KabarKito
700 Orang Bersihkan Sampah di Sungai Musi
PALEMBANG, WongKito.co – Upaya membersihkan Sungai Musi dari timbunan sampah terus dilakukan di tengah persoalan pencemaran yang tidak hanya bersumber dari sampah domestik, tetapi juga aktivitas industri dan limbah batu bara di wilayah aliran sungai.
Sebanyak sekitar 700 orang turun dalam aksi "Clean Up Sungai Musi" di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera, Palembang, Sabtu (12/9/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung Wali Kota Palembang H Ratu Dewa dan melibatkan relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga pemerintah.
Aksi tersebut menjadi bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi. Peserta menyusuri bantaran sungai untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari kawasan perairan Sungai Musi.
Baca Juga:
- Pesawat Batal akibat Erupsi GAK, Perjalanan ke Palembang Berlanjut 14 Jam
- Surat ke-7 STuEB untuk Prabowo, Tagih Tanggung Jawab PLTU Batu Bara
- Anomali! Ketika Peneliti Bergiliran Pamit dari Pengembangan AI
Kegiatan juga melibatkan The Guardians of The River–ICCN Sumatera Selatan, Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan serta aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter atau yang dikenal sebagai Bule Sampah.
Sampah Capai 1.260 Ton per Hari
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Palembang. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Palembang mencapai sekitar 1.260 ton per hari atau lebih dari 460 ribu ton per tahun.
Menurutnya, Sungai Musi memiliki posisi penting bagi masyarakat Palembang, bukan hanya dari sisi ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan identitas kota.
“Atas nama Pemerintah Kota Palembang, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi,” ujar Ratu Dewa.
Ia menegaskan persoalan kebersihan sungai tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mengurangi sampah yang masuk ke sungai.
Pemerintah Kota Palembang juga tengah menjalankan program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan dengan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.
Namun, keberadaan fasilitas tersebut, kata Ratu Dewa, tidak boleh menjadi alasan masyarakat untuk terus menghasilkan sampah.
“PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah dari rumah dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat,” katanya.
Bersih Sungai Tidak Cukup Sekali
Koordinator Daerah ICCN Sumatera Selatan Muhammad Hafidz Alfuqan mengatakan aksi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan bersih-bersih sungai dalam satu hari.
Menurut Hafidz, keterlibatan sekitar 700 peserta menunjukkan bahwa persoalan Sungai Musi mendapat perhatian dari berbagai kelompok masyarakat.
“Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi pemerintah, komunitas, mahasiswa, pemuda dan masyarakat diperlukan untuk membangun kesadaran bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah.
Bule Sampah Dorong Aksi Diviralkan
Aktivis lingkungan asal Jerman Benedict Wermter atau Bule Sampah turut turun langsung dalam aksi tersebut.
Benedict menilai persoalan sampah di sungai membutuhkan aksi nyata sekaligus kampanye yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.
“Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran,” katanya.
Menurutnya, media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperluas pesan lingkungan, terutama kepada generasi muda.
Tantangan Sungai Musi Lebih dari Sampah
Aksi bersih-bersih ini menjadi penting karena persoalan Sungai Musi tidak semata-mata berkaitan dengan sampah yang terlihat di permukaan. Pencemaran sungai juga perlu dilihat secara lebih luas, termasuk potensi dampak aktivitas domestik, industri dan aktivitas pertambangan batu bara di wilayah yang terhubung dengan ekosistem Sungai Musi.
Baca Juga:
- PERMAMPU Terus Perjuangkan Hak Kesehatan Seksual Perempuan Lansia
- Cek ini Sederet Bencana Besar Indonesia dan Dampaknya pada Ekonomi
- Pemkot Palembang Akhirnya Berlakukan PJJ, Dampak Kabut Asap Karhutla
Karena itu, aksi memungut sampah perlu berjalan beriringan dengan pencegahan pencemaran dari sumbernya, pengawasan kualitas air, penegakan aturan lingkungan serta pengurangan limbah yang masuk ke badan sungai.
Dengan melibatkan sekitar 700 orang, kegiatan di 7 Ulu diharapkan tidak berhenti pada bersih-bersih kawasan sekitar Jembatan Ampera. Gerakan tersebut menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa menjaga Sungai Musi membutuhkan kerja bersama dan perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten.(ril)

