Potret Buram Pasar Tradisional karena Blur Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 08:07 WIB

Penulis:Nila Ertina

Aktivitas di Pasar 26 Ilir Palembang di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang
Aktivitas di Pasar 26 Ilir Palembang di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

SUATU pagi, bersama tim aku berangkat liputan ke luar Kota Palembang. Tujuan kami ke Desa Seri Bandung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Dalam mobil minibus yang kami sewa, ada tujuh orang penumpangnya termasuk aku. Kami memilih jalan di kawasan Bukit Besar Palembang untuk keluar dari pusat kota Pempek.

"Kenapa pasarnya sepi ya? padahal biasanya di sini macet," kata Fathul, yang menjadi juru kemudi mobil yang kami tumpangi.

Ia ya timpalku, jam segini (saat itu sekitar pukul 09.00 WIB) biasanya akses jalan di Pasar Padang Selasa ini selalu ramai, kendaraan dan pembeli silih berganti masuk dan keluar pasar.

Baca Juga:

Aku pun berpikir, memang pasar saat ini semakin sepi, karena kabut asap membuat orang memilih bertahan di rumah dari pada beraktivitas di luar, termasuk ke pasar membeli berbagai kebutuhan keluarga.

Mendekati Pasar Tradisional Inderalaya, yang berada di wilayah Lintas Timur Sumatera, ternyata pasar juga tampak lengang. Tak tampak aktivitas di pasar yang dikenal menjadi Kawasan macet dari pagi hingga siang di area tersebut.

Sekali lagi Fathul mengungkapkan keheranannya karena dia sering kali melintasi jalan tersebut. "Biasanya lumayan panjang macet di sini mbak, kok ini bisa sepi ya," kata dia.

Sementara itu, belum lama ini, seorang pedagang di pasar tradisional di Palembang mengungkapkan kalau kondisi perekonomian pedagang tidak baik-baik saja.

"Pasar sepi cak ini, jadi dak usalah layani wong yang ngutang," kata dia diungkapkannya saat seorang calon pembeli yang dianggapnya terus berutang.

Hal senada diungkapkan pedagang lain. "Sepi sekarang ini jualan, banyak yang tidak ke pasar lagi," kata Sopia (45) pedagang di Pasar 26 Ilir.

Pasar Sepi Harga Mahal

Lazim sekali dalam sistem ekonomi kapitalis, terjadi mekanisme pasar dimana permintaan meningkat maka harga barang akan menjadi mahal. Namun, kondisi saat ini, mekanisme tersebut justru sebaliknya. Meskipun pembeli sepi harga berbagai kebutuhan pokok mahal.

Ani (44) tahun warga Palembang mengakui kalau kini jarang belanja ke pasar karena sudah tidak menyetok bahan pangan lagi.

Alasan jarang ke pasar menurut dia, pertama karena menghindari kabut asap yang menyesakan, kedua karena harga bahan pangan di pasar tradisional dengan di warung dekat rumah sama-sama mahal. "Saya mending belanja di warung karena dekat dan juga bisa beli sedikit," kata dia.

Diakui Ahmad (39) pedagang daging di Pasar 26 Ilir, harga daging kini bertahan Rp150 ribu per kilogram.

"Sudah bertahan mahal, meskipun pembeli sepi," kata dia, dibincangi, Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, penjualan daging sapi terus menurun karena memang pasar sepi, tetapi tetap harus berjualan, meskipun omzet menurun.

Dia mengakui, daging sapi segar masih memiliki pelanggan khusus walaupun kini banyak penjual daging frozen dan menawarkan harga yang lebih murah, tambah dia.

Reza (35) pedagang ayam mengungkapkan tetap bertahan berjualan ayam meskipun tidak ada kepastian mendapatkan pasokan ayam dan harga yang berfluktuasi mahal.

"Kami pedagang ayam sebenarnya sudah bermasalah sejak pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), pasokan dibatasi dan harga mahal,"

"Kabut asap ini juga jadi salah satu penyebab berkurangnya penjualan, karena pembeli sepi dan harga tetap ayam tetap mahal," kata dia.

Di sisi lain, harga telur ayam bertahan stabil berkisar Rp25 ribu per kilogram.

Sedangkan harga cabai termasuk berfluktuasi mahal. "Hari ini cabe burung Rp75 ribu perkilogram," kata Sumi pedagang cabai di Pasar 26 Ilir.

Baca Juga:

Harga cabai telah naik sejak bulan Juli. Kenaikan harga cabai dan beragam jenis sayuran erat kaitannya dengan musim kemarau yang terjadi beberapa bulan ini.

Beras 5 kg Tersedia

Sebelumnya, masyarakat Kota Palembang banyak yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan beras kemasan 5 kilogram dijual di gerai-gerai toko modern.

"Saya terpaksa beli beras kiloan karena kemasan 5 kilogram tidak ditemukan," kata seorang dosen dari salah satu kampus negeri di Kota Palembang.

Pantauan WongKito.co pada sejumlah pasar dan toko individu alias tidak berjejaring nasional maupun jejaring dunia, tumpukan beras kemasan 5 kilogram sudah mulai dipajang penjual.

"Harga beras merek Selancar kemasan 5 kilogram, Rp83 ribu per kemasan," kata Fitri pekerja salah satu toko kelontong di kawasan Sungai Baung, tengah Kota Palembang.(ert)