KabarKito
Siap-Siap Saksikan Tari Menteng di Lawang Borotan Palembang
PALEMBANG, WongKito.co - Pertunjukan tari berjudul “Perang Menteng”, yang akan digelar, Minggu malam (24/5/2026) di Lawang Borotan, Gerbang Barat Benteng Kuto Besak, Palembang. Kegiatan tersebut, menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali perjuangan masyarakat Palembang pada masa lampau.
Tari Perang Menteng, Darah Juang di Sungai Musi merupakan karya Salwa Pratiwi yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiaraya dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Tahun 2025.
Karya ini terinspirasi dari sejarah perjuangan masyarakat Palembang yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II dalam menghadapi kolonial Belanda, khususnya pada peristiwa Perang Menteng atau Perang Palembang yang terjadi pada 12 Juni 1819 di Sungai Musi. Dalam peperangan tersebut, armada Kesultanan Palembang berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang dipimpin Herman Warner Muntinghe. Kemenangan itu diabadikan dalam sebuah karya sastra berupa syair.
Baca Juga:
- Sambut Iduladha, Harga Buncis Capai Rp35.000/Kg
- Bersama Akademisi Bahas Dampak Tambang dan PLTU Batu Bara
- Jelang Idul Adha Pertamina Sumbagsel Pastikan Kesiapan Distribusi Energi
Salwa Pratiwi, menjelaskan karya tari “Perang Menteng” lahir dari keprihatinan atas minimnya pemahaman generasi muda, khususnya di Sumatera Selatan, terhadap sejarah perjuangan masyarakat Palembang di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Selain itu, belum banyak karya seni pertunjukan yang secara khusus mengangkat kisah para pejuang di Sumatera Selatan sebagai inspirasi nasionalisme dan kecintaan terhadap sejarah di Sumatera Selatan. Selain itu, karya tari ini dharapkan dapat menjadi media edukasi sejarah yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Saya ingin menghadirkan sejarah tidak hanya melalui buku atau ruang kelas, tetapi juga melalui bahasa seni yang lebih hidup dan menyentuh emosi. Tari ‘Perang Menteng’ menjadi bentuk penghormatan atas perjuangan masyarakat Palembang dan Sultan Mahmud Badaruddin II sekaligus upaya menumbuhkan kembali semangat nasionalisme generasi muda di Sumatera Selatan,” ujar Salwa Pratiwi, Kamis (21/5/2026).
Ia juga menambahkan bahwa karya tari ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah dan budaya daerah.
“Proses penciptaan karya ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari budayawan, sejarawan, akademisi, penari, penata musik, penata busana, hingga pelaksana pemerintahan bidang kebudayaan,” ujarnya.
Adapun sasaran kegiatan ini meliputi pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, pekerja seni, budayawan, sejarawan, akademisi, serta pemangku kepentingan bidang kebudayaan.
Baca Juga:
- Lapak Hewan Kurban Marak, Jual Kambing Etawa hingga Sapi Limosin
- Semangat Baru Budaya Sumatera Selatan di Festival Sriwijaya Tahun 2026
- Pasar Temenggung: Sentra Ikan Giling Tenggiri di Palembang
Melalui pendekatan seni pertunjukan, karya tari “Perang Menteng” diharapkan mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme dan memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarah perjuangan para pahlawan di Sumatera Selatan yang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia.
Selain melahirkan satu karya tari dan pertunjukan, program ini juga akan menghasilkan film dokumenter yang berisi proses pengkaryaan hingga karya tari ini dipertunjukan sebagai bagian dari upaya pendokumentasian dan pengembangan pembelajaran budaya secara berkelanjutan.
Pertunjukan tari “Perang Menteng” terbuka untuk masyarakat umum dan diharapkan menjadi momentum penting dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme khususnya di generasi muda di Sumatera Selatan.(ril)

