Alasan Harvard Nobatkan RI Negara Paling Sejahtera

Minggu, 11 Januari 2026 15:39 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

pexels-andre-furtado-1263986 (1).jpg
Ilustrasi kebahagiaan hidup (Pexels.com)

JAKARTA, WongKito.co - Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan tertinggi di dunia menurut Global Flourishing Study, sebuah penelitian kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga survei Gallup yang melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara. 

Berbeda dari laporan kebahagiaan atau kesejahteraan yang kerap hanya melihat pertumbuhan ekonomi atau pendapatan, studi ini menggunakan konsep flourishing, yang mengukur kesejahteraan secara holistik. Indeks itu mencakup enam dimensi utama, yakni:

  1. Kesehatan fisik dan mental
  2. Makna dan tujuan hidup
  3. Karakter dan kebajikan
  4. Hubungan sosial yang kuat
  5. Stabilitas finansial dan material
  6. Kepuasan hidup.

Indonesia berhasil menjadi peringkat pertama dengan persentase 8,10% dan diikuti oleh Israel, Meksiko, Polandia, Hong Kong, dan lainnya. Dalam konteks itu, Indonesia keluar sebagai yang tertinggi karena kekuatan dalam hubungan sosial dan nilai karakter yang mendukung komunitas. 

Penelitian ini juga menyoroti bahwa beberapa negara dengan pendapatan tinggi justru memiliki nilai flourishing yang lebih rendah karena skor hubungan sosial yang kurang kuat. 

Studi tersebut menunjukkan bahwa flourishing bukan sekadar ukuran ekonomi, melainkan juga mencerminkan kualitas hidup, keterikatan komunitas, dan kebajikan individu di tengah masyarakat. 

Hasil temuan tersebut dimaksudkan untuk memberikan perspektif baru tentang kesejahteraan, dengan mempertimbangkan lebih dari sekadar indikator pendapatan atau kekayaan negara, tetapi juga aspek sosial dan emosional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Peluang yang Dapat Dimanfaatkan

Capaian tersebut membuka sejumlah peluang strategis bagi generasi muda di Indonesia. Kuatnya relasi sosial dan nilai komunitas yang menjadi faktor utama tingginya skor flourishing, dapat dimanfaatkan anak muda untuk mengembangkan ekonomi berbasis komunitas, seperti kewirausahaan sosial, UMKM kolaboratif, serta bisnis berbasis lokal dan budaya.

Model usaha yang mengedepankan keterlibatan sosial, selaras dengan karakter masyarakat Indonesia. Selain itu, tingginya dimensi makna hidup dan karakter membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam sektor kreatif, pendidikan, dan usaha keberlanjutan.

Dalam hal ini, pendekatan kerja tidak hanya berorientasi pada pendapatan, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan. Dengan modal sosial yang kuat, anak muda Indonesia memiliki peluang besar membangun ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing jangka panjang.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 9 Januari 2025.