Musim Panen, Harapan dan Tantangan Petani Kopi Sumsel 2026

Selasa, 09 Juni 2026 07:50 WIB

Penulis:Nila Ertina

Ilustrasi secangkir kopi
Ilustrasi secangkir kopi (Foto WongKito.co/Dok)

KABUT tipis masih menggantung di lereng Bukit Barisan ketika para petani di Kota Pagar Alam  mulai menyusuri kebun kopi mereka. Meskipun hanya menempati posisi kelima sebagai daerah penghasil kopi di Sumatera Selatan, karena   luasnya hanya 8.074 hektare dengan produksi sekitar 20.000–22.000 ton per tahun tetapi kota yang berada di kaki Gunung Dempo ini, kopinya terkenal memiliki cita rasa khas yang banyak pengemarnya.

Pagi itu, petani kopi dengan membawa keranjang atau kinjagh mulai menapaki hari dengan berjalan kaki menuju kebun-kebun mereka. Salah satunya Ida (63) meskipun usia sudah senja tetapi menghadapi musim kawe sebutan kopi bagi warga Pagar Alam tampak bersemangat.

"Musim kawe sudah tiba, saatnya ke kebun memetik biji-biji kopi di kebun," kata dia berseloroh.

Dia bercerita dari tahun ke tahun hasil panen kopi semakin tidak menentu. Perubahan cuaca menjadi penyebab panen kopi yang tidak lagi stabil seperti dulu.

Baca Juga:

Saat musim panen tiba, di OKU Selatan, Lahat, Empat Lawang, Muara Enim hingga Pagar Alam, menjadi momen yang paling dinantikan sepanjang tahun.

Buah-buah kopi yang memerah di ranting menjadi pertanda datangnya masa panen. Bagi ribuan keluarga petani di Sumatera Selatan, inilah musim ketika harapan dikumpulkan dari setiap kilogram biji kopi yang dipetik.

Sentra Produksi Kopi Nasional

Sumatera Selatan bukan sekadar daerah penghasil kopi. Provinsi ini merupakan jantung produksi kopi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi kopi Sumatera Selatan pada 2024 mencapai 209.470 ton atau sekitar 25,94 persen dari total produksi kopi Indonesia sebesar 807.580 ton. Dengan capaian tersebut, Sumsel menjadi produsen kopi terbesar di Indonesia.

Hamparan kebun kopi yang membentang seluas lebih dari 266 ribu hektare menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan. OKU Selatan tercatat sebagai wilayah dengan kebun kopi terluas mencapai 89.248 hektare, disusul Empat Lawang 62.126 hektare dan Lahat 53.847 hektare. Ketiga daerah ini menyumbang lebih dari tiga perempat luas kebun kopi Sumatera Selatan.

Di sejumlah desa penghasil kopi, panen bukan hanya aktivitas ekonomi. Ia telah menjadi ritme kehidupan. Anak-anak yang sedang libur sekolah ikut membantu orang tua memetik buah merah. Di halaman rumah, terpal-terpal dijemur untuk mengeringkan biji kopi. Sementara di warung kopi desa, perbincangan soal harga menjadi topik utama.

Novian (23) salah seorang mahasiswa mengaku sangat antusias pulang kampung saat musim panen kopi tiba.

"Biasanya saya akan memanfaatkan libur akhir pekan untuk pulang ke Lahat, ke kebun lalu memetik kopi," kata dia.

Hal senada diungkapkan Ahmad (22) yang cepat-cepat pulang ke Pagar Alam, saat mata kuliah sudah selesai.

"Ujian semester sudah selesai, saatnya pulang kampung dan ke kebun memetik kopi," kata dia bersemangat.

Tahun ini, optimisme petani cukup tinggi. Di beberapa sentra produksi, tanaman kopi menunjukkan produktivitas yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kondisi buah yang lebat membuat sebagian petani berharap produksi meningkat.  

Namun, di balik optimisme itu tersimpan kecemasan.

Harga kopi yang sempat menembus level tinggi dalam dua tahun terakhir mulai menunjukkan fluktuasi. Bagi petani, harga menjadi faktor yang menentukan apakah kerja keras selama setahun akan berbuah manis atau justru sebaliknya.

Selain harga, biaya produksi juga terus meningkat. Harga pupuk, pestisida, hingga ongkos tenaga kerja menjadi beban yang harus ditanggung petani. Dalam kondisi tertentu, kenaikan biaya produksi tidak selalu sebanding dengan harga jual kopi di tingkat petani. Kekhawatiran ini kerap muncul menjelang panen raya ketika pasokan kopi mulai melimpah di pasar.

Krisis Iklim

Masalah lain yang masih membayangi adalah perubahan iklim.

Pola hujan yang tidak menentu membuat siklus berbunga dan berbuah tanaman kopi semakin sulit diprediksi. Hujan yang datang pada saat panen dapat menurunkan kualitas biji kopi dan memperpanjang proses pengeringan. Sebaliknya, musim kemarau yang terlalu panjang dapat mengganggu pembentukan buah untuk musim berikutnya.

Di sejumlah wilayah perbukitan, petani juga menghadapi tantangan regenerasi. Banyak anak muda memilih bekerja di kota atau sektor lain dibanding meneruskan usaha kebun kopi keluarga. Padahal, kopi telah menjadi komoditas yang menopang kehidupan masyarakat pegunungan Sumatera Selatan selama puluhan tahun.

Meski demikian, kopi Sumsel masih memiliki daya tarik yang kuat di pasar. Robusta dari dataran tinggi Sumatera Selatan dikenal memiliki karakter rasa yang khas dengan aroma kuat dan tingkat keasaman yang relatif seimbang. Produk kopi dari wilayah ini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan menembus pasar ekspor.

Baca Juga:

Kontribusi sektor kopi juga tidak bisa dipandang sebelah mata terhadap perekonomian daerah. Ketika harga kopi membaik, roda ekonomi desa ikut bergerak. Pedagang pupuk, pemilik warung, jasa transportasi hingga pelaku usaha kecil merasakan dampaknya.

Karena itu, panen kopi bukan hanya soal berapa ton hasil yang dipetik. Panen adalah cerita tentang ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada komoditas ini. Tentang petani yang bangun sebelum matahari terbit untuk menyusuri kebun di lereng bukit. Tentang harapan agar harga tetap menguntungkan. Dan tentang bagaimana kopi terus menjadi denyut ekonomi masyarakat Sumatera Selatan.

Di tengah aroma kopi yang dari halaman-halaman rumah petani, musim panen 2026 menjadi pengingat bahwa secangkir kopi yang dinikmati di kota menyimpan perjalanan panjang dari kebun-kebun di pegunungan Sumsel, perjalanan yang dipenuhi kerja keras, ketidakpastian, dan harapan yang terus dipanen setiap tahun.(*)