Analis Prediksi IHSG Dibuka Anjlok 3 Persen

Sabtu, 05 April 2025 18:47 WIB

Penulis:Susilawati

Bearish Flag Pattern
Ilustrasi bearish flag pattern. Gambar: CoinDesk (CoinDesk )

JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 8 April 2025, menyusul libur panjang Lebaran. 

Tekanan ini dipicu oleh sentimen negatif pasar global, terutama akibat eskalasi perang dagang pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor secara signifikan.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan IHSG akan melemah 2–3% seiring gejolak di pasar global. “Dampak perang dagang ini cukup luar biasa, apalagi Indonesia masuk dalam daftar negara dengan biaya ekspor ke AS yang tinggi,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang dikutip Sabtu, 5 April 2025.

Sebagai langkah antisipatif, pemerintah didorong untuk segera mencari alternatif pasar ekspor di tengah meningkatnya hambatan perdagangan. Salah satu peluang yang disarankan adalah penguatan hubungan dagang dengan negara-negara BRICS—Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.

Baca juga:

“Kita harus ingat Indonesia adalah anggota BRICS. Sehingga, ekspor yang sebelumnya mengandalkan pasar AS bisa dialihkan ke negara-negara BRICS untuk menjaga suplai barang,” imbuhnya.

Bursa AS Babak Belur

Tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari gejolak yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq Composite resmi memasuki wilayah bearish setelah anjlok 962,82 poin atau 5,82% pada Jumat, 4 April 2025. Penurunan ini menandai kejatuhan lebih dari 20 persen dari rekor tertingginya yang tercapai pada Desember 2024.

Sementara itu, Dow Jones dan S&P 500 juga mengalami koreksi tajam, masing-masing turun 5,50% dan 5,97%, menutup pekan di level terendah dalam hampir setahun terakhir. Dalam dua hari terakhir, ketiga indeks utama mencatatkan penurunan terbesar sejak awal pandemi COVID-19, dengan Nasdaq memimpin pelemahan mingguan sebesar 10%.

Kepanikan investor dipicu oleh kebijakan Trump yang menaikkan tarif impor hingga ke level tertinggi dalam satu abad terakhir. Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan potensi resesi global dan menghapus nilai triliunan dolar dari pasar modal AS. Indeks Volatilitas CBOE—indikator utama kepanikan pasar—melonjak ke titik tertinggi sejak April 2020.

Reaksi Global dan Dampaknya ke Sektor Riil

Respon keras datang dari sejumlah negara. Tiongkok segera membalas dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 34% terhadap seluruh produk AS mulai 10 April. Sementara itu, pemimpin Inggris, Australia, dan Italia juga mulai menggalang koordinasi merespons kebijakan proteksionis Trump.

“Kita sedang memasuki wilayah tak bertuan dalam perang dagang ini,” ujar Mariam Adams, Direktur UBS Wealth Management.

Ketua The Fed, Jerome Powell, turut memperingatkan bahwa kebijakan tarif bisa mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, menjadi tantangan berat bagi kebijakan moneter AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun merosot, sementara sektor perbankan dan energi ikut tertekan.

Saham teknologi global juga terkena dampak. Perusahaan-perusahaan China seperti JD.com, Alibaba, dan Baidu anjlok lebih dari 7%. Raksasa teknologi seperti Apple dan produsen chip utama juga mengalami koreksi signifikan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Alvin Bagaskara pada 05 Apr 2025