Tia Founder Srijayanasa Dance School dan Karya Perempuan

Tia Founder Srijayanasa Dance School dan Karya Perempuan (Tangkapan Layar Youtube)

BERKUNJUNG ke sanggar Srijayanasa Dance School pada hari Senin serasa hanya bertamu ke sanggar kosong dan disambut hangat oleh sang pemilik sanggar tersebut.

Dan situasi itu akan sangat berbeda, saat datang pada hari Selasa hingga Minggu, sanggar akan dipenuhi talenta-talenta muda dalam bidang tari dan menyanyi, diiringi musik yang menggema. Ya Senin waktunya libur.

Adalah Surtia Ningsih (33) Founder Srijayanasa Dance School, sosok perempuan yang tidak hanya mendedikasikan diri untuk dunia seni, khususnya seni tari, tetapi dia juga menjadi pioner pekerja seni sekaligus pemilik usaha yang menjadikan seni tari tak hanya sekedar menampilkan gerakan menarik disukai penonton.

Baca Juga:

Tetapi Tia panggilan akrabnya justru menjadikan hobinya menari sebagai ajang mengekspresikan diri sebagai perempuan berjuang untuk kesetaraan gender dan mengeritisi kerusakan lingkungan.

Dia bercerita sebagai orang Muara Enim, yang di daerah tersebut banyak eksploitasi tambang batu bara sehingga merusak bentang alam dan menghilangkan mata pencaharian para petani, ia juga menciptakan karya seni tari.

Dengan tema "Subat, Tafsir Aksara Ulu Kaganga", Ironi Puyang dalam Konsep Makrokosmos, karya tersebut merespons secara estetik dan eksprimental tentang apa yang terjadi pada tanah surga ini, divisualisasi dengan Aksara Ulu Kaganga dan kuntau dalam gerak indah dari penari.

Tia berlatarbelakang pendidikan seni tari, dari salah satu kampus di Yogyakarta, ia menunjukan eksistensi hampir 10 tahun ini berkarya dan menjalankan bisnis, sehingga sanggar yang mulai aktif pada 15 Juli 2016, tidak hanya menyalurkan hobinya saja tapi baginya menjadi penghasilan juga.

“Memang saya ingin membangun sebuah gerakan kebudayaan yang terstruktur dan ada goalsnya jadi bukan hanya sekedar hobi, tapi menjadi sumber income, terbukti juga dengan guru-grunya disini,” ucap Tia saat diwawancarai, Senin (19/01/2026).

Sederet Prestasi

Dalam berbisnis, ia mengungkapkan mengedepankan sistem yang jelas tujuannya, bukan perbudakan dan eksploitasi bagi manusia.

"Karena aku tahu mereka capek, aku tahu mereka capek berpikir, dan saya sangat menghargai kerja keras, keringat mereka dan semua hal itu pasti saya hargai," kata dia.

Tia mampu membawa siswanya mengikuti ajang bergengsi sampai keluar negeri dan menjadi perwakilan delegasi Indonesia.

Adapun ajang yang pernah mereka ikuti, diantaranya Kagoshima Asian Art Festival Jepang, dengan Kementerian Pariwisata, Asia Pacific International Dance Festival di India lalu ke Maroko, Marrakech 2025.

"Kini meskipun ada beberapa kali mendapat undangan ke luar negeri, tetapi terpaksa dibatalkan karena situasi global, tidak memungkinkan," ujar perempuan asal Kabupaten Muara Enim ini.

Selain itu, dia mempunyai kekuatan relasi yang sudah solid dan jaringan secara global, tidak melalui pemerintah tapi langsung ke pemerintah setempat yang akan didatangi.

Sekarang siswa yang belajar di sekolah dance-nya hampir 200 orang dengan guru 4 orang. lalu ia berharap untuk Srijayanasa bisa menjadi wadah kreasi.

"Kedepannya selalu menciptakan karya baru, muridnya semakin banyak dan nantinya bisa mendirikan kampus," tutupnya. (Mg/Tanya zalzalbilla)


Related Stories