Yayasan Intan Maharani Perkuat Sinergi CLM dan Social Contracting

Yayasan Intan Maharani Perkuat Sinergi CLM dan Social Contracting (Foto WongKito.co/Magang/Siti Sundari)

PALEMBANG, WongKito.co - Yayasan Intan Maharani menggelar kegiatan Quaterly Community Task Force Meeting, dalam rangka meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam implementasi Community Led Monitoring (CLM) dan Social Contracting, Rabu (8/4/2026).

Ketua Yayasan Intan Maharani, Sahri menjelaskan kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi hambatan serta menyusun strategi pendekatan yang lebih efektif terhadap hotspot yang menolak intervensi LSM.

Dia mengungkapkan berdasarkan data yang diungkapakan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) tahun lalu saja, Indonesia sudah menempati posisi ke-14 secara global jumlah Orang Dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV), serta peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru HIV.

Baca Juga:

Sementara Koordinator Program SSR, Yayasan Intan Maharani, Leonardo mengungkapkan tahun 2025, tercatat jumlah ODHIV di Indonesia sekitar 546 ribu orang. Namun, hanya sekitar 63 persen yang mengetahui kasus HIV-nya.

"Penyebaran ini terbanyak terjadi di wilayah Jawa Timur," katanya.

Menurut data tahun 2025 dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mencatat terdapat 907 kasus baru HIV/AIDS di wilayah Sumsel sepanjang tahun itu. Bahkan Kota Palembang menduduki posisi daerah dengan kasus tertinggi, yakni 451 orang, terdiri atas dan 116 kasus AIDS.

HIV dapat ditularkan melalui cairan tubuh, seperti cairan vagina atau sperma saat melakukan aktivitas seksual, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Untuk mencegah perkembangan virus tersebut, maka penting dilakukan pendeteksian sejak dini agak bisa diberikan pengobatan. Namun, dalam proses pendeteksian yang menargetkan populasi kunci memang memiliki prosedur yang lebih rumit.

Yayasan Intan Maharani dalam forum diskusi ini bertujuan khususnya untuk mengidentifikasi hambatan serta menyusun strategi pendekatan yang lebih efektuf pada hotspot yang menolak intervensi LSM.

Baca Juga:

Ketua Warna Sriwijaya, Heriyanto, menjelaskan yang tidak kooperatif cenderung ditemukan di waria kisaran usia remaja sekitar 18-30 tahun, hingga diperlukan pendekatan khusus.

Cara yang cenderung efektif adalah dengan merekrut remaja salah satu dari mereka.

"Sejak kami merekrut figur remaja, mereka itu lebih mudah diajak," ungkapnya.(Magang/Siti Sundari)


Related Stories