Senin, 21 September 2026 18:22 WIB
Penulis:Susilawati

PALEMBANG, WongKito.co - Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) terus diperkuat dan diarahkan untuk naik kelas dari gerakan penguatan produksi pangan menjadi ekosistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Setelah diluncurkan pada Juli 2026, penguatan GSMP kembali dibahas melalui kegiatan Ngopi Bareng GSMP: Tata Kelola Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan yang Kolaboratif, Efektif, dan Berkelanjutan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan di Palembang beberapa waktu lalu.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang menyampaikan bahwa GSMP merupakan gerakan bersama untuk membangun masyarakat Sumatera Selatan yang semakin mandiri dalam pangan, produktif, dan pada akhirnya semakin sejahtera.
Menurut dia, GSMP perlu terus didorong untuk naik kelas dengan membangun ekosistem yang lebih besar, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh masyarakat. "GSMP bukan hanya sebuah program, tetapi merupakan gerakan bersama. Ke depan, kita harus membangun ekosistem yang lebih besar agar masyarakat Sumatera Selatan semakin mandiri dalam pangan, semakin produktif, dan semakin sejahtera," ujar H. Cik Ujang.
Baca juga:
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan menegaskan bahwa penguatan GSMP tidak semata-mata dilakukan melalui penambahan bantuan, tetapi terutama dengan memperkuat sistem dan ekosistem yang menopang keberlanjutan. program.
Untuk itu, terdapat empat langkah utama yang menjadi perhatian, yaitu memperkuat tata kelola, memperkuat pendampingan melalui PANDU-GSMP, memperkuat kemitraan melalui SINERGI GSMP, serta memperkuat data sasaran.
"Hal yang paling menentukan keberlanjutan GSMP adalah hilirisasi dan pasar. Rantai GSMP harus kita bangun secara utuh, mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar. Dengan demikian, hasil produksi masyarakat tidak berhenti di tingkat produksi, tetapi memiliki kepastian untuk terserap dan memberikan nilai tambah," jelas H. Edward Candra.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono menyampaikan bahwa GSMP yang digagas oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru pada awalnya berangkat dari semangat untuk mengubah pola pikir masyarakat dari konsumen menjadi produsen. Dalam perkembangannya, GSMP terus bertransformasi menjadi inovasi pengembangan. ekosistem rantai pasok pangan yang lebih menyeluruh, terintegrasi, dan sistematis.
Penguatan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi dan kemandirian pangan masyarakat, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi, implementasi PSN-MBG, digitalisasi sistem pembayaran dan akses keuangan, pertumbuhan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan.
"GSMP saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana meningkatkan produksi. Kita perlu memastikan seluruh rantai ekosistemnya berjalan, mulai dari pembiayaan, pendampingan, produksi, digitalisasi, hilirisasi hingga akses pasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu memproduksi pangan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil produksinya," ujar Bambang Pramono.
Dalam pelaksanaan GSMP 2026, penguatan GSMP Goes to Pesantren menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong pesantren sebagai bagian dari ekosistem produsen pangan. Dengan potensi sumber daya manusia dan lahan yang dimiliki, pesantren diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus. berkontribusi terhadap peningkatan pasokan pangan di daerah. Melalui dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, pelatihan, serta pendampingan, pesantren tidak. hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, tetapi juga menghasilkan komoditas yang dapat dipasok kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan. Gizi (SPPG) dan offtaker lainnya sesuai dengan potensi produksinya.
Dari sisi hulu, ekosistem GSMP diperkuat melalui dukungan pembiayaan dari berbagai pihak, antara lain perbankan, Danantara, Baznas, dan lembaga terkait lainnya. Para produsen juga memperoleh pendampingan teknis untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas digital, serta meningkatkan akses terhadap layanan keuangan.
Sementara itu, dari sisi hilir, penguatan dilakukan melalui business matching dengan SPPG dan offtaker lainnya guna memastikan hasil produksi terserap dengan harga yang wajar. Rangkaian proses tersebut diharapkan dapat membangun rantai pasok pangan yang lebih kuat, menciptakan nilai tambah, menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar SPPG, dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.