangun membangun usaha sejak tahun 2000 memilih bisnis gula aren sebagai bagian upaya menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Hal itu, juga didukung dengan pemanfaatan bahan baku alami dalam setiap proses produksi gula aren dan turunannya.(*)
 

Editor: Nila Ertina

Related Stories