GayaKito
Mite Kissaten: Kafe Bernuansa Jepang di Palembang
Di sudut yang tak terlalu riuh di kawasan Demang Lebar Daun, tepatnya di Jalan Macan Kumbang, berdiri sebuah kafe kecil bernama "Mite Kissaten". Dari luar, bangunannya tampak sederhana nyaris seperti rumah biasa yang tak ingin mencuri perhatian.
Namun begitu pintu kayu klasiknya didorong perlahan, suasana berubah.
Interior kayu dengan nuansa hangat menyambut pengunjung. Lampu-lampu kuning temaram menggantung rendah, menciptakan pencahayaan yang lembut namun cukup terang untuk berbincang atau membaca. Di satu sisi dinding, piringan hitam musisi Jepang tersusun rapi menjadi aksen visual sekaligus penanda identitas. Ornamen khas Negeri Sakura mengisi ruang tanpa terasa berlebihan. Seketika, pengunjung seperti tidak lagi berada di Palembang.
Baca Juga:
- Pemerintah Siapkan Tarif Diskon Tol 30 Persen
- Intip Yuk Resep Cookies Coklat Lumer
- Panen yang Tak Lagi Sama di Lingkar PLTU Keban Agung
Di tengah menjamurnya coffee shop di Kota Palembang, Mite Kissaten menemukan ceruknya sendiri. Bukan hanya sebagai tempat minum kopi, tetapi ruang aman bagi anak muda.
Di kafe ini, percakapan mengalir tanpa tekanan. Isu sosial, keresahan pribadi, hingga obrolan ringan tentang musik dan film menjadi menu tak tertulis yang selalu tersedia.

Kafe tersebut juga menyediakan beragam bacaan menarik, terutama komik khas Jepang, di antara Tokyo on Foot dan ada juga Manual Jakarta.
Dengan harga minuman mulai dari Rp29 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati "Creamy Kohi" yang merupakan menu andalan yang kerap disebut pelanggan sebagai rasa khas Mite. Selain itu, tersedia pula pilihan manual brew, seperti V60 dan Japanese-style coffee. Bagi penikmat non-kopi, matcha menjadi primadona lain yang tak kalah diminati. Aneka pastry melengkapi pengalaman, menghadirkan keseimbangan rasa pahit, manis, dan gurih dalam satu meja.
Suara dari Balik Meja Bar
Di salah satu meja bundar, saya berbincang dengan Nanda, barista Mite Kissaten. Ia menjelaskan ritme kerja harian kafe tersebut.
“Kami buka dari jam 8 pagi sampai 11 malam. Untuk best seller memang Creamy Kohi. Tapi kami juga sediakan manual brew seperti V60, Japanese, sama matcha,” ujarnya. Namun, khusus bulan Ramadan, kafe buka dari pukul 11 siang hingga 11 malam.
Nada suaranya tenang, seirama dengan atmosfer ruangan. Tidak tergesa, tidak pula dibuat-buat.
Beberapa meja dari tempat kami duduk, seorang pelanggan tampak menikmati minumannya sendirian. Namanya Zaky. Ia mengaku cukup sering datang.
“Lumayan sering ke sini, mas. Biasanya pesan Creamy Kohi atau Japanese. Rasanya cocok,” katanya singkat, namun hangat.

Pertumbuhan coffee shop di Palembang dalam beberapa tahun terakhir terbilang pesat. Setiap bulan, hampir selalu ada tempat baru yang menawarkan konsep unik dan promosi agresif. Dalam lanskap yang kompetitif itu, Mite Kissaten memilih jalannya sendiri: konsistensi suasana dan kualitas rasa.
Baca Juga:
- Iftar Buffet Arista Palembang, Hadirkan Alun-alun Nusantara!
- Berburu Takjil di Jalan Ratna, Palembang
- Selain Lingkungan, PLTSa Berkonsekuensi Menyasar Pemerintah
Kafe dan kedai kopi tidak hadir dengan gemerlap. Tidak pula dengan konsep yang terlalu eksperimental. Justru kesederhanaan dan keintiman ruangnya menjadi daya tarik utama.
Bagi sebagian anak muda Palembang, Mite Kissaten bukan sekadar tempat rehat dari hiruk-pikuk kota. Tetapi adalah ruang untuk bernapas pelan, hangat, dan cukup sunyi untuk mendengar diri sendiri.
Di tengah riuhnya perkembangan kota, kadang yang dibutuhkan memang bukan yang paling ramai. Melainkan tempat yang membuat kita merasa pulang, meski hanya untuk secangkir kopi.(Magang/Alvin Johari)

