Rumah Limas: dari Warisan Budaya ke Destinasi Wisata

Rumah Limas: dari Warisan Budaya ke Destinasi Wisata (Foto WongKito.co/Magang/Ani Mustika Wati)

LANGIT pagi di kawasan Demang Lebar Daun begitu cerah. Di tengah hiruk pikuk kawasan tersebut, sebuah rumah adat berdiri anggun seolah tak terusik oleh zaman, Rumah Limas Palembang, Museum Adat. Struktur atapnya yang berbentuk limas, tampak menjulang tinggi dengan ukiran yang memantulkan sinar matahari.

Begitu memasuki pekarangan, pengunjung akan langsung disuguhkan Rumah Limas panggung. Bagian depannya dipenuhi ukiran ornamen emas, terdapat pula dua tangga, salah satunya  menjadi jalan untuk menuju ke dalam rumah. 

Langkah kaki terdengar pelan ketika menaiki tangga kayu unglen, kedua sisinya dihimpit pagar kayu berornamen emas sebagai pegangan dan penjagaan. Sesampainya di depan pintu, pengunjung akan disambut oleh salah satu pengurus atau staf dari rumah adat tersebut.

Ia datang sebagai pemandu, menjelaskan setiap ruang dan sudut yang memiliki cerita. Di sela-sela itu, aroma kayu tua bercampur angin pagi menyusup melalui jendela-jendela yang terbuka. Menghantarkan perasaan damai dan klasik seperti alunan musik Gending Sriwijaya yang disetel.

“Suasana saat datang ke sana terasa sekali berbeda. Melihat interior dinding, atap, tiang, serta barang-barangnya membuat kita seakan-akan merasakan kembali kehidupan pada zaman dulu,” ujar Intan (19), salah satu mahasiswi yang pernah datang berkunjung.

Baca Juga:

Jika ditarik ke masa lalu, rumah limas ini awalnya digunakan sebagai galeri sekaligus tempat berkumpul keluarga. Rumah tersebut mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai di tahun 1991 oleh H. Aziz, pemilik rumah. Kemudian, pada tahun 2018 mulai di buka untuk umum hingga saat ini.

“Rumah Limas ini mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesainya di tahun 1991 oleh bapak H. Aziz Hamid,” ujar Anggun (20), salah seorang pemandu di rumah tersebut.

Beberapa langkah dari pintu masuk, terlihat kursi-kursi serta meja-meja yang letaknya di tingkatan lantai yang berbeda. Hal ini menjadi menarik, karena rumah limas ini ternyata memiliki tingkatan atau kijing. Ia melambangkan kedekatan antara tuan rumah dan tamu. Kijing pertama, untuk tamu yang tidak dikenal. Kijing kedua, untuk teman dekat. Sementara itu, kijing ketiga dan seterusnya ke dalam, untuk sanak saudara atau keluarga.

Tak hanya itu, dinding-dinding kayunya pun penuh dengan ukiran ornamen emas yang dipadukan dengan warna merah. Itu karena, pengaruh dari budaya Cina dan budaya Jawa meskipun sedikit.

“Ciri khas Palembang itu ada pada warna merah dan emas. Warna tersebut muncul karena adanya pengaruh budaya Tionghoa dan sedikit dari Jawa, meskipun pengaruh Tionghoa lebih dominan,” ujarnya.

Kalau masuk lebih dalam lagi, setelah melewati pintu tengah, ada dua kamar. Di sisi kanan merupakan kamar keluarga yang identik dengan kursi-kursi kecil. Sebab, orang-orang Palembang menyukai berkumpul bersama dalam satu rumah, mulai dari anak-anak hingga cucu-cucunya. Di kamar tersebut juga ada ambengan dan lemari bercermin.

Sementara di sisi kiri, ada kamar pengantin yang berdiri megah. Kamar ini beralaskan kain songket khas Palembang dan memiliki cermin berukuran besar. Di sudut cermin, ada sebuah timbangan yang melambangkan keseimbangan dalam berumah tangga. Tumpukan bantal warna-warni tersusun rapi dibagian kepala ranjang, sementara dua lemari kecil berukir emas di sisi kanan dan sisi kiri.

Foto dengan Baju Adat Palembang

Di samping kamar pengantin, ada ruang makan dan lemari kayu berkaca, digunakan untuk menyimpan barang-barang koleksi lama atau peninggalan-peninggalan lama milik H. Aziz. Di lain sudut ruangan, ada juga gerobok lengket, yaitu lemari yang menyatu dengan dinding.

Tidak cukup sampai di sana, rumah limas ini ternyata memiliki ruang utama untuk berkumpulnya keluarga besar, tepat di bagian tengah ruangan. Di sana, ada sofa, lemari-lemari kayu ukir dan berkaca yang penuh dengan piring-piring hias serta guci-guci kecil, pelaminan, foto-foto keluarga dan juga satu sudut tempat penyewaan kain songket, baju adat khas Palembang yang bisa digunakan untuk berfoto.

Tak hanya menyimpan keindahan arsitektur serta perabotan tradisional, rumah limas ini juga dimanfaatkan sebagai tempat berbagai aktivitas. Banyak para pengunjung datang untuk mengabadikan momen dengan latar rumah adat yang megah. Keindahan interiornya menjadikan rumah ini kerap dipilih sebagai lokasi foto, mulai dari foto santai hingga sesi prewedding.

Ketika pengunjung berfoto dengan menyewa baju adat, mereka akan mendapatkan dua spot foto yang sudah disediakan, lengkap dengan fotografernya. Setelah sesi tersebut usai, pengunjung juga diperbolehkan berfoto secara bebas di berbagai spot lain yang ada di dalam rumah.

Rumah Limas ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Namun, khusus pada hari Minggu, jam operasionalnya hanya sampai pukul 14.00 karena merupakan hari libur.

Untuk bisa menikmati suasana tersebut, pengunjung harus membayar tiket masuk Rp15.000 per orang untuk setengah jam. Jika berfoto dengan baju adat, harganya Rp150.000 per orang, dan untuk menyewa ruang prewedding harganya Rp1.000.000 per jam. Adapun untuk ngidang, harganya Rp170.000 per orang dengan jumlah maksimal 32 orang.

Baca Juga:

Tidak jauh dari bangunan utama, sebuah aula juga tersedia dan dapat disewa untuk berbagai acara, seperti resepsi pernikahan maupun perayaan kelulusan. Harga sewa untuk resepsi pernikahan Rp170.000.000 lengkap dengan kateringnya. Jika hanya menyewa gedungnya saja, harganya Rp75.000.000.

Anggun mengatakan, ketika menjelang hari libur lebaran, tidak banyak persiapan yang dilakukan, selain membersihkan rumah dan semua isinya secara rutin seperti biasanya serta menggubah suasana menjadi nuansa lebaran. Ia mengakui, selama dua tahun bekerja di sana, tidak menemukan kendala yang berat, semua pekerjaan berjalan lancar dan baik.

Saat langkah kaki perlahan meninggalkan halaman rumah limas, keindahan ukiran dan nuansa tradisionalnya masih terasa membekas. Rumah ini seakan tidak hanya menyimpan sejarah dan menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi orang-orang untuk merayakan berbagai momen penting dalam hidup mereka. (Magang/Ani Mustika Wati)

Editor: Nila Ertina

Related Stories