BucuKito
BSI Kelola Sampah Berbasis Edukasi dan Perberdayaan Masyarakat
PALEMBANG, WongKito.co — Sampah di Kota Palembang hingga kini masih menjadi isu dalam penanganannya. Sementara volume sampah rumah tangga, di kota Pempek terus meningkat sehingga butuh pengelolaan khusus agar tidak menimbulkan masalah lingkungan.
Bank Sampah Indonesia (BSI) hadir sebagai salah satu lembaga yang fokus dalam pengelolaan sampah berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat, sejak tahun 2023, di Jalan Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami Kota Palembang, Sumatera Selatan beroperasi bank sampah yang diinisiasi Hanardono dan rekan-rekannya.
Direktur Bank Sampah Indonesia, Hanardono menjelaskan program yang dilakukan meliputi pendampingan masyarakat, sosialisasi, edukasi pengolahan limbah barang bekas, konsultasi pengelolaan sampah, hingga penyediaan sarana penunjang pengolahan limbah rumah tangga.
"Kami tidak hanya fokus pada pengumpulan sampah semata, tetapi juga berupaya membangun kesadaran masyarakat agar melihat sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat apabila dikelola dengan baik," kata dia ditemui, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga:
- Pascaiduladha: Pasar Tradisional Palembang belum Normal
- Semangat Idul Adha, BRI Region 4 Palembang Bagikan 45 Kurban di 3 Wilayah
- Sidang Praperadilan UU ITE Ditolak, Korban KS Harus Tetap Dikawal
Sampah domestik, seperti plastik, kardus, botol bekas, minyak jelantah, hingga limbah organik dimanfaatkan kembali menjadi produk yang lebih bernilai guna.
Dalam menjalankan programnya, Bank Sampah Indonesia menawarkan solusi pengelolaan limbah bagi berbagai kawasan penghasil sampah, mulai dari perusahaan, hotel, rumah sakit, kawasan perbankan, perkantoran hingga pemukiman warga. Selain itu, lembaga ini juga berperan sebagai koordinator bagi seluruh bank sampah unit yang ada di Kota Palembang.
Seiring berkembangnya program dan jaringan kerja sama yang dibangun, Hanardono mengungkapkan lembaga ini kemudian bertransformasi menjadi Bank Sampah Indonesia pada tahun 2024 dengan cakupan kegiatan yang lebih luas. Transformasi tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi di tingkat nasional.
Dia mengatakan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, komunitas lingkungan, dan perusahaan agar permasalahan sampah dapat ditangani secara maksimal.
“Kami bermitra dengan pemerintah, perusahaan daur ulang, dan berbagai perkumpulan berbasis lingkungan di seluruh Indonesia yang menawarkan solusi terhadap permasalahan lingkungan. Jadi kami tidak bekerja sendiri, tetapi membangun gerakan bersama agar persoalan sampah ini bisa teratasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, target utama yang ingin dicapai adalah bagaimana minimal 50 persen dari total sampah yang ada dapat dikelola dengan baik dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Menurutnya, jika pengelolaan sampah dilakukan secara terstruktur, maka sampah yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah itu sebenarnya punya nilai. Kalau dipilah dan dikelola dengan baik, hasilnya bisa dimanfaatkan kembali bahkan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam pengelolaan sampah, Bank Sampah Indonesia juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar. Salah satunya adalah PT Indofood Noodle TAA Sumatera Selatan yang turut mendukung kegiatan pengelolaan limbah dan pengurangan sampah domestik.
Sementara itu, Manager Area Sumsel Bank Sampah Indonesia, Muhammad Yusron Nurwijaya menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama yang masih dihadapi saat ini adalah keterbatasan armada pengangkutan sampah. Menurutnya, pengelolaan sampah membutuhkan sistem distribusi dan pengangkutan yang terjadwal agar proses pengolahan dapat berjalan dengan baik.
“Kendalanya paling dipengangkutan saja. Kami masih kekurangan armada untuk mengangkut sampah tersebut. Jadi pengangkutannya harus memiliki jadwal sendiri dan tidak bisa mendadak,” katanya.
Ia menambahkan, lokasi Bank Sampah Indonesia di Palembang saat ini masih berfungsi sebagai tempat transit pengumpulan sampah sebelum nantinya dikirim ke lokasi pengolahan utama yang memiliki kapasitas lebih besar.
“Kalau yang di sini hanya transit saja. Yang paling besar itu ada di Jalur, tepatnya di kawasan Gasing setelah Jembatan 3. Di sana ada pemupukan kompos, pengolahan sampah MBG, dan juga minyak jelantah,” jelasnya.
Di lokasi pengolahan tersebut, berbagai jenis sampah diproses sesuai kategorinya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara limbah minyak jelantah dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali. Pengelolaan ini dilakukan sebagai upaya mengurangi jumlah limbah yang mencemari lingkungan sekaligus meningkatkan nilai guna dari sampah domestik.
Selain fokus pada persoalan lingkungan, Bank Sampah Indonesia juga memberikan perhatian besar terhadap pemberdayaan generasi muda. Melalui program volunteer, lembaga ini membuka peluang bagi anak-anak muda yang ingin belajar langsung mengenai pengelolaan sampah, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Hanardono mengatakan, pihaknya ingin menciptakan generasi muda yang peduli lingkungan dan memiliki kemampuan dalam mengembangkan program pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
“Kami membuka peluang untuk anak-anak muda yang ingin menjadi volunteer di bank sampah ini. Di sini nantinya akan kami kuliahkan, mendapatkan uang saku, juga tempat tinggal bagi mereka yang benar-benar serius belajar dan mengembangkan Bank Sampah Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga:
- IHSG pada Penutupan Hari Ini Hampir Tergelincir ke Level 5.900
- Bersama Akademisi Bahas Dampak Tambang dan PLTU Batu Bara
- Siap-Siap Saksikan Tari Menteng di Lawang Borotan Palembang
Program tersebut menjadi salah satu bentuk investasi sosial yang dilakukan Bank Sampah Indonesia dalam menciptakan sumber daya manusia yang peduli terhadap lingkungan. Para volunteer nantinya tidak hanya belajar mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga diberikan pengalaman dalam kegiatan sosial, edukasi masyarakat, hingga pengembangan program lingkungan berbasis komunitas.
Keberadaan Bank Sampah Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pembangunan sosial masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat, persoalan sampah yang selama ini menjadi ancaman lingkungan diharapkan dapat perlahan teratasi.
Dia menegaskan dengan gerakan pengelolaan sampah yang terus dikembangkan, Bank Sampah Indonesia optimistis dapat membangun budaya baru di tengah masyarakat, yakni budaya memilah, mengelola, dan memanfaatkan sampah secara bertanggung jawab demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.(Magang/Luthfiah Revalina)

