Arsjad Tantang Indonesia Rebut Takhta Ekonomi Halal Dunia

Senin, 08 Juni 2026 16:01 WIB

Penulis:Nila Ertina

Arsjad Tantang Indonesia Rebut Takhta Ekonomi Halal Dunia
Arsjad Tantang Indonesia Rebut Takhta Ekonomi Halal Dunia (Foto WongKito.co/Humas UIN Palembang)

PALEMBANG, WongKito.co – Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dan potensi pasar halal yang sangat besar. Namun, posisi Indonesia dalam ekonomi syariah global masih tertinggal dari sejumlah negara lain.

Kondisi ini, mendorong pengusaha nasional berdarah Palembang, Arsjad Rasjid, untuk menyerukan langkah lebih agresif agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, tetapi menjadi pemimpin ekonomi halal dunia.

Dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah Palembang, Arsjad menyoroti capaian Indonesia yang kini berada di peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026. Posisi tersebut turun satu tingkat dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

"Malaysia ada di peringkat pertama, kita di peringkat keempat. Padahal Indonesia memiliki lebih dari 240 juta penduduk Muslim dan posisi strategis sebagai penghubung Asia Pasifik dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Kita harus bisa menjadi nomor satu," kata Arsjad, Senin (8/6/2026).

Baca Juga:

Menurut dia, peluang tersebut sangat terbuka mengingat nilai ekonomi halal global terus tumbuh. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, ekonomi halal dunia mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,56 triliun pada 2029.

Arsjad menilai besarnya potensi tersebut tidak akan dapat dimanfaatkan maksimal tanpa kolaborasi lintas sektor. Ia mengibaratkan pembangunan ekosistem halal seperti membangun rumah yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak.

"Membangun ekosistem halal tidak bisa sendirian. Harus ada gotong royong antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat," ujarnya.

Untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar halal global, Arsjad saat ini memimpin B57+ Asia Pacific Chapter, jaringan bisnis yang dibentuk oleh Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD). Organisasi ini menghubungkan pasar di 57 negara anggota OKI dan sejumlah negara mitra lainnya.

Ia menjelaskan, B57+ Asia Pacific berfokus pada peningkatan perdagangan antarnegara OKI, memperkuat investasi dalam ekosistem halal, serta mendorong kebijakan yang memudahkan produk halal menembus pasar internasional.

"Yang membedakan B57+ adalah orientasinya pada hasil nyata, baik perdagangan, investasi, maupun dampak ekonomi yang bisa dirasakan langsung," katanya.

Baca Juga:

Arsjad juga menegaskan bahwa pengembangan ekonomi halal tidak bersifat eksklusif bagi umat Islam. Menurut dia, seluruh pelaku usaha, termasuk non-Muslim, dapat terlibat dalam membangun ekosistem halal yang lebih kuat dan kompetitif.

Baginya, ukuran keberhasilan Indonesia bukan hanya menjadi konsumen produk halal terbesar di dunia, melainkan mampu menjadi pusat produksi, investasi, dan perdagangan halal global.

"Dengan modal pasar, sumber daya manusia, dan posisi geografis yang dimiliki, tidak ada alasan Indonesia tidak bisa memimpin ekonomi halal dunia," tegasnya.(ril)