Jumat, 17 April 2026 07:38 WIB
Penulis:Nila Ertina

PALEMBANG, WongKito.co - Di balik penyerahan gelar sarjana pada yudisium ke-54 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (16/4/2026) terdapat cerita lain dari para sarjana yang tidak hanya mendapat gelar akademis tetapi juga terpilih untuk mendapat apresiasi dalam prestasi mereka di bidang Akademik maupun Non Akademik.
Salah satunya mahasiswa berprestasi itu adalah, Senia Aprinia, merupakan mahasiswa Progran Studi Jurnalistik, yang sekarang sudah mendapatkan gelar Sarjana. Ia adalah salah satu peserta yang memiliki segudang prestasi di bidang nonakademik selama menjadi mahasiswa.
Penghargaan yang Senia dapat kebanyakan berhubungan dengan minat dan keahliannya di bidang komunikasi.
Pada saat pelaksanaan wisuda akan diberikan apresiasi untuk para mahasiswa yang memiliki prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Hal ini menjadi salah satu motivasi Senia untuk mengejar prestasi dari bidang yang dia minati.
"Jadi mengejar mata kuliah dan prestasinya seimbang," ujarnya.
Baca Juga:
Ia giat mengikuti beberapa lomba dan kegiatan-kegiatan yang bersertifikasi. Ia menganggap, hal ini tidak hanya sebagai sebuah pencapaian tetapi juga bentuk membanggakan diri.
"Itu adalah bagian dari proses mengembangkan diri," kata dia.
Senia mengaku, bahwa keinginan untuk membanggakan kedua orang tua, sebagai sosok yang berjasa selama ini, adalah yang melatarbelakangi semangatnya mengejar pendidikan maupun prestasi lainnya.
"Saya bersyukur kepada Allah dan juga berterima kasih kepada teman-teman yang sudah mendukung selama proses perkuliahan dan mencapai apa yang ada," ungkapnya.
Selain itu, Senia mengambarkan dirinya sebagai sosok yang tidak terlalu "digitalisasi" dalam artian, ia lebih memilih mencatat menggunakan pena dan buku dari pada handphone dalam proses pembelajaran.
Buku dan pena lebih menyerap ke pikiran, membuat proses belajar itu lebih mudah dipahami, tambahnya.
Sementara Banyu Biru, yang berprestasi dalam bidang Akademik mendapatkan gelar Sarjana di program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, ia adalah salah satu sosok berprestasi yang kali ini mengambil peran sebagai sosok suara perwakilan peserta yudisium dibalik mikrofon.
Lelaki tinggi berbadan tegap itu meredarkan mata fokusnya ke para peserta sambil menyampaikan kalimat-kalimat yang bergema sepenjuru ruangan.
Skripsi adalah tugas akhir yang menurut pendapat umum, memakan proses panjang dan alot. Bagi para pejuang ini, tentu bukanlah pengecualian. Proses pembuatan skripsi yang sudah menyita banyak hal selama masa perjalanan, bahkan hampir menengelamkan.
"Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi tetap berjalan meski lelah itu ada," tegas dia.
Dalam prosesnya, meskipun masa depan yang kabur tetap tidak akan pasti dan juga ditengah kesulitan ekonomi yang merayap di berbagai sela kehidupan, Biru meyakini bahwa semua ini adalah bagian dari proses belajar untuk menempuh keteguhan.
Setiap langkah yang mengerogoti itu, tidak bisa dilupakan setiap tepukan tangan dan lantunan doa yang senantiasa mengiringi.
Biru menghadiahkan semburan apreasiasi pada para orang tua atas semua pengorbanan mereka. Mengajak gerakan apresiasi kepada para peserta untuk orang tua mereka. "Boleh kita alihkan pandangan kita ke tangan dan kiri kita teman-teman," kata dia saat menyampaikan sambutan.
Tangguh
Pada yudisium yang menghadirkan sarjana dari semua program studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, meliputi, Komunikasi Penyiaran Islam, Jurnalistik, Manajemen Dakwah, dan Penyuluhan Masyarakat Islam.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr Ahmad Syarifudin M.A, dalam kata sambutannya menyampaikan jumlah mahasiswa yudisium Fakuktas Dakwah dan Komunimasi yang ke-54 kali ini, sebanyak 78 orang peserta.
Dalam pemaparannya, ia juga mengajak para peserta yudisium untuk merefleksikan kembali perjuangan yang sudah dilewati sebelum sampai pada titik ini.
"Dibalik senyum hari ini, ada perjuangan yang tidak sederhana, dan tekanan yang pernah dirasakan," ujarnya.
Setelah melewati tekanan "harapan" dan "ketidakpastian" tersebut maka terbentuklah ketangguhan.
Baca Juga:
Menurutnya, ketangguhan justru memberikan kekuatan sehingga ini menjadi tema yang tepat untuk yudisium kali ini. Oleh karena itu, semua hal yang sudah dilewati patut dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang berharga sehingga bisa sampai pada titik ini
"Ada harapan dari orang tua maupun diri sendiri yang kadang terasa tinggi, dan ada pula ketidakpastian tentang masa depan tentang pekerjaan dan tentang jalan hidup yang tidak sepenuhnya jelas," katanya.
Ia berpendapat, realitas ini sangat beresonasi dengan apa yang dialami sarjana-sarjana sekarang maupun alumni dari manapun.
Ketangguhan bukan berarti tidak pernah jatuh, ketangguhan berarti kekuatan untuk terus maju, kata dia. (Magang/Siti Sundari)