Konsumsi Pakaian Naik, Industri Tekstil RI Justru Melemah

Jumat, 27 Februari 2026 16:04 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

Ilustrasi wanita sedang belanja online.
Ilustrasi wanita sedang belanja online. (independent)

JAKARTA, WonngKito.co — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menemukan kesenjangan antara data konsumsi rumah tangga untuk produk pakaian dan alas kaki dengan kondisi riil industri tekstil dalam negeri. Ketika permintaan konsumen meningkat, industri pakaian domestik malah menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Fenomena ini bukan tanpa akar. Penelusuran TrenAsia.id, ada pergeseran besar dalam cara anak muda Indonesia berbelanja pakaian di balik angka konsumsi yang melonjak. Pergeseran ini justru semakin menguras pasar dari produsen lokal.

Survei Urban Banking 2024 yang dirilis Mandiri Institute mengungkap bahwa di luar kebutuhan pokok, Gen Z Indonesia paling banyak berminat membeli produk fashion, termasuk pakaian dan aksesori. Minat itu tidak hanya sebatas niat, ia terwujud dalam transaksi nyata yang masif di platform digital.

Berdasarkan survei Jakpat bertajuk Fashion Buying: the Present and the Future yang melibatkan 1.168 responden berusia 17–43 tahun, pembelian barang fesyen mencapai 88%, menjadi yang tertinggi di antara jenis konsumsi lainnya. Mayoritas konsumen kini memilih jalur daring yang relatif dikuasai produk impor. 

Sebesar 64% berbelanja di toko resmi e-commerce, sementara 46% membeli dari reseller. Hanya 25% yang masih berbelanja secara luring. Shopee mendominasi pilihan belanja pakaian daring, dengan pakaian atau fesyen tercatat sebagai produk terlaris di platform tersebut. Permintaannya 59% lebih banyak dibandingkan lokapasar lainnya.

Secara makro, data Kementerian Perdagangan mencatat pakaian menjadi produk yang paling banyak dibeli di e-commerce pada 2024, dengan persentase 70,1%, melampaui produk kecantikan, makanan dan minuman, hingga elektronik. 

Dari sisi jumlah konsumen, kategori alas kaki menjadi yang terbesar: dari 29,7 juta konsumen pada 2019, angkanya diperkirakan melonjak hingga 53,6 juta orang pada 2024. Untuk produk pakaian jadi, pertumbuhan konsumen meningkat dari 7,9 juta orang pada 2019 menjadi 14,1 juta orang pada 2024. 

Kesenjangan Data 

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyebut perbedaan ini berakar pada perbedaan cakupan antara data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang bersifat agregat. 

"Kami mencermati data BPS yang di-launching pada awal Februari lalu, terutama terkait demand subsektor industri pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya," ujar Febri dalam keterangan pers, dikutip Jumat, 27 Februari 2026.

Data BPS menunjukkan konsumsi rumah tangga untuk sektor tersebut tumbuh 2,73% pada 2024, lalu melonjak menjadi 4,52% pada 2025. Dari sisi nilai, konsumsi tercatat mencapai sekitar Rp 258 triliun berdasarkan PDB harga konstan tahun dasar 2020, naik dari Rp247 triliun pada tahun sebelumnya. 

"Secara nilai produk domestik bruto (PDB) harga konstan tahun dasar 2020, konsumsi sektor ini tercatat sekitar Rp 258 triliun pada 2025, naik dibandingkan Rp247 triliun pada 2024," kata Febri.

Namun angka pertumbuhan itu tidak mencerminkan kondisi produsen lokal. IKI yang dirilis Kemenperin justru memperlihatkan kontraksi pada subsektor yang sama. Febri menilai lonjakan permintaan pada 2025 sebagian besar dipenuhi oleh produk impor, bukan produksi dalam negeri. "Kenaikan yang besar di tahun 2025 itu ternyata demand-nya tidak dipenuhi oleh produk industri pakaian jadi dalam negeri," tegasnya.

Uang Belanja Mengalir ke Produk Impor

Fenomena fast fashion turut memperparah kondisi ini. Setidaknya 63% responden dalam survei memilih produk fast fashion, yang sebagian besar merupakan produk impor murah. Perilaku belanja anak muda yang dipengaruhi tren media sosial dan rasa takut ketinggalan (fear of missing out) membuka celah besar bagi produk impor berharga rendah untuk mendominasi pasar.

Di balik itu, terdapat masalah struktural yang lebih dalam: banjirnya impor ilegal. Berdasarkan perbandingan data ekspor China ke Indonesia versi International Trade Center (ITC) dengan data impor BPS, selisihnya sangat mencolok dan diduga telah berlangsung sejak 2004. 

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengungkapkan bahwa pada kuartal I-2024, data impor Indonesia dari China untuk kode HS 61 hanya mencapai US$ 118,87 juta, sementara data ekspor China ke Indonesia versi ITC mencapai US$ 269,57 juta, lebih dari dua kali lipat.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat, dalam tiga hingga empat tahun terakhir, sekitar 58 hingga 60 perusahaan tekstil dan garmen telah gulung tikar, salah satu penyebabnya adalah liberalisasi impor melalui berbagai kebijakan. 

Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, menjelaskan impor ilegal kerap menyusup lewat skema borongan. "Secara ilegal ini bukan hanya baju bekas ya, tapi baju baru juga masuk secara ilegal, karena modusnya melalui misalnya importasi borongan atau mixed container," ujar Danang.

Dampaknya juga terasa pada angkatan kerja. Kontribusi industri tekstil dan pakaian jadi terhadap PDB nasional terus merosot dari 1,26% pada 2019 menjadi 0,99% pada 2024, sementara angka PHK di sektor ini mencapai 64.855 kasus pada 2023, lebih dari dua kali lipat tahun sebelumnya. 

Menurut Febri, industri pakaian jadi terbagi dalam dua segmen: berorientasi ekspor dan berorientasi pasar domestik. Ekspansi yang tercermin dalam data IKI secara umum lebih banyak ditopang oleh industri yang menyasar pasar luar negeri, sementara segmen domestik justru tertekan.

Elaborasi lebih dalam terhadap data IKI mengungkap kondisi yang lebih berat. Industri Tekstil (KBLI 13) mengalami kontraksi pada Oktober dan November 2025, ditandai dengan lesunya produksi dan melemahnya permintaan. Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki (KBLI 15) bahkan mencatat kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, yakni April, Mei, dan Juni 2025. 

Hanya Industri Pakaian Jadi (KBLI 14) yang berhasil bertahan dalam zona ekspansi sepanjang 2025. "Kalau data dielaborasi lebih dalam dan dibagi antara industri pakaian jadi berorientasi ekspor dan berorientasi pasar domestik, maka akan terlihat adanya kontraksi, terutama pada industri pakaian jadi yang berorientasi domestik," ujar Febri.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 27 Februari 2026.