KabarKito
Warga Muara Maung Tuntut 4 Tambang Bertanggung Jawab Banjir
LAHAT, WongKito.co – Harapan warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, untuk memperoleh kepastian atas kerusakan yang mereka alami akibat banjir Sungai Kungkilan belum juga terwujud. Berulang kali menyuarakan tuntutan, masyarakat kini kembali mendesak empat perusahaan tambang batu bara agar bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang mereka yakini menjadi penyebab banjir yang terus berulang.
Kamis (16/7/2026), perwakilan warga mendatangi kantor PT Muara Alam Sejahtera (MAS). Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan PT Bara Alam Utama (BAU) dan PT Bara Selaras Resources (BSR). Sementara PT Bumi Merapi Energi (BME) yang sebelumnya dijadwalkan hadir, tidak memenuhi undangan dialog dengan masyarakat.
Bagi Supran (73), salah seorang warga yang terdampak, perjuangan ini bukan sekadar menuntut ganti rugi. Ia mengaku banjir yang terus terjadi telah mengubah kehidupan masyarakat yang selama puluhan tahun bergantung pada Sungai Kungkilan.
"Kami meminta empat perusahaan, yaitu PT MAS, PT BAU, PT BSR, dan PT BME bertanggung jawab atas kerusakan rumah, lahan, dan permukiman akibat banjir dari Sungai Kungkilan," ujar Supran.
Baca Juga:
- Berkat KUR dan Pelatihan BRI, Usaha Rosyidah Terus Berkembang
- Parade Kebaya dan Songket Ramaikan CFD Palembang
- BRI Wellness Experience Tawarkan Cashback, Diskon hingga 35 Persen
Ia mengenang banjir besar terakhir yang terjadi pada Rabu dini hari, 29 April 2026. Saat itu, sedikitnya 20 rumah warga terendam air bercampur lumpur yang meluap dari Sungai Kungkilan.
Menurut Supran, hingga kini warga belum menerima kompensasi ataupun kepastian penyelesaian dari perusahaan. Padahal, masyarakat telah berulang kali menyampaikan aspirasi terkait kerusakan lingkungan yang mereka alami.
Warga lainnya, Sumhayana (48) mengungkapkan sejak hadirnya perusahaan tambang batu bara, Sungai Kungkilan sebagai saluran air alami fungsinya semakin menurun sehingga tidak lagi mampu menampung aliran air saat hujan deras.
"Akibatnya, banjir terjadi berulang di kawasan permukiman," kata dia.
Bahkan dia mengatakan selama periode Januari hingga April 2026, banjir terjadi hingga empat kali, terakhir pada bulan April lalu. Kondisi terkini, air Sungai Kungkilan pada musim kemarau sebaliknya mengalami kekeringan dan penuh lumpur bekas tambang batu bara, kata dia.
Baca Juga:
- Teater Koma Pentaskan Lagi Rumah Sakit Jiwa di Jakarta
- Mahasiswa UIN Raden Fatah Raih Silver Medal Puisi Internasional
- Cek inilah Penguasa Bisnis Air Minum dalam Kemasan
Menanggapi tuntutan tersebut, perwakilan PT MAS, PT BAU, dan PT BSR menyatakan perusahaan membuka ruang dialog dan siap mencari solusi bersama masyarakat terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan aktivitas pertambangan.
Meski demikian, mereka menyampaikan bahwa seluruh tuntutan warga akan terlebih dahulu dilaporkan kepada pimpinan masing-masing perusahaan sebelum keputusan dapat diambil.
Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni pemberian kompensasi atas kerusakan akibat banjir, langkah nyata untuk mencegah banjir kembali terjadi, serta komitmen perusahaan menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah tambang.(Miftahur Rizki)

