Minggu, 11 Januari 2026 15:24 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

PALEMBANG, WongKito.co - Suara sholawat menggema seiring pelayaran sebuah kapal tongkang di Sungai Musi, Minggu (11/1/2026) pagi. Di atasnya berdiri para jamaah peringatan Haul Akbar Kiai Marogan yang ke-125 yang larut dalam menapaktilasi jejak spiritual sang ulama.
Ketua Panitia Pelaksana Haul Akbar Kiai Merogan, Ismail menjelaskan, kapal tongkang berlayar dari Masjid Lawang Kidul hingga ke Masjid Ki Marogan. Bukan hanya sholawat, selama pelayaran dilantunkan pula dzikir dan doa.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada perjuangan Kiai Marogan yang menyebarkan Islam melalui jalur air, menyusuri Musi, menyapa umat dari hulu ke hilir,” ujar Ismail.
Tak hanya pelayaran, kemeriahan juga terasa dalam Festival Perahu Ketek yang digelar bersamaan. Perahu-perahu dihias dengan ornamen warna-warni, membawa pesan damai dan persatuan.
“Festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga edukasi. Kita ingin generasi muda tahu bahwa Sungai Musi bukan hanya jalur perdagangan, tapi juga jalur dakwah,” tambah Ismail.
Haul Akbar ini diakui menjadi ajang kepedulian sosial, sebuah bentuk nyata dari semangat berbagi dan kasih sayang yang diajarkan oleh Kiai Marogan. Adapun Sungai Musi bukan saja menjadi nadi kehidupan tapi jalur dakwah bagi Kiai Marogan.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa menyampaikan, pelayaran ini bukan sekadar simbolik tapi ini adalah bagian dari rangkaian Puncak Haul Akbar Kiai Marogan ke-125. Menurutnya, acara haul ini sebuah peringatan akbar yang tidak hanya mengenang wafatnya sang ulama, tapi juga menghidupkan kembali semangat dakwah dan perjuangan beliau.
“Ini adalah momentum yang luar biasa. Kita tidak hanya mengenang, tapi juga meneladani. Semangat Kiai Marogan harus terus hidup dalam jiwa kita,” ujar Ratu Dewa.
Jaga Kelestarian Sungai Musi
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, dirinya akan menjadikan kegiatan tersebut sebagai wisata religi yang akan dilaksanakan setiap tahunnya.
“Acara ini kita mulai dengan keikhlasan dan semangat, untuk ke depannya nanti ini akan kita jadikan agenda tahunan berupa wisata religi. Napak tilas Kiai Marogan dari Masjid Lawang Kidul menuju Masjid Kiai Marogan,” ucapnya.
Dengan dijadikannya agenda tahunan, Herman Deru berharap Wisata Religi tersebut dapat menjadi sorotan dunia bahwa kedamaian dan kerukunan tidak bisa dinikmati tanpa adanya perjuangan, termasuk syiar agama.
“Apa yang dilakukan Kiai Marogan dahulu saya harap bisa menjadi pelajaran bagi kita khususnya umat muslim serta menjadi inspirasi kita dalam menjaga kerukunan dan kedamaian dalam bermasyarakat,” cetus dia.
Terkait dengan agenda tahunan yang telah dicanangkan, Herman Deru meminta kepada para zuriat Kiai Marogan untuk selalu berkoordinasi dalam melaksanakan penyelenggaraan kegiatan wisata religi tersebut.
Selain itu, Herman Deru juga mengajak jamaah yang hadir untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitar Sungai Musi yang menjadi jalur transportasi Kiai Marogan.
“Kebersihan Sungai Musi ini harus kita jaga karena salah satu alasan kenapa Masjid ini dibangun di pinggir sungai karena memudahkan Umat untuk memperoleh air dalam melaksanakan wudhu yang tentunya kebersihan air ini harus kita jaga dengan tidak mencemarinya," jelasnya. (*)