Pedagang di Pasar Tradisional Keluhkan Kenaikan Harga

Senin, 15 Juni 2026 08:17 WIB

Penulis:Nila Ertina

Seorang pedagang bercerita kini harga berbagai kebutuhan pangan naik
Seorang pedagang bercerita kini harga berbagai kebutuhan pangan naik (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

PAGI itu, pada pekan kedua Juni 2026, aku menyempatkan diri untuk mendatangi salah satu pasar tradisional di tengah Kota Palembang, Pasar Kebun Semai namanya.

Pasar yang berada di kawasan Sekip Tengah ini menjadi salah satu pusat pertemuan pedagang dan pembeli secara tradisional dan cukup lengkap pedagangnya, tak hanya kios sayuran, ikan, sembako juga terdapat penjualan pakaian dan penjahit.

Suasana pasar pagi itu, seperti biasa tidak padat, penjual juga tampak santai melayani pembeli.

Baca Juga:

Aku pun mendatangi salah satu toko kelontong untuk membeli beragam tepung dan minyak goreng.

"Nek ada tepung Maizena?" tanyaku kepada perempuan pedagang yang telah berusia lanjut usia. Ia pun menjawab ada.

"Mau berapa bungkus?" tanya penjual, dua bungkus saja jawabku. Berapa nek? Rp9.000 kata dia. Aku pun bertanya kok mahal sekarang, naik berapa ribu nek? tanyaku lagi penasaran.

Dia bercerita kalau saat ini, harga beragam produk yang dijualnya mengalami kenaikan mulai dari Rp1.500 hingga Rp5.000 per bungkus atau per kemasan.

"Kalau tepung Maizena dengan berat 100 gram ini, naik Rp1.500 per bungkus, lalu tepung tapioka yang biasa dijual Rp7.000 per kemasan isi 500 gram, kini menjadi Rp10 ribu per bungkus," kata dia lagi.

Menurut dia, kenaikan harga produk-produk yang dijualnya tersebut telah terjadi sebelum kenaikan harga Pertamax.

Harga bahan bakar minyak (BBM) naik, ia mengungkapkan pasti akan terjadi lagi kenaikkan harga kebutuhan pokok lainnya.

Pertamax Naik, Makin Susah dapatkan Pertalite

Bagi Anton, menjual minyak eceran adalah sumber mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Agar bisa menjual minyak eceran, berupa Pertalite ia bercerita kalau setiap hari harus mengantre membeli pertalite di SPBU dengan menggunakan mobil tua-nya.

"Sudah lama kan sebenarnya, yang antre Pertalite itu panjang, dan sekarang tambah susah mendapatkan Pertalite sejak Pertamax naik," kata dia.

Baca Juga:

Harga Pertalite di Kota Palembang Rp10 ribu per liter sedangkan harga Pertamax Rp16.650/liter, perbedaan  harga cukup besar sehingga pengguna Pertamax memilih untuk mengantre Pertalite.

Anton menambahkan meskipun antre lama, tetapi demi kebutuhan hidup keluarga, ia tetap antre dan biasanya memilih waktu malam dengan harapan antrean tidak ramai lagi, meskipun realitanya tetap panjang antrean, tambah dia.

Dia mengakui berjualan Pertalite eceran sebenarnya hanya mematok selisih harga berkisar Rp2 ribu per liter, tetapi memudahkan pembeli untuk mendapatkan BBM juga menjadi keinginannya sebagai pedagang.

"Saya berharap tidak ada kenaikan harga BBM lagi, dan mendapatkan Pertalite juga bisa dengan mudah," kata dia.(Nila Ertina FM)