Riset PPMN: Narasi Transisi Energi di TikTok Cenderung Manipulatif

Jumat, 08 Mei 2026 08:27 WIB

Penulis:Nila Ertina

Riset PPMN: Narasi Transisi Energi di TikTok Cenderung Manipulatif
Riset PPMN: Narasi Transisi Energi di TikTok Cenderung Manipulatif (Foto Ist)

JAKARTA, WongKito.co – Riset yang diselenggarakan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) berkolaborasi dengan lembaga riset independen CELIOS, yang meneliti narasi transisi energi yang diangkat di platform media sosial, terutama TikTok menghasilkan kesimpulan mengaburkan kompleksitas isu karena cenderung manipulatif.

Kesimpulan tersebut, muncul dalam diskusi bertema “Mengulik Operasi Informasi dalam Isu Transisi Energi”  di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Diskusi digelar sebagai bagian dari diseminasi hasil riset kolaboratif dari tujuh individu yang mewakili tujuh organisasi, yakni Yayasan Indonesia Cerah, PPMN, CELIOS, Monash University Indonesia, Publish Watch You Pay (PWYP), Merdeka.com, dan Lembaga Pendidikan Internet (LPI).

“Konten-konten (yang beredar di Tiktok) berusaha meningkatkan public awareness, sentimen positif pemerintah, dan amplifikasi narasi baik terhadap program pemerintah,” ungkap Outreach and Advocacy Coordinator Yayasan Indonesia Cerah, Dzatmiati Sari, yang merupakan salah satu anggota tim kolaboratif dan menjadi salah satu pembicara dalam diskusi.

Baca Juga:

Menurut dia konten-konten tersebut disebarluaskan oleh perusahaan-perusahaan tambang, khususnya tambang nikel, para pekerja tambang, akun pejabat pemerintah pusat maupun lokal, influencers, dan beberapa akun AI.

Tim kolaboratif mencoba menelusuri narasi transisi energi yang beredar di platform media sosial, yakni X dan Tiktok, dalam durasi setahun terakhir. Penelusuran spesifik dilakukan untuk narasi hilirisasi nikel dengan menggunakan sejumlah kata kunci dan tagar, diantaranya #nikelberkelanjutan, #nikel bersih, #hilirisasinikel, #anaktambang, dan #nikelchina.

Peneliti CELIOS Shafa Kalila Aryanti, yang menjadi bagian dari tim kolaboratif melihat narasi hilirisasi nikel, selama ini diposisikan sebagai bagian dari transisi energi global. Namun, dalam kenyataannya, posisi Indonesia dalam rantai pasok industri hijau dinilai masih sangat bergantung pada China, baik sebagai tujuan ekspor utama maupun pengendali industri smelter nasional.

Sepanjang 2020–2024, sekitar 70,25% ekspor nikel Indonesia ditujukan ke China, sementara mayoritas produk yang diekspor masih berupa nikel kelas dua seperti feronikel dan nickel pig iron yang lebih banyak digunakan untuk industri baja tahan karat, bukan langsung untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan China disebut telah menguasai sekitar 75% kapasitas smelting nasional dan membangun ekosistem industri nikel yang terintegrasi dari hulu hingga pengolahan bahan baku baterai di Indonesia.

Shafa juga menyoroti praktik trade misinvoicing di sektor nikel, khususnya export under-invoicing yang menyebabkan nilai ekspor tercatat lebih rendah dari transaksi sebenarnya. “Ketika nilai perdagangan tidak dilaporkan secara akurat, potensi penerimaan negara dari pajak, royalti, dan bea ikut berkurang. Dampaknya, kapasitas negara untuk melakukan pengawasan industri dan mitigasi dampak lingkungan juga semakin melemah,” ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa ekspansi industri nikel tidak hanya memunculkan ketergantungan ekonomi, tetapi juga memperbesar risiko sosial dan lingkungan yang pada akhirnya ditanggung masyarakat di sekitar kawasan industri.

Menanggapi temuan ini, peneliti dan dosen senior dari Monash University Indonesia Ika Idris, menyebut bahwa manipulasi informasi memang bisa merujuk pada operasi informasi. Namun guna menyimpulkan seberapa jauh sebuah narasi manipulatif bisa ditengarai sebagai operasi informasi membutuhkan kehati-hatian dan perlu waktu penelitian yang lebih panjang.

Menurutnya, analisis yang cermat terhadap operasi pengaruh membutuhkan waktu. Data digital dapat menunjukkan adanya koordinasi, amplifikasi, pengulangan, waktu pelaksanaan, tagar yang sama, perilaku mirip bot, atau konvergensi narasi, tetapi hal-hal ini biasanya hanya indikator, bukan bukti pasti adanya sebuah “operasi.”

“Untuk membuktikan adanya suatu operasi, biasanya diperlukan triangulasi: pemetaan aktor, jejak pendanaan, hubungan organisasi, wawancara, dokumen bocor, pengamatan lapangan, atau bukti di tingkat platform,” jelas Ika.

Ia menekankan bahwa operasi informasi jarang berhasil hanya melalui amplifikasi digital. Inilah mengapa narasi asing dan domestik sering berjejalin. “Aktor asing mungkin memperkuat ketegangan domestik yang sudah ada, sementara aktor domestik mungkin secara selektif mengadopsi narasi eksternal untuk melegitimasi agenda lokal,” tambahnya.

Baca Juga:

Namun terkait narasi transisi energi maupun narasi hilirisasi nikel, Ika setuju bahwa ada perbedaan antara narasi yang berkembang di platform X dan platform Tiktok. Platform X lebih cenderung menyuarakan narasi soal kerusakan lingkungan dan dampak buruk yang diakibatkan oleh industri nikel, sementara platfom Tiktok didominasi oleh narasi tentang potensi manfaat ekonomi dari industri nikel. Penelusuran tim kolaboratif terhadap puluhan ribu posting di platform X dan ratusan posting di platform Tiktok juga menunjukkan perbedaan ini.

Diskusi yang digelar PPMN bekerja sama dengan CELIOS ini merupakan bagian dari inisiatif penguatan narasi publik transisi energi berkeadilan, dan bertujuan menyediakan pemetaan strategis terhadap dinamika operasi informasi yang berpotensi menghambat terbentuknya ruang diskursus publik yang kritis, inklusif, dan berbasis keadilan sosial-ekologis.(ril)