Kepulauan Riau
Selasa, 29 September 2026 15:08 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

TANJUNGPINANG, WongKito.co - Suasana yang berbeda akan Anda temui ketika bertolak dari Kota Batam menuju Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Batam dengan kesibukan industri dan ekonominya, sementara Tanjungpinang sarat akan sejarah, budaya, dan adat istiadat melayu.
Hal utama yang menjadi pembeda adalah Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi Kepri sangat mahsyur dengan sebutan Kota Gurindam Dua Belas. Apa itu Gurindam Dua Belas dan apa alasan julukan tersebut ditautkan ke kota ini?
Dikutip dari berbagai sumber, Gurindam Dua Belas merupakan mahakarya sastra melayu klasik berupa puisi dua baris per bait. Terdiri dari dua belas pasal yang berisikan nilai-nilai moral yang menjadi landasan berperilaku rakyat Tanjungpinang hingga kini.
Penggubahnya Raja Ali Haji, ulama dan sastrawan asal Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Ia diberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2004 karena kontribusi besarnya terhadap perkembangan bahasa melayu yang kemudian menjadi dasar lahirnya Bahasa Indonesia.
“Karena jasa besar itu, Raja Ali Haji dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang, Sutana, saat menemani para jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia mengunjungi Tanjungpinang dalam rangkaian acara Festival Media Selat Malaka 2026, Senin (21/09/2026).
Tanjungpinang bukan hanya sebagai tempat kelahiran Raja Ali Haji tapi juga tempat peristirahatannya. Tidak heran jika Tanjungpinang tak lepas dari sebutan Kota Gurindam Dua Belas, mengingat besarnya pengaruh karya Raja Ali Haji.
Dilansir dari Kompas.com, Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas bermula atas alasan prihatin dengan kondisi masyarakat Melayu di Kerajaan Riau-Lingga. Saat itu, pengaruh negara barat sudah masuk ke tanah air sehingga timbul pergeseran nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu yang menurutnya bertentangan dengan Islam. Melalui karyanya, ia ingin berpesan agar masyarakat memelihara dan mempertahankan esksistensi agama dan budaya Islam sebagai pegangan hidup.
Dimana masyarakat bisa membaca Gurindam Dua Belas? Naskah asli Gurindam Dua Belas disimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta. Namun begitu, masyarakat dapat mengakses banyak sumber untuk membaca pasalnya secara bebas. Tidak hanya itu, naskah per pasal juga dapat dibaca di pagar depan kantor baru Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Kepri di kawasan Dompak, Tanjungpinang.
“Biasanya warga duduk nongkrong santai di pelataran trotoar kantor PTA saat jalan-jalan sore atau selepas olahraga di Dompak untuk membaca Gurindam Dua Belas,” tutur Rina, warga Tanjungpinang dibincangi di lokasi.
Pejabat Pembuat Kebijakan (PPK) PTA Kepri, Yendri Elvi mengatakan, pihaknya memutuskan untuk menampilkan Gurindam Dua Belas di pagar kantor PTA pada tahun 2024 lalu. Kawasan berbukit di Dompak membuat bangunan pagar kantor memiliki kemiringan yang unik. Menurutnya, daripada kosong atau diisi dengan ornamen yang standar, pagar sepanjang 60 meter tersebut lebih baik disematkan pasal-pasal Gurindam Dua Belas.
“Tentu tidak sembarangan dalam prosesnya, kami melibatkan Lembaga Adat Melayu untuk perizinan pemakaiannya. Sejauh ini, tidak ada kendala berarti,” jelas Yendri saat dikonfirmasi, Minggu.
Nilai Toleransi Gurindam Dua Belas
Tanjungpinang memegang toleransi antar umat beragama yang tinggi sehingga menjadi peringkat pertama nasional dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama pada tahun 2022 dan 2023.
Dari pantauan, Tanjungpinang bukan saja sebagai tanah melayu. Festival Moon Cake Tanjungpinang yang digelar pada Kamis (24/09/2026) malam menjadi salah satu penanda keragaman kota ini. Aneka kuliner khas Tionghoa disajikan di sepanjang Jalan Merdeka yang merupakan pusat pecinan. “Festival ini digelar setiap tahun, kebetulan tahun ini gelarannya bertepatan dengan hari jadi Provinsi Kepri ke-24,” ujar Yendri.
Di Tanjungpinang terdapat sejumlah vihara bersejarah, salah satunya Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Vihara ini menjadi destinasi wisata Provinsi Kepri karena selain sebagai tempat ibadah terdapat seribu patung yang memberi pesona menarik untuk dikunjungi. Patung-patung tersebut menjadi objek utama kamera para pengunjung. Berlokasi di atas bukit, vihara ini juga menawarkan pemandangan rindang dengan pepohonan.
Tanjungpinang juga memiliki gereja tua yang disebut Gereja Ayam. Secara resmi dikenal sebagai GPIB Bethel Tanjungpinang yang merupakan situs bersejarah yang terletak di pusat kota.
Gereja yang didirikan pada tahun 1883 atau masa keberadaan Belanda ini disebut Gereja Ayam karena adanya patung ayam jago di bagian puncak bangunan. Dengan jarak hanya 500 meter dari Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, gereja ayam masih digunakan jemaah kristiani untuk beribadah.
Untuk diketahui, konsep toleransi dalam Gurindam Dua Belas diantaranya menghargai sesama, keadilan sosial, dan pengendalian diri. Nilai toleransi warga Tanjungpinang yang diadaptasi dari Gurindam Dua Belas bukan hanya isapan jempol tapi terlihat nyata jika berkunjung langsung ke sana. (yulia savitri)