Kesehatan
Minggu, 12 April 2026 11:35 WIB
Penulis:Nila Ertina

SABTU (11/4/2026) malam itu, lampu-lampu di sepanjang Jalan Kolonel Atmo tampak berbeda. Bukan sekadar menerangi jalan, tapi seolah mengundang warga keluar rumah. Musik mengalun, tawa bersahutan, dan deretan lapak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hidup di antara langkah-langkah santai masyarakat. Malam di Palembang terasa lebih hangat.
Di tengah keramaian itu, keluarga, anak muda, hingga pedagang kecil berbagi ruang yang sama. Tak ada deru kendaraan, yang terdengar hanya percakapan dan sesekali riuh hiburan jalanan. Uji coba Car Free Night (CFN) pada 11 April 2026 menjelma menjadi panggung kota, tempat warga melepas penat sekaligus mencari rezeki.
Keesokan paginya, Minggu (12/4/2026) suasana bergeser ke ritme yang lebih segar, Car Free Day (CFD). Sejak fajar, warga mulai memadati Jalan Jenderal Sudirman hingga Jembatan Ampera, bahkan sampai kawasan Flyover Jakabaring. Mereka datang dengan sepatu olahraga, sepeda, atau sekadar niat berjalan santai. Udara pagi terasa lebih lega tanpa asap kendaraan, memberi ruang bagi napas yang lebih panjang dan langkah yang lebih ringan.
Baca Juga:
Di antara kerumunan itu, Ihsan (21), warga Sematang Borang, tersenyum sambil melayani pembeli di lapaknya. Baginya, momen ini bukan hanya soal keramaian, tapi harapan. “Bagus sekali, selain bisa olahraga dan jalan santai, kita juga bisa jajan. UMKM jadi ramai,” ujarnya. Kalimat sederhana itu menggambarkan denyut ekonomi kecil yang ikut bergerak.
Wali Kota Ratu Dewa melihat lebih dari sekadar keramaian. Ia menyebut uji coba Car Free Day (CFD) dan CFN pada 11–12 April 2026 ini berjalan aman dan lancar, dengan antusiasme warga yang tinggi. Bagi pemerintah kota, ini adalah sinyal bahwa ruang publik yang ramah dan inklusif memang dirindukan.
Baca Juga:
Namun, cerita ini belum selesai. Pemerintah berjanji akan terus mengevaluasi, memperbaiki, dan mengembangkan konsep ini agar semakin optimal. Harapannya, CFD dan CFN bukan hanya menjadi agenda sesaat, melainkan rutinitas yang membentuk wajah baru kota.
Palembang, selama dua hari itu, menunjukkan bagaimana sebuah jalan bisa berubah fungsi dari jalur kendaraan menjadi ruang kehidupan. Di sana, kesehatan, kebersamaan, dan ekonomi kecil bertemu dalam satu irama. Dan dari langkah-langkah warga yang memenuhi jalanan, terlihat jelas, kota ini sedang belajar menjadi lebih manusiawi.(*)