CekFakta
Misleading: Pandemi Virus Hanta 2026 telah Diprediksi Sejak 2022
SEJUMLAH akun di Instagram, Facebook, dan X mengaitkan kemunculan virus Hanta pada 2026 dengan prediksi akun Soothsayer di media sosial X sejak 2022. Akun tersebut menulis bahwa virus Corona berakhir pada 2023 dan virus Hanta bakal muncul pada 2026.
Cuitan berbunyi "2023 Corona ended, 2026 Hantavirus" itu mendadak viral pada Mei 2026 hingga dibagikan ulang sebanyak 150 ribu kali.
Namun benarkah virus Hanta telah diprediksi sejak 2022 sebagai pengganti pandemi Covid-19?
PEMERIKSAAN FAKTA
Tempo memverifikasi narasi tersebut dengan menelusuri unggahan asli dan membandingkannya dengan informasi kredibel. Hasilnya, meskipun cuitan akun Soothsayer itu benar ada, virus Hanta sebenarnya telah lama diidentifikasi serta mewabah sejak era 1950-an.
Baca Juga:
- FDK UIN Palembang Resmi Luncurkan Bank Sampah Berseri
- Perangko Edisi Khusus Jembatan Ampera hingga Prasasti Kedukan Bukit Siap Dirilis
- Tertinggi di Muara Enim, Inflasi Sumsel Mei 2026 sebesar 2,61 Persen
Penelusuran lebih lanjut di platform X menunjukkan bahwa unggahan lawas Soothsayer masih bisa diakses publik. Akun yang mencantumkan lokasi di Filipina itu tercatat dibuat pada Juni 2022, persis di tengah situasi dunia yang sedang dilanda pandemi Covid-19.
Tempo telah melayangkan permohonan konfirmasi kepada pemilik akun melalui platform X namun belum menerima tanggapan hingga artikel ini diterbitkan.
Virus Hanta Telah Mewabah pada 1950-an
Cuitan akun Soothsayer tersebut beredar tanpa konteks sejarah yang utuh. Faktanya, virus Hanta bukan komoditas baru melainkan ancaman lama yang telah memicu wabah besar di Korea Selatan sejak era 1950-an.
Riset peneliti Kansas University Medical Center, Mohammed A. Mir, dalam artikel Hantaviruses terbitan 2010 mengungkapkan wabah Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS) menyerang lebih dari 3.000 pasukan PBB saat Perang Korea pada kurun 1951 sampai 1953. Rentetan kasus mematikan ini mendorong para ilmuwan melacak asal-usul penyakit.
Hasilnya pada 1978 peneliti berhasil mengisolasi virus penyebab demam tersebut dari tikus yang terinfeksi di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan. Temuan itu kemudian dinamai virus Hantaan merujuk pada nama sungai tersebut, sebelum akhirnya diklasifikasikan dalam genus baru bernama Hantavirus pada 1981.
Virus ini kembali mengganas di wilayah barat Amerika Serikat pada 1993 melalui wabah Sindrom Paru Hantavirus (HPS) yang menjangkiti sedikitnya 53 orang di 14 negara bagian.
Data National Institutes of Health (NIH) yang dilansir BBC memperkirakan ada sekitar 150 ribu kasus HFRS di seluruh dunia setiap tahun. Mayoritas kasus tersebar di Eropa dan Asia dengan temuan terbesar di Cina. Sementara di Amerika Serikat, otoritas kesehatan mencatat 890 kasus infeksi sepanjang kurun waktu 1993 hingga 2023.
Beda Karakteristik Virus Hanta dan Covid-19
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merangkum perbedaan mendasar antara Covid-19 dan Hantavirus pemicu Sindrom Paru Hantavirus (HPS). Dari aspek historis, Covid-19 baru teridentifikasi pada 2019 di Wuhan, Cina. Sebaliknya, wabah virus Hanta telah terlacak sejak era 1950-an di Korea Selatan sebelum akhirnya berhasil diisolasi dan dikenali pada 1978.
Pola penularan dan struktur biologis kedua virus ini juga bertolak belakang. Covid-19 menyebar massal lewat percikan cairan saluran pernapasan atau droplet. Sementara itu, manusia tertular HPS akibat menghirup udara atau debu yang terkontaminasi kotoran, urine, atau air liur tikus pembawa virus.
Laporan Al Jazeera menyebutkan perbedaan daya tular ini dipengaruhi oleh struktur fisik masing-masing virus. Covid-19 memiliki tonjolan protein berbentuk mirip mahkota yang memudahkannya menyebar dengan cepat. Di sisi lain, Hantavirus diselimuti glikoprotein berstruktur mirip kisi-kisi yang membuat tingkat penularannya jauh lebih rendah.
Baca Juga:
- Sidang Praperadilan UU ITE Ditolak, Korban KS Harus Tetap Dikawal
- Pascaiduladha: Pasar Tradisional Palembang belum Normal
- BSI Kelola Sampah Berbasis Edukasi dan Perberdayaan Masyarakat
Masa inkubasi dan tingkat kematian kedua penyakit ini pun tidak sama. Covid-19 memiliki masa inkubasi 2 sampai 14 hari, sedangkan HPS memerlukan waktu 7 hingga 20 hari. Rentang waktu inkubasi HPS yang lebih lama ini justru memperkecil potensi penularan secara masif.
Kendati sama-sama fatal, WHO mencatat tingkat kematian Covid-19 berada di angka 3,4 persen pada 2020. Adapun tingkat kematian HPS berkisar antara kurang dari 1 hingga 15 persen di Asia dan Eropa, serta dapat melonjak hingga 50 persen di benua Amerika meskipun kasusnya sangat jarang ditemukan.
KESIMPULAN
Tempo menyimpulkan narasi yang menyebut ramalan virus Hanta akan memicu pandemi pada 2026 layaknya Covid-19 merupakan klaim menyesatkan.
Disclaimer
Konten ini direpublish dari laman Tempo.co/cekfakta.

