Simak Pertimbangkan Fakta Ini, Sebelum Beli Mobil Listrik

DSK Mobil Listrik (antara)

JAKARTA,  - Mobil listrik atau electric vehicle (EV) makin sering terlihat di jalan raya. Dari Tesla hingga BYD, dari Hyundai hingga Toyota, produsen otomotif berlomba menghadirkan kendaraan yang disebut lebih ramah lingkungan dan lebih hemat biaya operasional dibanding mobil bensin.

Namun di balik popularitasnya, perdebatan soal mobil listrik masih terus berlangsung. Apakah EV benar-benar lebih baik dibanding mobil konvensional? Atau justru menyimpan masalah baru, mulai dari harga mahal hingga isu lingkungan akibat baterai?

Jenis - Jenis Mobil Listrik?

Secara umum, EV adalah kendaraan yang menggunakan motor listrik dengan tenaga dari baterai isi ulang. Teknologi ini terbagi dalam empat kategori utama,

  • BEV (Battery Electric Vehicle): mobil listrik murni tanpa mesin bensin.
  • PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle): gabungan motor listrik dan mesin bensin yang bisa diisi daya.
  • HEV (Hybrid Electric Vehicle): hybrid biasa tanpa colokan charger.
  • FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle): kendaraan berbahan bakar hidrogen.

Mobil listrik modern diisi daya lewat pengisian Level 1, Level 2, hingga fast charging DCFC atau Level 3.

Baca juga : 

Bukan Teknologi Baru

Meski populer beberapa tahun terakhir, kendaraan listrik sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19. Salah satu pionirnya adalah biksu Hungaria Ányos Jedlik yang menciptakan motor listrik awal sekitar 1827–1828.

Kemudian pada 1894 muncul Electrobat, salah satu mobil listrik komersial pertama yang dipakai sebagai taksi di New York dan Boston. Namun popularitasnya runtuh setelah Ford meluncurkan Model T pada 1908. Mobil bensin saat itu lebih murah, lebih cepat, dan memiliki jarak tempuh lebih jauh.

Minat terhadap EV kembali meningkat saat isu lingkungan dan krisis minyak muncul pada 1960-an hingga 1970-an. Pemerintah Amerika Serikat bahkan mengesahkan regulasi khusus untuk mendukung riset kendaraan listrik.

Toyota Prius menjadi salah satu simbol kebangkitan mobil hybrid modern sejak diluncurkan pada 1997. Setelah itu, Tesla hadir pada 2008 lewat Roadster dan mengubah citra mobil listrik menjadi kendaraan futuristis dan premium.

Pada 2024, penjualan EV global mencapai 22% dari total mobil baru dunia. Norwegia menjadi negara dengan penetrasi tertinggi, yakni 92% penjualan mobil barunya adalah EV. China menjadi produsen mobil listrik terbesar di dunia dengan teknologi tinggi.

 

Alasan Mobil Listrik Dianggap Lebih Baik

1. Dinilai Lebih Ramah Lingkungan

Pendukung EV menyebut kendaraan ini menghasilkan emisi jauh lebih rendah dibanding mobil bensin karena tidak membakar bahan bakar fosil saat digunakan. Bahkan beberapa studi lifecycle analysis menunjukkan total jejak karbon EV tetap lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar bensin.

2. Biaya Operasional Lebih Murah

Mobil listrik juga dianggap lebih hemat karena biaya listrik lebih rendah dibanding bensin dan komponen mesinnya lebih sedikit.

Survei Wall Street Journal menemukan pengendara EV di 15 kota besar Amerika Serikat bisa menghemat US$428–899 per tahun dibanding pengguna mobil bensin.

Chris Hardesty pakar Cox Automotive menjelaskan,

“Pengguna EV tidak perlu mengganti oli mesin atau cairan transmisi. Selain itu, regenerative braking membuat kampas rem lebih awet.” jelasnya dikutip Ensiklopedia Britanica, Kamis, 7 Mei 2026.

3. Lebih Halus dan Senyap

EV terkenal lebih senyap karena tidak memiliki mesin pembakaran internal. Selain itu, pusat gravitasi yang rendah membuat handling lebih stabil dan akselerasi lebih responsif.

American Lung Association menyebut tenaga motor listrik disalurkan langsung ke roda sehingga akselerasinya jauh lebih cepat.

Kritik Terhadap Mobil Listrik

Meski punya banyak kelebihan, mobil listrik juga menuai kritik serius.

1. Baterai Tetap Merusak Lingkungan

Produksi baterai lithium-ion membutuhkan penambangan lithium dan cobalt yang dinilai berdampak besar pada lingkungan.

“Penambangan lithium dikenal sangat merusak lingkungan dan sangat intensif sumber daya, dengan dampak berupa kehilangan air, pencemaran, destabilitas tanah, dan hilangnya biodiversitas.” jelas Martinia Igini pakar dari lembaga Earth.Org.

Selain itu, jika listrik pengisi baterai masih berasal dari PLTU batu bara, maka emisi karbon EV tetap tinggi.

2. Infrastruktur Charger Belum Memadai

Masalah lain adalah keterbatasan stasiun pengisian daya. Pada tahun 2024, rata-rata hanya ada 22 stasiun charger EV per 1.000 mil jalan raya di AS, jauh di bawah 104 pom bensin untuk jarak yang sama.

Kondisi ini memicu range anxiety atau ketakutan kehabisan baterai di jalan. Survei lembaga AAA 2025 menunjukkan 56% responden mengaku enggan membeli EV karena minimnya charger publik.

Bahkan CEO Ford pernah mengakui perjalanan jauh menggunakan F-150 Lightning cukup merepotkan. “pengisian daya menjadi masalah utama” katanya setelah melakukan perjalanan jarak jauh dengan pickup listrik tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah mobil listrik lebih baik?” belum punya jawaban mutlak. Bagi sebagian orang, EV adalah simbol masa depan transportasi bersih. Bagi yang lain, kendaraan ini masih dianggap mahal dan belum praktis untuk penggunaan sehari-hari.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 May 2026 

Bagikan

Related Stories