Ragam
Simak 4 Tips Investasi Emas Saat Harga Tinggi
JAKARTA - Harga emas semakin melejit mendekati level Rp3 juta per gram. Hal ini menjadi tolak ukur bagi masyarakat khususnya anak muda, untuk berinvestasi secara tepat tanpa harus terbawa kesan Fear of Missing Out (FOMO).
Sebagai informasi, FOMO merupakan kondisi seseorang yang merasa cemas dan takut ketinggalan tren saat ini. Kondisi ini kerap terjadi di kalangan anak muda, yang merasa harus mengikuti tren perkembangan tanpa memikirkan dampak dalam jangka panjang.
Melansir dari laman Logam Mulia, Senin, 26 Januari 2026, harga emas saat ini naik sebesar Rp30.000 dan berkisar pada harga Rp2.917.000 per gram. Dalam konteks ini, kenaikan harga emas dapat dicermati secara tepat, terutama terkait penggunaannya sebagai instrumen investasi.
Harga emas Antam yang melonjak ini sebagian dipicu oleh sentimen pasar global, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Tren tersebut membuat banyak investor dan calon investor khususnya anak muda, mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk membeli emas.
Baca juga:
- Yuk Buat Bolu Singkong Kukus yang Enak
- 15 Tips Persiapan Jika Listrik Mati Total 7 Hari
- KKN UIN Palembang: Hidupkan Syiar Islam di Desa Sugihan
Melansir dari The Economic Times, Senin, 26 Januari 2026, sejumlah analis mengingatkan bahwa emas tetap memiliki risiko tersendiri. Harga emas yang mencapai level tertinggi sering kali diikuti oleh volatilitas dan peluang koreksi harga secara tiba-tiba. Kondisi ini menjadi perhatian besar, sehingga investor tidak boleh membeli emas secara sembarangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup semata.
Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Supaya Tidak FOMO Saat Membeli Emas:
1. Kenali tujuan dan jangka waktu investasi
Investor perlu memastikan tujuan membeli emas secara jelas, seperti untuk melindung nilai jangka panjang (safe haven), dana darurat, atau tujuan lain. Tanpa tujuan yang terukur, keputusan beli hanya karena FOMO bisa berujung volatilitas yang tak terduga dan mengganggu rencana keuangan.
2. Jangan membeli saat tren meningkat

Melihat kondisi pasar yang ramai tanpa melihat faktor fundamental, menjadi jebakan herd mentality. Jebakan ini terjadi saat keputusan investasi didorong oleh emosi tanpa adanya analisis yang matang. Perilaku tersebut mengakibatkan kerugian, yang disebabkan keserakahan melakukan investasi secara terburu-buru.
3. Pertimbangkan strategi pembelian bertahap
Sebelum membeli emas, investor harus membuat strategi yang akan diterapkan secara ke depan. Daripada mengikuti FOMO membeli emas saat harga tinggi, lebih baik terapkan strategi dollar-cost averaging atau membeli emas secara berkala.
Strategi ini dapat membantu meratakan harga beli rata-rata dan mengurangi risiko yang terjadi, sekaligus mengurangi dampak volatilitas jangka pendek.
4. Lihat bentuk emas yang dibeli

Emas sebagai instrumen investasi tidak hanya terbatas pada bentuk fisik seperti batangan. Saat ini, investor juga memiliki pilihan lain seperti emas digital maupun Gold ETF yang menawarkan tingkat likuiditas lebih tinggi serta biaya penyimpanan yang relatif lebih rendah dibandingkan emas konvensional.
Melansir dari Physical Gold, Senin, 26 Januari 2026, para pakar investasi menilai diversifikasi portofolio jauh lebih penting dibandingkan menempatkan seluruh dana pada satu instrumen saja. Strategi investasi yang mengombinasikan emas, saham, serta instrumen keuangan lainnya dinilai lebih aman untuk menekan risiko dalam jangka panjang.
Dengan pemahaman yang matang terkait tujuan investasi, serta memahami potensi risiko, generasi muda diharapkan dapat mengambil keputusan finansial secara lebih rasional. Pendekatan ini menjadi kunci agar strategi investasi yang dijalankan dapat tumbuh secara optimal dan berkelanjutan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 26 Jan 2026

