BucuKito
Strategi Ruang Ketiga: Rahasia Kedai Kopi Bertahan
Oleh: Adila Wulan Dari, Siti Nurhalimah Fatma , Tesa Wulandari , Wilni Asterin, Nekta Hiriadi*
USAHA kuliner di Kota Palembang kini bukan lagi sekadar soal pempek atau tekwan. Wajah kota ini telah berubah seiring menjamurnya bisnis kafe yang menyasar kalangan anak muda dan mahasiswa sebagai motor penggerak ekonomi kreatif.
Di tengah hutan beton dan persaingan harga yang kian berdarah, Cafe Triple A muncul sebagai fenomena menarik yang membuktikan bahwa inovasi produk saja tidak pernah cukup.
Strategi pemasaran yang tepat serta kemampuan membaca gaya hidup menjadi kunci utama untuk membangun loyalitas pelanggan di era digital.
Berlokasi strategis di Jalan Mayor Ruslan, tepat di depan Universitas IBA, kedai ini tidak sekadar menjual kopi.
Baca Juga:
- Begini Resep Cake Rempah Kenari
- Telkomsel Salurkan Bantuan CSR Logistik di Aceh Utara
- Hoaks: Seleksi Pengangkatan Guru Swasta 2026, Cek Faktanya
Pasangan suami istri, Susilo Rahmini dan Ferdinand Destriansyah, mengawali bisnis ini dengan keberanian mencoba hal baru di sektor food and beverage. Mereka tidak memilih lokasi secara acak.
Kedekatan dengan pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan tempat nongkrong di sela waktu belajar atau sekadar berkumpul bersama rekan sejawat menjadi fondasi utama pemilihan lokasi tersebut.
Menciptakan "Ruang Ketiga"
Dalam sosiologi, dikenal istilah third space atau ruang ketiga—sebuah tempat di antara rumah (ruang pertama) dan kantor atau kampus (ruang kedua). Kedai ini berhasil mengejawantahkan konsep tersebut dengan menawarkan suasana yang mendukung produktivitas sekaligus kenyamanan. Mengusung konsep modern dengan nuansa hangat dan ramah, desain interiornya dibuat sederhana namun estetik.
Pilihan warna cerah dan sudut-sudut yang "instagramable" bukanlah tanpa alasan. Di mata generasi Z dan milenial yang menjadi mayoritas pengunjung, estetika visual adalah mata uang utama. Mereka datang bukan hanya untuk menyesap kafein, tetapi untuk mengabadikan momen dan membagikannya ke jagat maya. Inilah yang kemudian memicu strategi pemasaran paling klasik namun paling ampuh: word of mouth atau promosi dari mulut ke mulut.
Kekuatan Rekomendasi Personal
Di tengah gempuran iklan konvensional yang sering kali dianggap angin lalu, rekomendasi dari teman atau kerabat memiliki tingkat kepercayaan yang jauh lebih tinggi. Pengalaman nyata pelanggan yang merasa puas dengan pelayanan ramah serta kualitas produk yang konsisten menjadi promosi organik yang tak ternilai harganya.
Keberhasilan ini didukung oleh tiga pilar utama: pelayanan yang memuaskan, suasana yang nyaman untuk berdiskusi, serta harga yang tetap ramah di kantong mahasiswa tanpa mengorbankan kualitas.
Ketika seorang mahasiswa merasa nyaman mengerjakan tugas atau sekadar bersantai di sana, mereka secara sukarela akan merekomendasikan tempat tersebut kepada komunitasnya.
Digitalisasi dan Narasi Visual
Namun, di era sekarang, promosi mulut ke mulut saja tidak cukup jika tidak diduplikasi ke ruang digital. Kedai ini sangat aktif memanfaatkan platform Instagram dan TikTok untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Dengan pengikut yang mencapai ribuan, Instagram digunakan sebagai etalase visual untuk menampilkan menu-menu unggulan dan aktivitas harian pelanggan. Fitur seperti Reels dan Stories dimanfaatkan secara cerdas untuk menyebarkan informasi diskon maupun tren terkini.
Sementara itu, TikTok menjadi senjata ampuh untuk menyasar audiens muda melalui konten video singkat yang kreatif. Mulai dari proses pembuatan minuman hingga menangkap suasana kafe yang estetik, konten-konten ini mampu menciptakan keterikatan (engagement) yang tinggi.
Strategi ini membuktikan bahwa pelaku UMKM harus mampu menjadi narator bagi bisnisnya sendiri di media sosial.
Keberlanjutan di Sektor Kreatif
Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan unit usaha di Jalan Mayor Ruslan ini adalah pentingnya menafsirkan kebutuhan gaya hidup target pasar secara kontekstual.
Baca Juga:
- Catatan Akhir Tahun: Perempuan Terdesak Industri Ekstraktif
- Kilas Balik: STuEB, Setahun Melawan Energi Kotor
- Yuk Buat Puding Cake Coklat
Bisnis kuliner masa kini bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan urusan pengalaman (experience). Ketersediaan fasilitas yang memadai dan suasana yang mendukung menjadi nilai tambah yang membuat pelanggan terus kembali.
Pada akhirnya, keberlanjutan ekonomi kreatif di sektor kuliner sangat bergantung pada kemampuan pemilik usaha dalam menjaga keseimbangan antara kualitas produk dan inovasi strategi pemasaran. Dengan menggabungkan kenyamanan fisik dan kehadiran digital yang kuat, kedai ini telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi favorit di Palembang untuk menikmati waktu luang sekaligus memacu produktivitas. Di tengah persaingan yang kian sengit, mereka telah menunjukkan bahwa dengan memahami "denyut nadi" pelanggan, sebuah usaha kecil mampu bertahan dan terus berkembang.
*Mahasiswa/I Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas IBA, Palembang
Referensi
Purwitasari, A., & Sulistyowati. (2024). Word of mouth sebagai alat pemasaran efektif: Tinjauan literatur empiris. Jurnal Akademik Ekonomi dan Manajemen.
https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jaem/article/view/3303
Yuliyanti, S., & Zakaria, Z. (2025). Pengaruh electronic word of mouth dan social media marketing terhadap minat beli. Jurnal Ilmiah PERKUSI.
https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/JIPER/article/view/43977
Astaivada, T. (2023). Pengaruh promosi media sosial, word of mouth, dan reference group terhadap keputusan pembelian. Jurnal Ilmu Manajemen, Ekonomi dan Kewirausahaan.
https://researchhub.id/index.php/jimek/article/view/1853
Sholikhah, D. M., Simanullang, M. A., & Prasetya, B. P. (2025). Pengaruh digital marketing dan e-WOM terhadap minat beli konsumen kopi. Jurnal Rimba Riset Ilmu Manajemen Bisnis dan Akuntansi.
https://journal.arimbi.or.id/index.php/Rimba/article/view/2049
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023). Perkembangan UMKM di Indonesia.
https://kemenkopukm.go.id

