Film dokumenter
Senin, 18 Mei 2026 22:21 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Nila Ertina

PALEMBANG, WongKito.co — Komunitas Ghompok bersama organisasi penggiat literasi di Kota Palembang menyelenggarakan pemutaran film dokumenter berjudul "Halaman Terakhir".
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi tentang budaya membaca, perjalanan buku, serta dinamika literasi di tengah perubahan zaman. Agenda ini juga merupakan rentetan terakhir dari rangkaian kegiatan yang juga dilakukan di Rumah Susun Palembang.
Executive Produser sekaligus Anggota Ghompok, Ahmad Rizki Prabu mengatakan bahwa film dokumenter ini merupakan karya kedua Ghompok setelah film Tunggu Tubang. Gagasan dalam film ini terinspirasi dari sejumlah tokoh yang tetap konsisten menjaga literasi hingga hari ini.
“Salah satu inspirasi kami adalah Pak Anwar yang merupakan pemilik perpustakaan mandiri di Kota Palembang yang tetap konsisten membuka perpustakaannta sejak tahun 1981 hingga hari ini,” katanya.
Baca Juga:
Prabu menjelaskan, Anwar merupakan salah satu tokoh kunci di Kota Palembang sebagai pegiat literasi yang hampir 45 tahun lamanya mengabdi untuk rumahnya, yang disulap menjadi perpustakaan mandiri dan sering dikunjungi oleh berbagai mahasiswa lokal dan internasional.
"Menurut kami, sosok Pak Anwar adalah ril penggiat literasi yang memang perlu diketahui oleh orang banyak," kata dia.
Selain itu, film dokumenter Halaman Terakhir, selain menghadirkan potret tentang hubungan manusia dengan buku dan toko buku, film ini juga merepresentasikan ruang-ruang literasi yang perlahan menghadapi tantangan perkembangan era digital.
Melalui pendekatan visual dan narasi yang dekat dengan keseharian, film ini mengajak penonton melihat kembali makna buku bukan hanya sebagai benda, tetapi juga sebagai medium pengetahuan, ingatan, dan perlawanan.
Pemutaran film ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang diskusi lintas komunitas, khususnya bagi pegiat literasi, mahasiswa, jurnalis, pekerja kreatif, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan budaya membaca.
Selain pemutaran film, kegiatan juga diisi dengan sesi diskusi bersama Ghompok dan pegiat literasi untuk membahas kondisi literasi saat ini, tantangan keberlangsungan ruang baca, hingga pentingnya menjaga budaya membaca di tengah derasnya arus informasi digital.
Prabu juga mengatakan bahwa Hari Buku Nasional seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali membicarakan akses pengetahuan dan masa depan literasi, khususnya di Palembang.
“Film ini lahir dari kegelisahan kami tentang bagaimana buku perlahan kehilangan ruangnya dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin mengajak publik melihat bahwa membaca masih penting, dan ruang-ruang literasi perlu terus dijaga,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mempertemukan berbagai komunitas dan individu yang memiliki perhatian terhadap literasi serta mendorong lahirnya ruang diskusi yang lebih hidup di Kota Palembang. Salah satunya Palembang Bookparty yang hadir sebagai Komunitas pegiat literasi.
Baca Juga:
Anggota Palembang Bookparty, Vivid mengatakan ruang-ruang baru penting untuk menjaga semangat literasi tetap hidup di masyarakat di tengah akses buku yang tidak begitu inklusif. Seperti yang dilakukan komunitasnya dengan menggelar lapak buku jalanan yang dapat diakses semua orang.
Vivid menambahkan, seharusnya buku tidak mahal dan dapat dijangkau semua orang, agar semua orang bisa membaca. "Kota ini butuh napas baru, kami menyediakan buku-buku yang tidak perlu penyortiran dari pihak perpustakaan, jadi kami sediakan buku yang orang lewat bisa langsung baca,"ujarnya.
Dia juga mengatakan, peran berbagai gerakan literasi juga menjadi sorotan dalam kegiatan ini. Salah satunya datang dari pegiat literasi Kota Palembang yang turut memberikan perspektif mengenai pentingnya menghadirkan ruang baca alternatif di tengah masyarakat.(ril)
9 bulan yang lalu
9 bulan yang lalu